Cari

Persaudaraan Imam Santo Pius X menahbiskan empat uskup baru di Swiss Persaudaraan Imam Santo Pius X menahbiskan empat uskup baru di Swiss  (ANSA)

Luka akibat sebuah perpecahan

Direktur Editorial Vatican News merefleksikan tindakan skismatik yang dilakukan oleh Persaudaraan Imam Santo Pius X serta ekskomunikasi latae sententiae yang menyusul setelahnya.

Oleh Andrea Tornielli

Pada hari yang menyedihkan ini, ketika dekrit yang menyatakan ekskomunikasi otomatis (latae sententiae) diumumkan—yang berlaku tepat pada saat penumpangan tangan dilakukan oleh dua uskup Lefebvris, de Galarreta dan Fellay, bersama empat uskup yang baru ditahbiskan—banyak pihak dengan tepat menyoroti kontradiksi nyata dalam sikap Persaudaraan Imam Santo Pius X.

Melalui kata-kata dan pernyataan resminya, persaudaraan tersebut menyatakan mengakui legitimasi dan otoritas Penerus Santo Petrus, Paus Leo XIV; menyatakan mengasihinya serta mendoakannya.

Namun dalam tindakannya—dan tindakan selalu lebih bermakna daripada kata-kata—mereka sama sekali mengabaikan kehendak Paus yang telah dinyatakan dengan jelas, berbagai seruannya yang berulang kali, serta permintaannya agar tidak melaksanakan penahbisan uskup yang bersifat skismatik tanpa mandat kepausan; atau lebih tepatnya, penahbisan skismatik yang secara tegas telah dilarang oleh Paus.

"Bagaimana seharusnya Paus dikasihi? Non verbo neque linguabukan dengan kata-kata atau lidahsed opere et veritatemelainkan dengan perbuatan dan kebenaran.... Untuk menunjukkan kasih kepada Paus, kita harus menaatinya. Karena itu, jika seseorang mengasihi Paus, ia tidak memperdebatkan apa yang diperintahkannya atau dituntutnya, sejauh mana ketaatan harus diberikan, ataupun dalam hal apa seseorang harus taat."

Sebagian orang juga menyoroti paradoks kaum tradisionalis yang menganggap ritus liturgi tidak boleh diubah sedikit pun, tetapi justru menciptakan cara untuk menggantikan unsur yang hakiki dalam setiap tahbisan uskup Katolik, yakni mandat dari Paus.

Namun persoalan yang sesungguhnya terletak di tempat lain. Hal itu sama sekali tidak berkaitan dengan Misa menurut ritus sebelum Konsili Vatikan II—yang keliru disebut sebagai "Misa Latin"—karena umat beriman yang terikat pada bentuk liturgi tersebut tetap diperkenankan merayakannya dalam persekutuan penuh dengan Penerus Santo Petrus.



Pertanyaan mendasar yang sesungguhnya adalah apa yang dimaksud dengan Tradisi, dan terutama siapa yang bertugas menjaganya, sembari memungkinkan pemahaman kita tentang Tradisi terus berkembang di bawah bimbingan Roh Kudus.

Jika Tradisi dibekukan menjadi sebuah sistem ideologis; jika orang-orang mengambil alih hak untuk menghakimi sebuah Konsili yang dipimpin oleh dua Paus kudus, diikuti oleh tiga ribu uskup dari seluruh dunia, dan menghasilkan dokumen-dokumen yang disetujui hampir secara bulat; jika mereka menuntut agar Penerus Santo Petrus dan seluruh Gereja Katolik menerima serta menjadikan gagasan teologis dari satu kelompok tertentu sebagai milik bersama Gereja, maka terdapat kontradiksi yang sangat mendasar.

Lebih dari itu, sikap tersebut sangat jauh dari iman Katolik, yang rahasianya—sebagaimana dijelaskan oleh penulis besar Vittorio Messori, yang wafat pada Jumat Agung lalu dan selama bertahun-tahun mengupayakan kembalinya Persaudaraan Imam Santo Pius X ke dalam persekutuan penuh—adalah dan tetap merupakan prinsip "baik yang satu maupun yang lain", bukan "yang satu atau yang lain."

Karena itu, di dalam Gereja ada tempat bagi umat beriman yang mencintai liturgi kuno; ada pula ruang untuk berdiskusi, membaca kembali dokumen-dokumen Gereja, serta menafsirkannya.

Namun, tidak ada tempat untuk menghakimi Paus dan tidak menaatinya dengan melakukan tindakan-tindakan yang merobek kesatuan Tubuh Mistik Kristus, yakni Gereja.

Demikian pula, tidak ada tempat untuk membentuk hierarki tandingan yang bertentangan dengan larangan tegas dari Dia yang kepada-Nya Yesus berkata: "Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku."

02 Jul 2026, 12:20