Saat Doa Angelus, Paus: Kristus Sungguh Memuaskan Lapar Umat Manusia
Oleh Deborah Castellano Lubov
Kristus sungguh memuaskan lapar umat manusia. Demikian ditegaskan Paus Leo XIV kepada umat beriman dalam doa Angelus siang hari pada Minggu.
Merefleksikan bacaan Injil hari itu menurut Santo Matius tentang mukjizat penggandaan roti dan ikan, Paus menegaskan bahwa Yesus tidak hanya memulihkan indra mereka yang kehilangan kemampuan melihat atau mendengar, tetapi juga memberi santapan bagi umat manusia melalui anugerah-Nya yang berlimpah.
Dalam perikop Injil tersebut, Santo Matius mengisahkan bagaimana Yesus, yang tergerak oleh belas kasih kepada orang banyak, secara ajaib memberi makan lebih dari lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ekor ikan.
Paus mengingatkan bahwa Yesus melakukan berbagai tanda, yakni tindakan yang mengungkapkan kasih-Nya yang istimewa kepada manusia sekaligus keselamatan yang dibawa-Nya ke dunia, termasuk memulihkan penglihatan orang buta dan pendengaran orang tuli.
Menurut Paus, melalui semua itu Kristus tidak sekadar melakukan mukjizat, melainkan mewartakan kepada semua orang bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.
BACA TEKS PAUS PADA SAAT ANGELUS
Perjumpaan dengan Tuhan adalah pengalaman yang mengenyangkan
Paus mengingatkan umat bahwa kisah penggandaan roti bukan sekadar menunjukkan Yesus memberi makan mereka yang lapar, tetapi juga mengungkapkan bahwa perjumpaan dengan Tuhan sendiri merupakan pengalaman yang memberi kepenuhan.
Mengacu pada peristiwa ketika semua orang makan hingga kenyang dan masih tersisa dua belas bakul penuh, Bapa Suci menegaskan bahwa bersama Kristus segala kebutuhan manusia dipenuhi dengan berlimpah.
Menegaskan bahwa penyelenggaraan Allah bagi umat-Nya tidak pernah gagal, Paus kembali mengulangi bahwa "Kristus sungguh memuaskan lapar umat manusia, lapar akan kebenaran dan kehidupan."
"Penyakit rohani" berupa keserakahan
Paus Leo XIV juga memperingatkan bahaya keserakahan yang kerap tampak dalam sikap menimbun dan memboroskan.
"Penyakit rohani ini," katanya, "membuat indra manusia menjadi tumpul dan mabuk oleh kekayaan, sampai-sampai melupakan mereka yang menangis karena kelaparan dan berseru karena kehausan."
"Menghadapi padang gurun perang dan keangkuhan," lanjut Paus, "marilah kita merenungkan bagaimana Tuhan memandang ke surga dengan penuh kasih, memberkati, memecah-mecahkan roti, lalu memberikannya kepada para murid agar mereka membagikannya kepada orang banyak."
Bertumbuh dalam kasih melalui rahmat Ekaristi
Dalam mukjizat kasih itu, Paus mengatakan bahwa umat dapat mengenali tindakan khas Yesus yang mencapai puncaknya pada Perjamuan Terakhir, ketika Tuhan menyerahkan hidup-Nya sendiri bagi manusia sebagai saudara.
Karena itu, Paus Leo XIV mengajak umat beriman agar, ketika menikmati rahmat Ekaristi, mereka juga menjadi saksi keindahannya melalui tindakan nyata setiap hari, dimulai dengan memberkati makanan yang disantap bersama keluarga dan sahabat.
Menurutnya, bersama Yesus bahkan masa liburan dapat menjadi kesempatan membangun persaudaraan yang damai apabila setiap orang mau menjangkau sesama yang berkekurangan.
Mengakhiri pesannya, Paus Leo XIV memohon kepada Perawan Maria, Bunda yang penuh kasih, agar membantu umat bertumbuh dalam kasih sehingga tidak seorang pun kekurangan "roti sehari-hari".
