Paus dalam Angelus: Janganlah kita bersembunyi di balik keyakinan sendiri, tetapi terbukalah kepada Kristus
Oleh Isabella H. de Carvalho
Untuk mengubah hidup kita dan dunia, kita harus membangun hubungan pribadi dengan Yesus dan memperbaruinya setiap hari, demikian kata Paus Leo XIV dalam pesan Angelusnya pada Minggu, 23 Agustus, di Lapangan Santo Petrus.
“Marilah kita berusaha untuk tidak bersembunyi di balik keyakinan dan kepastian keagamaan kita sendiri, tetapi tetap terbuka terhadap hubungan yang autentik dengan Kristus,” tegasnya kepada banyak orang yang berkumpul di lapangan yang bermandikan sinar matahari itu.
“Kadang-kadang, dalam hal iman Kristiani, kita mungkin merasa cukup dengan apa yang sekadar kita ‘dengar’, dengan anggapan-anggapan umum atau dengan apa yang telah diwariskan kepada kita, barangkali bahkan dengan niat yang terbaik,” katanya.
“Namun, Yesus memanggil kita untuk memberikan jawaban pribadi, mengenal-Nya lebih dekat, dan membiarkan diri kita dibentuk oleh persahabatan dengan-Nya melalui perjumpaan yang senantiasa baru.”
Mengatasi godaan untuk merasa bahwa kita sudah mengetahui segalanya
Paus Leo XIV merenungkan Injil hari Minggu ini, yang diambil dari Injil Matius, ketika Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?”
Paus menekankan bahwa “ini adalah pertanyaan mendasar bagi para murid di setiap zaman, dan bagi setiap orang di antara kita,” karena iman merupakan sebuah proses di mana kita perlu terus-menerus menemukan kembali Injil Kristus, agar kita dapat “memperbarui pilihan-pilihan yang kita buat dalam hidup, sehingga semuanya selaras dengan apa yang kita imani.”
“Dengan cara ini, kita dapat mengatasi godaan untuk berpikir bahwa kita sudah mengetahui segalanya dan mereduksi iman menjadi sekadar kebiasaan,” tegas Paus.
Menempuh jalan-jalan baru dan belum dikenal, secara pribadi maupun dalam Gereja
Memperbarui persahabatan kita dengan Kristus setiap hari “juga dapat menuntut kita untuk menempuh jalan-jalan yang belum dikenal dan membuat pilihan yang berbeda dari yang pernah kita bayangkan,” jelas Paus. Ia mencatat bahwa “hal ini berlaku baik bagi perjalanan pribadi kita maupun perjalanan Gereja” serta bagi “pilihan-pilihan pastoral” kita.
Ia memperingatkan terhadap godaan untuk berpikir “bahwa cukup dengan terus melakukan segala sesuatu seperti yang selalu kita lakukan,” dan mendorong kita untuk mengajukan serangkaian pertanyaan kepada diri sendiri:
“Siapakah Tuhan bagi saya? Apakah saya sungguh mengenal-Nya? Apa yang diminta Injil-Nya dari saya hari ini? Langkah-langkah dan pilihan-pilihan apa yang dipanggil untuk saya ambil?”
Menemukan Kristus yang membawa kasih dalam kehidupan sehari-hari
Paus menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan mengenai siapa Yesus bagi kita dan apa arti-Nya dalam hidup kita, “muncul terutama dalam doa dan ketika kita merenungkan Injil.”
Namun, Paus melanjutkan, pertanyaan-pertanyaan itu juga muncul “ketika kita menjumpai luka-luka dan kebutuhan saudara-saudari kita, serta dalam relasi dan situasi yang paling mendalam menggugah suara hati kita.”
