Saat Doa Angelus, Paus: Allah Sediakan Meja Perjamuan bagi Semua Orang
Oleh Vatican News
Berbicara kepada para peziarah yang berkumpul di Castel Gandolfo untuk doa Angelus pada Minggu, Paus Leo merenungkan kisah Injil tentang seorang perempuan asing yang datang memohon pertolongan Yesus bagi putrinya yang sedang menderita.
Ia mengawali refleksinya dengan mengingat Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga yang dirayakan sehari sebelumnya. Pada perayaan tersebut, Gereja merenungkan ikatan Maria yang tak terputus dengan Putranya—sebuah persatuan jiwa dan raga yang bahkan tidak dapat dipisahkan oleh kematian.
Setiap hari Minggu, jelas Paus Leo, mengingatkan umat Kristiani bahwa kepenuhan hidup yang sama juga dijanjikan kepada mereka yang mengikuti Yesus.
Kebangkitan Kristus, tegasnya, “bukanlah peristiwa masa lalu, melainkan kehidupan baru yang menarik kita ke dalamnya.”
Iman yang Telah Berakar
Meskipun perempuan Kanaan tersebut bukan bagian dari bangsa Yesus dan tinggal di negeri asing, ia terus berusaha berbicara dengan-Nya.
Menurut Paus, ia mengikuti Yesus seperti seorang murid yang telah memiliki hubungan dengan-Nya. Meskipun kemungkinan besar mereka belum pernah bertemu sebelumnya, iman secara misterius telah berakar di dalam dirinya.
Perempuan itu tidak meminta sesuatu untuk dirinya sendiri.
Sebaliknya, ia memohon kedamaian dan kesembuhan bagi putrinya yang sedang menderita. Ia menaruh kepercayaannya kepada Yesus dan mengakui-Nya sebagai Mesias dan keturunan Daud.
Mengatasi Rintangan
Injil tidak menyembunyikan berbagai rintangan yang harus dihadapi perempuan tersebut.
Para murid menganggapnya sebagai gangguan, sementara Yesus sendiri pada awalnya tidak segera mengabulkan permohonannya.
Namun, sesuatu yang tidak terduga kemudian terjadi.
Paus Leo menjelaskan bahwa Yesus, dalam kesetiaan pada misi-Nya, membiarkan diri-Nya digerakkan oleh apa yang Ia lihat dan dengar.
Pada akhirnya, Ia berkata kepadanya:
“Hai ibu, sungguh besar imanmu! Terjadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.”
Terkejut oleh Karya Allah
Menurut Paus, perjumpaan tersebut juga memberikan pelajaran penting bagi Gereja dewasa ini. Gereja, jelasnya, harus membiarkan dirinya “dikejutkan oleh karya Allah” dan menyebarkan damai Kristus melampaui batas-batas yang telah mapan.
Rahmat ilahi sering kali mendahului misi Gereja dan bekerja dalam kedalaman hati nurani manusia.
Karena itu, setiap perjumpaan—termasuk perjumpaan yang mengganggu rencana yang telah dibuat—menuntut umat Kristiani untuk mendengarkan dengan penuh perhatian serta membuka mata dan hati terhadap apa yang hendak disampaikan Allah.
Tak Seorang Pun Hanya Mendapat Remah-remah
Dari perempuan Kanaan, lanjut Paus Leo, umat Kristiani belajar tentang kerendahan hati sekaligus keteguhan hati.
Imannya mengajarkan bahwa “meja perjamuan Allah disediakan bagi semua orang” dan tidak seorang pun boleh hanya mendapatkan remah-remah, sebab setiap orang memiliki tempat di hadapan Bapa.
Dalam terang iman tersebut, kata Paus, ketimpangan, diskriminasi, dan berbagai penghalang yang menginjak-injak martabat anak-anak Allah menjadi sesuatu yang tidak dapat ditoleransi.
Mengakhiri refleksinya, Paus Leo menggambarkan Gereja sebagai Gereja Yesus Kristus yang hidup “di tengah dunia yang diliputi persoalan dan mencari perdamaian.”
Ia mengajak umat beriman memohon perantaraan Maria, seraya mengingat bahwa Magnificat merupakan “madah terkuat dan paling inovatif yang pernah diungkapkan.”
Menurut Paus, Magnificat merupakan nyanyian seseorang yang melihat kenyataan dengan mata Allah dan, karena itu, tidak pernah kehilangan harapan, tetapi bertindak dalam kasih.
