Paus saat Angelus: Di Tengah Derita Perang, Kristus adalah Harapan
Oleh Isabella H. de Carvalho
“Dalam perbudakan, Kristus adalah pembebasan. Di tengah derita perang, Kristus adalah harapan. Pada saat dosa menguasai, Kristus adalah pengampunan,” tegas Paus.
“Inilah kebijaksanaan sejati dan jalan yang ingin kita tempuh bersama, bersatu sebagai murid-murid dalam nama-Nya. Yesus mengajarkan hal ini kepada kita sebagai Putra, dengan menjadi saudara kita. Melalui kuasa Roh Kudus, Ia menyatakan kepada Gereja kebenaran tentang Allah dan tentang manusia.”
Baca Pidato Paus Leo XIV pada Angelus
Yesus Memikul Kemanusiaan yang Terluka oleh Kejahatan
Paus Leo menyoroti bahwa beban salib yang kita pikul dapat menjadi “ringan” dan “mudah”, hanya karena “Tuhan sendiri memikulnya bersama kita, tidak pernah meninggalkan kita sendirian dalam apa yang membebani kita.”
“Sebagai Guru yang sejati, Yesus memikul kemanusiaan yang terluka oleh kejahatan untuk menyembuhkan dan merawatnya,” tegas Paus.
Ia juga menjelaskan bahwa justru melalui pemahaman akan makna salib, kita dapat menemukan harapan dan penghiburan.
Kebijaksanaan yang kita peroleh dari Kristus adalah “pewartaan keselamatan” dan “kuk-Nya mengangkat kita dari setiap kejatuhan,” kata Paus, sambil mengutip Injil hari itu dari Matius 11:25-30 yang menjadi dasar refleksinya.
“Karena itu, perjalanan kita mengikuti Kristus bukanlah asketisme yang mematikan. Sebaliknya, perjalanan ini adalah sekolah kebebasan yang menanggapi secara serius drama sejarah dan terus-menerus menerangi maknanya, terutama pada saat-saat yang paling gelap.”
Karena itu, “hanya dalam salib Yesus kejahatan dapat dikalahkan; hanya dalam sengsara-Nya keletihan manusiawi kita menemukan penghiburan dan penebusan,” tegas Paus.
Ajaran Allah Ditujukan kepada Semua yang Bergumul
Namun demikian, Paus juga menekankan bahwa kerendahan hati merupakan unsur penting untuk memahami kasih Kristus.
Dalam Injil hari itu, “Yesus mengundang kita untuk bergabung dengan-Nya memuji Bapa,” jelas Paus Leo, seraya menambahkan bahwa “kesederhanaan dari tindakan yang spontan dan penuh sukacita itu” mencerminkan bagaimana Allah “berkenan menyatakan diri-Nya kepada anak-anak kecil”, sementara tetap tersembunyi “dari orang-orang bijak dan pandai.”
“Mereka begitu dipenuhi oleh gagasan-gagasan mereka sendiri sehingga gagal mengenali kehadiran Kristus, Mesias yang datang mengunjungi umat-Nya,” ujar Paus. “Kebijaksanaan manusia dengan demikian berubah menjadi kesombongan, dan ajaran merosot menjadi keangkuhan.”
“Sebaliknya, kebijaksanaan sejati Allah dinyatakan dalam kerendahan hati Inkarnasi, dan ajaran-Nya terutama ditujukan kepada mereka yang bergumul: ‘Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat’,” lanjut Paus.
Ia menegaskan bahwa “datang kepada Yesus berarti menanggapi kasih-Nya dan mengambil bagian dalam hidup-Nya, bahkan sampai pada salib.”
“Penyerahan diri karena kasih inilah yang menjadi ‘kuk’ Yesus, yang merupakan hakikat ajaran-Nya dan inti kebijaksanaan-Nya yang menyala-nyala oleh kasih bagi semua orang,” kata Paus.
