Lebih dari 140 Orang Hilang Setelah Perahu Pengangkut Migran Terdampar di Lepas Pantai Mauritania
Oleh Francesca Merlo
Sedikitnya 143 pengungsi dan migran tewas atau dinyatakan hilang setelah sebuah perahu yang berupaya mencapai Eropa terdampar di lepas pantai Mauritania, menurut Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR).
Perahu tersebut berangkat dari Bafuloto, di Gambia, dan berhasil diselamatkan pada 18 Juli setelah terombang-ambing di laut selama 25 hari. Perahu itu kemudian tiba di pelabuhan Nouadhibou, Mauritania, dengan membawa 38 orang yang selamat serta jenazah beberapa penumpang yang meninggal selama pelayaran.
Di antara para penyintas terdapat dua anak yang kehilangan seluruh anggota keluarganya dalam perjalanan tersebut dan kini sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Hal itu disampaikan juru bicara UNHCR, Matt Saltmarsh, kepada para wartawan di Jenewa.
Penjaga Pantai Mauritania menyatakan bahwa kapal tersebut meninggalkan Gambia dengan membawa 160 orang sebelum akhirnya kehabisan bahan bakar. Menurut otoritas tersebut, jumlah orang yang masih hilang mencapai 122 orang.
Menurut UNHCR, para korban berasal dari berbagai negara di kawasan Afrika Sub-Sahara.
Hingga kini belum ada rincian lebih lanjut mengenai penyebab kematian mereka.
Ratusan Orang Berhasil Diselamatkan
Tragedi ini terjadi meskipun antara 14 hingga 18 Juli telah dilakukan tiga operasi penyelamatan terpisah di lepas pantai Mauritania yang berhasil menyelamatkan 387 orang dari kapal-kapal lain yang mengalami kesulitan di laut.
Satu orang dilaporkan meninggal di atas kapal lain yang mendarat di Mauritania pada 14 Juli.
UNHCR menyebut rute Atlantik menuju Kepulauan Canary, Spanyol, sebagai "salah satu jalur migrasi paling mematikan di dunia". Mereka yang menempuh perjalanan tersebut harus menghadapi pelayaran jarak jauh menggunakan kapal-kapal yang penuh sesak dan sering kali tidak laik laut.
Lembaga tersebut menyerukan agar akses terhadap pendidikan dan lapangan pekerjaan di negara-negara asal maupun negara transit diperluas sehingga masyarakat memiliki alternatif yang layak selain menempuh penyeberangan laut yang berbahaya.
Mauritania tetap menjadi salah satu titik keberangkatan utama di sepanjang rute Atlantik yang setiap tahunnya dilalui puluhan ribu orang yang berharap dapat mencapai Kepulauan Canary.
Meskipun jumlah kedatangan telah menurun seiring diperketatnya pengawasan perbatasan yang didukung Uni Eropa, titik-titik keberangkatan kini semakin bergeser ke wilayah yang lebih jauh di selatan. Perubahan ini membuat perjalanan yang sebelumnya sudah berbahaya menjadi semakin panjang dan berpotensi menelan lebih banyak korban jiwa.
Seruan Paus Leo untuk Belas Kasih
Tragedi terbaru ini terjadi kurang dari tiga minggu setelah Paus Leo mengunjungi Pulau Lampedusa, Italia, salah satu titik kedatangan utama bagi para migran yang menyeberangi Laut Mediterania.
Dalam kunjungan pastoralnya pada 4 Juli, Paus berdoa di kompleks pemakaman tempat para migran yang meninggal di laut dimakamkan, berhenti di monumen "Gateway to Europe", dan bertemu dengan para migran di Dermaga Favaloro.
Saat memimpin Perayaan Ekaristi, Paus mengecam perlakuan tidak manusiawi yang dialami para migran dan pengungsi serta mendesak komunitas internasional untuk memberikan tanggapan yang nyata dan penuh belas kasih terhadap "besarnya penderitaan" yang mereka alami.
Paus juga berulang kali menegaskan bahwa para migran tidak boleh dipandang sebagai sekadar angka atau masalah yang harus diselesaikan, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang martabat, kisah hidup, dan hak-hak dasarnya harus dihormati.