Paus di Lampedusa: Menghadapi Penderitaan yang Begitu Besar, Kita Harus Memberikan Jawaban yang Radikal
Oleh Deborah Castellano Lubov
LAMPEDUSA – Paus Leo XIV melakukan kunjungan pastoral ke Pulau Lampedusa, Italia bagian selatan, pada 4 Juli 2026. Kunjungan ini ditandai dengan sejumlah gestur simbolis yang kuat untuk menyoroti penderitaan para migran dan pengungsi.
Setibanya di pulau Mediterania itu pada pukul 08.54 waktu setempat, Paus Leo XIV menyampaikan kedekatan dan solidaritasnya kepada warga Lampedusa, para migran yang pernah melewati pulau tersebut, serta mereka yang tidak pernah berhasil menyelesaikan perjalanan mereka.
Lampedusa memiliki makna khusus dalam sejarah Gereja karena merupakan tujuan perjalanan pertama Paus Fransiskus di luar Roma setelah terpilih menjadi Paus pada tahun 2013.
Mengunjungi Pemakaman dan Gerbang Harapan
Agenda pertama Paus adalah mengunjungi pemakaman setempat yang memiliki area khusus bagi para korban migrasi.
Di tempat itu dimakamkan “Muslim dan Katolik, tua dan muda, kulit hitam dan kulit putih, semuanya kehilangan nyawa di laut ketika mencari kebebasan.”
Setelah itu, Paus mengunjungi monumen “Gateway to Europe” (Gerbang Menuju Eropa), sebuah karya seni yang menjadi simbol harapan bagi para migran yang berhasil mencapai pantai Eropa setelah menempuh perjalanan berbahaya melintasi Laut Mediterania.
Paus kemudian bertemu dengan sebuah keluarga migran di Dermaga Favarolo, yang untuk kesempatan tersebut diberi nama baru sebagai penghormatan kepada Paus Fransiskus.
Kunjungan pastoral ditutup dengan perayaan Misa di lapangan olahraga Lampedusa.
BACA HOMILI PAUS LEO ke XIV PADA MISA DI LAMPEDUSA
Seperti Korban dalam Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati
Dalam homilinya, Paus Leo XIV menghubungkan situasi para migran dengan perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati dalam Injil.
Menurut Paus, saat ini Lampedusa dan pulau tetangganya, Linosa, berada di jalur yang sama berbahayanya dengan jalan dari Yerusalem menuju Yerikho yang dikisahkan dalam Injil.
“Di sini kalian tidak hanya melihat satu orang, tetapi ribuan manusia yang jatuh ke tangan para perampok yang merampas segala milik mereka, memukuli mereka dengan kejam, lalu meninggalkan mereka setengah mati,” kata Paus.
Ia juga mengenang mereka yang tidak pernah mencapai tujuan akhir perjalanan karena kehilangan nyawa di laut.
“Banyak lainnya telah menjadi korban laut. Mereka tidak pernah berhasil mencapai tempat yang mereka harapkan. Kehadiran mereka menantang hati nurani kita sama kuatnya dengan mereka yang berhasil tiba dan membutuhkan perhatian serta bantuan,” ujarnya.
Paus menegaskan bahwa sebelum mempertimbangkan ideologi atau teori apa pun, manusia pertama-tama dipanggil untuk melihat dan mendekati sesama yang menderita.
“Sebelum segala pertimbangan intelektual atau keyakinan ideologis, perjumpaan dengan mereka yang terbaring di hadapan kita dalam keadaan kehilangan segalanya menuntut kita untuk hadir dan mendampingi mereka,” katanya.
Tidak Ada yang Terjadi Secara Otomatis
Kepada masyarakat Lampedusa, Paus menyampaikan rasa terima kasih atas solidaritas yang telah mereka tunjukkan selama bertahun-tahun.
“Saya datang untuk berterima kasih kepada saudara-saudari di Lampedusa atas solidaritas yang telah begitu banyak Anda tunjukkan, atas ‘mukjizat belas kasih’ yang terus terjadi di sini,” ujar Paus.
Ia menambahkan bahwa kepedulian terhadap sesama bukanlah sesuatu yang otomatis terjadi.
“Tidak ada yang bisa dianggap biasa dalam tindakan menjangkau orang lain. Tidak ada yang terjadi secara otomatis,” katanya.
Menurut Paus, siapa pun yang membiarkan dirinya digerakkan oleh belas kasih dan kemurahan hati akan mulai menjalani hidup dengan cara yang berbeda, menjadi warga masyarakat yang berbeda, dan bekerja dengan semangat yang berbeda pula.
Membangun Peradaban Kasih
Paus Leo XIV mengingatkan kembali visi para pendahulunya—Paus Yohanes XXIII, Paus Paulus VI, dan Paus Yohanes Paulus II—tentang lahirnya “peradaban kasih”.
Menurutnya, hanya belas kasih yang mampu menjawab kedalaman luka manusia sekaligus mengatasi horor perang dan kekerasan.
“Bersama banyak nabi dan martir abad lalu, mereka memahami bahwa hanya belas kasih yang dapat menjawab kebutuhan terdalam hati manusia dan membuka jalan menuju awal yang baru,” katanya.
Kini, lanjut Paus, umat manusia memasuki milenium baru yang menuntut penerjemahan nilai-nilai kasih ke dalam kehidupan nyata.
“Kita harus memberi wujud spiritual, budaya, hukum, politik, dan ekonomi bagi peradaban kasih itu,” tegasnya.
Seruan untuk Bertindak
Menutup homilinya, Paus Leo XIV menyampaikan seruan yang kuat kepada dunia internasional.
“Semoga besarnya penderitaan yang kita saksikan membantu kita memahami betapa radikalnya panggilan ini,” katanya.
Melalui kunjungan ke Lampedusa, Paus kembali menegaskan bahwa krisis migrasi bukan sekadar persoalan politik atau statistik, melainkan persoalan manusia yang menuntut tanggapan konkret, penuh belas kasih, dan berakar pada penghormatan terhadap martabat
