Paus Leo saat menyampaikan salam kepada para peserta Pertemuan Rimini  Saatnya Memikul Tanggung Jawab Paus Leo saat menyampaikan salam kepada para peserta Pertemuan Rimini Saatnya Memikul Tanggung Jawab  (@Vatican Media)

Saatnya Memikul Tanggung Jawab

Kata-kata Paus Leo XIV pada Pertemuan di Rimini dan seruannya akan realisme autentik dari belas kasih melawan realisme palsu yang mendorong kita untuk mempersenjatai diri kembali

Oleh Andrea Tornielli

“Melawan realisme palsu yang mempersenjatai pikiran, kata-kata, dan bangsa-bangsa, budaya Katolik dewasa ini harus mengedepankan realisme belas kasih, di mana tidak boleh ada musuh, dan semua orang, bahkan mereka yang menjadi lawan, adalah saudara dan saudari yang harus dipandang mata dan dijumpai dalam kebenaran.”

Inilah kata-kata yang disampaikan Paus Leo XIV kepada para peserta Pertemuan di Rimini, dan khususnya kepada ribuan kaum muda yang menghidupkan pertemuan besar yang berlangsung pada akhir musim panas itu, sebuah pertemuan yang lahir dari pengalaman Komuni dan Pembebasan. Kata-kata tersebut bukan sekadar diucapkan untuk kesempatan itu, melainkan sebuah undangan yang jelas dan tepat. Pertama-tama, sebuah undangan untuk memandang kenyataan tempat kita hidup.

Empat puluh empat tahun yang lalu, Santo Yohanes Paulus II, ketika berbicara dalam Pertemuan tersebut, telah menekankan keindahan kata-kata seperti “perjumpaan” dan “persahabatan di antara bangsa-bangsa” di tengah apa yang ia sendiri sebut sebagai “saat-saat dramatis dalam sejarah dunia”.

Paus Yohanes Paulus II pada Pertemuan Rimini tahun 1982
Paus Yohanes Paulus II pada Pertemuan Rimini tahun 1982

Kini, situasi internasional bahkan lebih tidak pasti dan genting daripada saat itu: semakin banyak konflik, pembantaian terhadap warga sipil dan anak-anak yang terus berlangsung—cukup dengan memikirkan Gaza dan Ukraina—serta banyaknya negara yang menginvestasikan jumlah dana yang semakin besar untuk mempersenjatai diri kembali. Menghadapi semua ini, Paus mengingatkan kembali panggilan Pertemuan tersebut, yang bukan untuk menjadi “semacam enklave”, melainkan sebuah “persimpangan” bagi perjumpaan dan dialog.


Inilah, kata Paus Leo, saatnya memikul tanggung jawab.

Mengikuti Kristus dewasa ini, setelah tragedi-tragedi abad kedua puluh, berarti sepenuhnya mengakui bahwa kejahatan tidak dapat dilawan dengan kejahatan. Satu-satunya jawaban, jawaban Kristiani, adalah kasih—“metode penebusan”, yang diwujudkan oleh Mesias yang tersalib. Karena itu, kepada mereka yang dewasa ini, atas nama suatu realisme yang dianggap nyata—yang oleh Paus tanpa ragu disebut sebagai “palsu”—hendak mempersenjatai pikiran, kata-kata, dan bangsa-bangsa, budaya Katolik memberikan jawaban melalui suatu realisme yang autentik: realisme belas kasih, “di mana tidak boleh ada musuh, dan semua orang, bahkan mereka yang menjadi lawan, adalah saudara dan saudari yang harus dipandang mata dan dijumpai dalam kebenaran.”

Oleh karena itu, dibutuhkan para pelopor yang berani, yang secara nyata akan berkomitmen untuk membebaskan kehidupan bersama umat manusia dari kecurigaan, dunia kerja dari penyembahan terhadap keuntungan, serta teknologi dan keuangan dari bisnis kematian.

Paus Leo menyerukan agar “relasi-relasi kekuasaan yang tidak adil”, yang “berada di akar kemiskinan dan ketimpangan, perang dan bencana lingkungan”, diungkapkan. Ini merupakan seruan yang kuat dan penuh konsekuensi dari Penerus Petrus, yang sejak hari pertama masa kepausannya telah berbicara tentang perdamaian yang “tanpa senjata dan melucuti”, dan hal ini hendaknya diingat sebagai suatu kriteria untuk menilai keterlibatan sosial bahkan politik semua umat awam Katolik.

Juga sangat penting bahwa Paus mengundang orang-orang yang hadir dalam Pertemuan tersebut untuk berani mengambil risiko, untuk menempatkan diri mereka sepenuhnya dalam perjuangan, “memperluas ikatan mereka melampaui setiap pengertian tentang rasa memiliki yang terlalu sempit”. Bagi Gerakan Komuni dan Pembebasan, kelompok-kelompok dan komunitas-komunitas harus menjadi batu loncatan untuk terjun ke dalam keseluruhan realitas, sambil menolak apa pun yang berusaha menjauhkan mereka dari saudara dan saudari yang berasal dari budaya, kepekaan, dan latar belakang yang berbeda, “terutama mereka yang paling miskin”.

Akhirnya, patut ditekankan pengingat Paus bahwa dalam kasih tidak pernah ada paksaan, indoktrinasi, ataupun perekrutan, karena kasih hanya ada dalam kebebasan, dalam perjumpaan yang hidup, dan dalam pemberian diri yang murah hati.

22 Aug 2026, 17:31