Cari

Paus Leo menyapa kerumunan peserta pada Pertemuan Rimini 2026 Paus Leo menyapa kerumunan peserta pada Pertemuan Rimini 2026   (@VATICAN MEDIA)

Paus kepada Pertemuan Rimini: Identitas kita sebagai anak-anak Allah mempersatukan kita

Dalam kunjungannya ke Pertemuan Persahabatan Antarbangsa di Rimini, Paus Leo XIV mengajak para peserta untuk senantiasa mencintai Gereja, serta memuji kaum muda yang, melalui cinta mereka kepada Kristus dan Gereja, menarik orang lain kepada iman.

Oleh Deborah Castellano Lubov

Paus Leo XIV berbicara kepada para peserta Pertemuan Persahabatan Antarbangsa ke-47 pada Sabtu sore di Rimini Exhibition Centre.

Kunjungan Paus ke acara yang berlangsung selama sepekan tersebut, yang setiap tahun diselenggarakan oleh Gerakan Persekutuan dan Pembebasan pada akhir Agustus, berlangsung dalam konteks Kunjungan Pastoral beliau ke Republik San Marino dan kota Rimini.

Dalam sambutannya kepada para peserta Pertemuan, Paus menguatkan mereka dalam iman dan mendorong mereka untuk belajar dari teladan Yesus dalam mengusahakan perdamaian di tengah masa-masa konflik dan ketidakadilan.

“Bahkan pada masa kini, perdamaian dipupuk dan disebarluaskan oleh orang-orang yang suka saling berjumpa dan tidak takut untuk terlibat satu sama lain. Dalam Ensiklik Fratelli Tutti, Paus Fransiskus mengajarkan kepada kita untuk menumbuhkan persahabatan sosial, yang merupakan ungkapan persaudaraan secara publik, dinamis, dan nyata.”

“Sebelum batas-batas, definisi-definisi, dan lembaga-lembaga, selalu ada manusia.”

“Ketika kita saling mengenali dalam martabat sebagai anak-anak Allah,” ungkap Paus Leo, “kita bersentuhan dengan apa yang pada dasarnya mempersatukan umat manusia, melampaui setiap perbedaan, perpecahan, atau konflik.”

Kejahatan tidak dilawan dengan kejahatan

Paus mengingatkan mereka yang hadir bahwa “kasih menggerakkan” dan merenungkan bagaimana Yesus menggambarkan kesempurnaan Allah, dengan menyingkapkan jurang perbedaan antara kemurahan tindakan-Nya dan sempitnya pemikiran manusia.

Realitas, demikian dicatatnya, tercekik dalam perhitungan-perhitungan kita dan bernapas dalam kemurahan Allah yang diberikan secara cuma-cuma.

Bapa Suci mengatakan bahwa bukanlah suatu “kebetulan” bahwa para pendahulunya—Santo Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, dan Fransiskus—semuanya menunjuk pada belas kasih ilahi sebagai titik perjumpaan antara Injil dan “hal-hal baru” dari zaman yang dramatis sekaligus menakjubkan ini.

Paus Leo menyapa para peserta Pertemuan Rimini
Paus Leo menyapa para peserta Pertemuan Rimini   (@Vatican Media)

“Mengikuti Yesus Kristus di tengah jejak tragedi dan awal-awal baru abad kedua puluh,” tegas Paus Leo, “menuntut kesadaran yang jelas bahwa kejahatan tidak dapat dikalahkan dengan kejahatan.”

“Seperti di surga, demikian pula di bumi,” tegasnya, “kasih adalah hukum kehidupan dan sarana penebusan—jalan Sang Mesias yang tersalib.”

Kasih Kristus mengikat dan memurnikan kita

“Budaya Katolik harus melawan realisme palsu yang mempersenjatai kembali pikiran, kata-kata, dan bangsa-bangsa, dengan realisme belas kasih yang menyadari bahwa tidak boleh ada musuh, dan bahwa setiap orang, bahkan mereka yang menentang kita, adalah saudara yang harus kita pandang matanya dan kita jumpai dalam kebenaran.”

Meskipun mengakui bahwa dosa memang ada, Paus mengatakan bahwa kasih Kristus yang menebus jauh lebih kuat.

Kasih Kristus, tegasnya, “mengikat kita untuk memurnikan pikiran, kepentingan, kebiasaan, pergaulan, rencana, dan investasi kita—bahkan setiap aspek kehidupan kita—dari segala sesuatu yang telah dicemari oleh budaya kekuasaan.”

Kemuliaan Allah harus bersinar, relasi kekuasaan yang tidak adil harus “disingkapkan”

Paus mengamati bahwa di antara mereka yang berkumpul dalam pertemuan tersebut, tidak kekurangan keahlian, tanggung jawab, dan sumber daya yang dapat ditempatkan demi pelayanan bagi pertobatan sejati suatu bangsa.

“Obsesi untuk mempertahankan kemuliaan, ‘martabat’, dan pengaruh diri sendiri,” katanya, “tidak boleh mengambil tempat dalam perasaan kita. Kita harus mencari kemuliaan Allah, dan hal itu tidak sama dengan kemuliaan kita sendiri.”

Paus Leo adalah Paus kedua yang secara langsung menghadiri acara tersebut sejak Paus Yohanes Paulus II
Paus Leo adalah Paus kedua yang secara langsung menghadiri acara tersebut sejak Paus Yohanes Paulus II   (@Vatican Media)

Ia mengatakan bahwa kemuliaan Allah yang bersinar dalam kerendahan gua Betlehem atau dalam kehinaan salib Kristus selalu mengejutkan kita.

Karena itu, beliau mengajak semua umat beriman untuk bersama-sama membebaskan “hidup kita dari kecurigaan, budaya dari kesombongan, pendidikan dari ideologi, pekerjaan dari penyembahan terhadap keuntungan, serta teknologi dan keuangan dari bisnis kematian.”

“Mulai dari organisasi-organisasi yang telah kita bentuk dan tempat kita bekerja,” ajak Paus, “marilah kita menyingkapkan struktur-struktur kekuasaan yang tidak adil yang menjadi akar kemiskinan, ketimpangan, perang, dan bencana lingkungan.”

Perlunya para perintis yang berani

Dalam konteks ini, Paus Leo juga menyerukan agar perkembangan teknologi dilucuti dari sifatnya yang merusak ketika teknologi tersebut menjadi begitu meluas dan destruktif.

“Kita membutuhkan para perintis yang berani yang, dengan terlebih dahulu mengubah arah hidup mereka sendiri,” tegasnya, “dapat membuat perubahan yang dituntut dari semua orang menjadi meyakinkan dan dapat dipercaya.”

“Janganlah hanya ada mereka yang mengobarkan api keletihan dan keputusasaan; hendaknya ada pula mereka yang menyalakan kembali mimpi dan visi!” kata Paus Leo, seraya mengakui bahwa kedua jalan tersebut tidak dapat disatukan, “karena yang satu bertumpu pada perpecahan, keterasingan, dan keputusasaan, sedangkan yang lain melayani Kerajaan Allah dan keadilan-Nya.”

Bapa Suci mengakui besarnya partisipasi kaum muda yang hadir, banyak di antara mereka adalah para relawan.

“Kalian adalah tanda bahwa masa depan itu menjanjikan, dan bukan ancaman!” tegasnya, meskipun banyak orang, menurutnya, tidak lagi mempercayai hal tersebut, baik di kalangan orang dewasa maupun kaum muda.

Dalam keheningan, “kasih yang menggerakkan matahari dan bintang-bintang lainnya” masih terus membangkitkan harapan, kata Paus. Beliau menekankan betapa kuatnya beliau mengalami hal ini dalam perjumpuan dengan kaum muda selama Perjalanan Apostoliknya ke Lebanon, Afrika, dan Spanyol.

“Kaum muda, beranilah mengambil risiko!”

“Kasih menggerakkan kita, mendorong kita maju, membangunkan kita dari tidur,” dan “mengilhami panggilan-panggilan baru serta memanggil kita untuk mengambil risiko,” kata Paus Leo.

Karena itu, beliau memohon, “jangan takut untuk memberikan diri kalian sepenuhnya! Bukalah diri kalian terhadap semangat yang sungguh katolik, dengan memperluas jejaring kalian melampaui setiap rasa memiliki yang terlalu sempit. Biarlah Gerakan, kelompok-kelompok, dan komunitas kalian menjadi batu loncatan yang darinya kalian dapat menyelami seluruh kenyataan.”

Dengan semangat ini, katanya, “lawanlah segala sesuatu yang akan memisahkan kalian dari saudara-saudari yang berasal dari budaya, kepekaan, dan latar belakang yang berbeda, terutama mereka yang paling miskin. Sebaliknya, pergilah untuk menjumpai semua orang!”

“Di setiap sudut dunia, terutama di daerah-daerah pinggiran dan di antara mereka yang menderita,” katanya, “kalian akan menemukan orang-orang yang siap membantu membangun peradaban kasih.”

Jangan biarkan siapa pun mereduksi kenyataan bahwa Allah adalah kasih

Paus memperingatkan agar kasih ini tidak direduksi, dan menegaskan bahwa dalam kasih tidak pernah ada paksaan atau indoktrinasi; tidak pernah ada bujukan, penipuan, ataupun upaya merekrut orang.

“Kasih hanya ada dalam kebebasan, dalam perjumpaan yang tulus, dan dalam pemberian diri yang murah hati,” katanya.

“Kasih hanya ada dalam kebebasan, dalam perjumpaan yang tulus, dan dalam pemberian diri yang murah hati.”

Keterikatan kaum muda kepada Kristus

Bapa Suci mengamati kepada kaum muda bahwa dunia dewasa ini tampak terkejut melihat keterikatan mereka kepada Kristus, daya tarik yang mereka rasakan terhadap-Nya dan Sabda-Nya, serta keberadaan mereka sebagai bagian dari Gereja.

“Bagi banyak orang saat ini, kenyataan bahwa kalian adalah orang-orang Kristen saja sudah merupakan suatu kejutan! Namun, tanpa banyak kemeriahan, ‘firman Tuhan telah bergema dari antara kalian’,” katanya, seraya mengutip surat Santo Paulus kepada komunitas di Tesalonika. Dalam surat itu, Paulus juga mengatakan kepada mereka: “Imanmu kepada Allah telah tersiar ke mana-mana, sehingga kami tidak perlu mengatakan apa-apa lagi.”

“Ini bukan soal jumlah, meskipun sungguh mengharukan melihat ribuan teman sebaya kalian mencari Pembaptisan di masyarakat yang dianggap paling sekuler di dunia,” katanya, “melainkan soal kebebasan, karena kebenaran hanya dapat dijumpai dalam kebebasan.”

Gereja bertumbuh melalui daya tarik

Bapa Suci mengingatkan bahwa para pendahulunya telah berulang kali mengatakan bahwa “Gereja tidak melakukan proselitisme. Sebaliknya, Gereja bertumbuh melalui ‘daya tarik’.”

Paus Leo mengakui bahwa kita adalah manusia dan sering kali ditandai oleh keterbatasan dan dosa. “Namun,” dorongnya, “Tuhanlah yang selalu membangkitkan kita kembali, baik sebagai pribadi maupun sebagai komunitas!”

Dengan dorongan tersebut, Paus Leo mengatakan kepada mereka yang berkumpul, “hendaklah kalian selalu mencintai Gereja” dan “mencintai serta menjaga kesatuan ‘komunitas’ yang melaluinya Kristus telah menjangkau kalian dan menarik kalian kepada diri-Nya.”

“Perlu dikatakan sekali lagi: ‘Selalulah mencintai Gereja!’ Sahabat-sahabat terkasih, cintailah dan peliharalah kesatuan.”

Paus menutup pesannya dengan mengingatkan semua yang hadir bahwa salah satu unsur mendasar dalam setiap komunitas Kristen adalah doa, sebelum mengundang mereka untuk bersama-sama mendaraskan Doa Bapa Kami.

22 Aug 2026, 16:45