Edisi 2025 Paus Leo XIV makan siang dengan kaum miskin di Castel Gandolfo Edisi 2025 Paus Leo XIV makan siang dengan kaum miskin di Castel Gandolfo  (@VATICAN MEDIA)

Paus santap siang bersama kaum miskin: Kerapuhan menjadi sumber kekuatan bagi komunitas

Menjelang santap siang Paus bersama 200 orang yang hidup dalam situasi rentan, Koordinator Komunikasi Pusat Pendidikan Tinggi Laudato Si' menjelaskan kepada Vatican News bahwa kegiatan ini merupakan tanda keterbukaan Gereja bagi semua orang sekaligus menjadi pelabuhan yang aman bagi mereka yang membutuhkan.

Oleh Antonella Palermo

Harapan, penerimaan, dan inklusi merupakan nilai-nilai yang mengilhami penyelenggaraan kegiatan "Santap Siang Bersama Paus", yang akan berlangsung pada Sabtu, 11 Juli, di Taman Kepausan Castel Gandolfo.

Sebanyak 200 orang—termasuk 35 anak-anak—yang hidup dalam kondisi rentan dan didampingi oleh Keuskupan Roma serta berbagai lembaga amal mitranya, akan menghabiskan satu hari penuh dalam suasana keindahan alam dan pengalaman spiritual di tempat yang istimewa tersebut.

"Tempat ini sangat berharga karena selama 400 tahun tertutup bagi dunia, kemudian dibuka oleh Paus Fransiskus, dan kini dibuka lebar oleh Paus Leo. Hari ini tempat ini menyambut mereka yang bagi kami adalah tamu-tamu kehormatan," kata Donatella Parisi, Koordinator Komunikasi Pusat Pendidikan Tinggi Laudato Si'.

Kegiatan akan diawali dengan Misa yang dipimpin Kardinal Fabio Baggio, Direktur Jenderal Pusat Pendidikan Tinggi Laudato Si', dan dikonselebrasikan oleh Uskup Agung Luis Marín de San Martín, Prefek Dikasteri Pelayanan Amal Kasih.

Setelah itu, para peserta akan menikmati hidangan ringan dan mengikuti tur berpemandu yang dipandu staf Borgo Laudato Si'.


Gereja adalah keluarga yang terbuka bagi semua

Menurut Parisi, Borgo Laudato Si' menyimpan begitu banyak sejarah Roma, mulai dari sisa-sisa vila Kaisar Domitianus hingga sejarah para Paus yang sejak abad ke-17 datang ke tempat itu untuk beristirahat.

Tempat tersebut juga dikelilingi keindahan alam dengan taman botani yang memiliki lebih dari 4.000 tanaman dari lebih 300 spesies berbeda.

Kekayaan keindahan dan harmoni ini kini membuka pintunya sebagai lambang Gereja yang tidak memiliki sekat.

"Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa Gereja harus selalu terbuka bagi semua orang, terutama mereka yang hidup di pinggiran kehidupan," jelas Parisi.

"Paus Leo sering menegaskan hal ini. Kami memandang kegiatan ini sebagai kelanjutan dari perjalanan beliau ke Lampedusa, ketika beliau mengarahkan perhatian dunia kepada pulau kecil di Laut Mediterania yang menjadi saksi bisu ribuan kematian di laut, yakni orang-orang yang mencari masa depan yang lebih baik dengan melarikan diri dari perang, kemiskinan, dan ketidakadilan sosial."

"Karena itu, menjelang kegiatan ini, kami kembali menegaskan bahwa Gereja terbuka bagi semua orang; Gereja adalah keluarga, komunitas, dan pelabuhan yang aman bagi mereka yang paling membutuhkan."

Mereka yang membutuhkan mengubah cara pandang kita

Penyelenggara berharap setiap tahun kegiatan ini dapat menghadirkan peserta dari keuskupan yang berbeda. Tahun lalu peserta berasal dari Keuskupan Albano, tempat Castel Gandolfo berada, sedangkan tahun ini mereka berasal dari Roma.

"Akan hadir para pengungsi, ibu tunggal bersama anak-anak mereka, mereka yang telah menyelesaikan pelatihan di Borgo Laudato Si' dan kini kembali untuk merayakan perjalanan hidup yang membuka harapan baru menuju integrasi dan dunia kerja. Akan hadir pula penyandang disabilitas. Mereka mewakili bagian dari masyarakat dan Gereja yang sering disebut sebagai 'orang-orang yang membutuhkan'," ujar Parisi.

"Namun kenyataannya, pengalaman kami setiap hari di Borgo Laudato Si' menunjukkan bahwa justru merekalah yang memberi. Mereka memberikan seluruh diri mereka, memperkaya Borgo bahkan seluruh Gereja melalui kehadiran mereka, sekaligus mengajak kita memandang masyarakat dengan cara yang berbeda, yakni melihat bahwa kerapuhan dapat menjadi sumber kekuatan baru bagi komunitas kita."

Santap siang tersebut disumbangkan oleh restoran L'Isola della Pizza di Roma, sementara hidangan ringan pada pagi hari disediakan oleh Bar Duomo di Albano, yang selama ini terlibat erat dalam proyek Borgo Laudato Si'.

"Ini merupakan kesaksian indah tentang kemurahan hati dan dukungan terhadap kegiatan seperti ini," kata Parisi.

Menu yang disajikan akan berupa masakan khas Italia dengan tetap memperhatikan kebutuhan para tamu yang berasal dari berbagai latar belakang budaya.

Makhluk di antara sesama makhluk

Kegiatan ini juga mencerminkan kecintaan Paus terhadap Castel Gandolfo dan Borgo Laudato Si'.

"Bapa Suci sangat mencintai Taman Kepausan dan mengikuti proyek ini dengan penuh perhatian," kata Parisi, seraya mengingat pertemuan Paus di Vatikan pada 19 Juni lalu dengan para peserta edisi pertama Dialog Borgo Laudato Si'.

Pertemuan tersebut mempertemukan para wakil dari berbagai perusahaan dan industri internasional untuk membahas bagaimana proses produksi dan lingkungan kerja dapat menjadi semakin berkelanjutan, sehingga manusia dapat menjadi "semakin bertanggung jawab dan semakin tidak bersikap menguasai."

Inspirasi yang telah hadir dalam ensiklik-ensiklik Paus Fransiskus dan kembali ditegaskan dalam Magnifica Humanitas tetap sama, yaitu mengakui diri kita sebagai "makhluk di antara sesama makhluk."



10 Jul 2026, 16:27