Cari

2026.07.20 Il nuovo libro di Leone XIV “Disarmata e disarmante. La pace è un dono” (Libreria Editrice Vaticana)

Kurator Buku Paus tentang Perdamaian: Paus Mampu Menggerakkan Mobilisasi Moral

Alessandro Banfi, kurator buku terbaru Paus Leo XIV berjudul Disarmed and Disarming: Peace Is a Gift (Tak Bersenjata dan Melucuti Senjata: Perdamaian adalah Anugerah), berbicara kepada Vatican News mengenai pentingnya menghimpun berbagai ajaran Paus tentang perdamaian dan bagaimana kekuatan pesannya berakar pada Injil.

Oleh Isabella H. de Carvalho

Ketika Paus Leo XIV terpilih pada 8 Mei 2025, kata-kata pertamanya kepada dunia berpusat pada perdamaian dan harapannya agar damai bergema dalam hati setiap orang, dalam keluarga-keluarga, dan di antara bangsa-bangsa.

Harapan itu terus menjadi tema utama dalam pidato, homili, dan berbagai sapaan Paus sejak saat itu, di tengah situasi dunia yang masih diliputi konflik dan ketegangan.

Kini, Penerbit Vatikan menerbitkan sebuah buku baru karya Paus Leo XIV yang menghimpun seluruh refleksi dan pernyataannya mengenai perdamaian dengan judul Disarmed and Disarming: Peace Is a Gift. Buku tersebut saat ini tersedia dalam bahasa Italia dan segera akan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Edisi tersebut juga memuat kata pengantar yang sebelumnya belum pernah dipublikasikan dan ditulis langsung oleh Paus.

Radio Vatikan berbincang dengan Alessandro Banfi, jurnalis dan penulis televisi asal Italia yang bertanggung jawab mengurasi buku tersebut. Ia menyoroti bahwa kekuatan pesan Paus terletak pada Injil serta kemampuan umat Kristiani untuk membawa harapan bagi dunia yang sedang dilanda gejolak.

Alessandro Banfi
Alessandro Banfi
Dengarkan Potongan wawancara:

Penekanan yang Berbeda, Keprihatinan yang Sama

“Tujuan buku ini adalah memberikan kesempatan kepada semua orang untuk mengenal lebih dalam ajaran Paus Leo mengenai perdamaian,” jelas Banfi.

Menurutnya, buku tersebut berupaya menyajikan pesan-pesan utama Paus mengenai tema perdamaian melalui pengelompokan dalam berbagai bab tematik. Buku itu juga memuat seluruh pidato Paus, mulai dari pidato resmi kepada korps diplomatik yang terakreditasi untuk Takhta Suci, pesan Hari Perdamaian Sedunia, kunjungan ke paroki-paroki, hingga dialognya dengan kaum muda dalam Yubileum Orang Muda.

“Buku ini menegaskan sentralitas tema perdamaian dalam refleksi Paus Leo. Situasinya mungkin berbeda-beda, penekanannya pun beragam, tetapi ada satu keprihatinan yang sama: membangun dialog, membangun jembatan, dan membangun pertukaran dengan melepaskan diri dari pola pikir kawan-lawan,” tegas Banfi.

Kekuatan Injil dan Mobilisasi Moral yang Dapat Diinspirasi Paus

Ketika ditanya bagaimana kata-kata dan pemikiran Paus dapat menjangkau para pengambil keputusan paling penting di dunia, Banfi mengakui bahwa hal itu merupakan “pertanyaan yang sulit”.

Ia mengingat ucapan sinis pemimpin Soviet, Joseph Stalin, yang pernah bertanya, “Berapa banyak divisi militer yang dimiliki Paus?”

“Jawabannya saat ini sama seperti dulu: tidak ada,” kata Banfi.

Ia menjelaskan bahwa Vatikan memang memiliki korps diplomatik yang besar dan Gereja memiliki para misionaris yang tersebar di seluruh dunia, tetapi Gereja tidak memiliki kekuasaan duniawi.

“Kekuatan pesan Paus dan Gereja universal terletak pada Injil,” tegasnya. “Itu adalah kekuatan yang tidak bersenjata dan melucuti senjata. Sekilas tampak seolah akan kalah di hadapan kekerasan dan perang. Namun para penguasa dunia sangat memahami mobilisasi moral yang dapat diinspirasi oleh Wakil Kristus, dan karena itulah mereka menghargai sekaligus memperhitungkan penilaiannya.”

Hati Nurani Satu Orang Bisa Bernilai Sebesar Dunia

Dalam kata pengantarnya, Paus Leo XIV menegaskan bahwa perdamaian merupakan tanggung jawab pribadi dan dimulai dari masing-masing orang.

Ia mengutip sebuah peristiwa bersejarah yang melibatkan Stanislav Petrov, seorang pejabat Soviet yang pada tahun 1983 membantu mencegah bencana nuklir. Saat sistem radar Soviet mendeteksi peluncuran sejumlah rudal balistik antarbenua dari Amerika Serikat menuju Uni Soviet, Petrov memilih untuk tidak memberikan respons militer.

Belakangan diketahui bahwa sistem tersebut mengalami kesalahan dan tidak ada rudal yang benar-benar diluncurkan.

Menurut Paus, peristiwa itu menunjukkan bahwa “hati nurani satu orang dapat bernilai sebesar seluruh dunia.”

Banfi menilai bahwa kesadaran inilah yang memberikan harapan.

“Kepercayaan terhadap hati dan akal budi manusia itulah yang memberi kita perspektif yang tepat untuk membayangkan masa depan yang damai. Berakhirnya perang, kebencian, dan kekerasan dimulai dari diri saya sendiri, di rumah saya, di antara rekan kerja saya, dan bersama para tetangga saya,” katanya.

Berbicara mengenai harapan, Banfi menilai bahwa hal itulah yang membedakan umat Kristiani dari yang lain, karena mereka menempatkan dasar hidupnya pada Allah.

Dalam konteks itu, ia mengutip karya Santo Agustinus De Civitate Dei (Kota Allah), yang berbicara tentang pergulatan antara kota duniawi dan Kota Allah, seraya menunjukkan bahwa keduanya hidup berdampingan.

“Keduanya bertumbuh bersama, tetapi perbedaannya terletak pada harapan. Warga kota duniawi mencari kebahagiaan dalam kepemilikan berbagai hal. Sedangkan warga Kota Allah menemukan kebahagiaan dalam spei Dei—harapan akan Allah dan kekaguman akan Allah,” jelasnya.

Pengaruh Santo Agustinus

Banfi mengaku sangat terkesan oleh kuatnya pengaruh pandangan sejarah dan kekuasaan politik Santo Agustinus selama proses penyusunan buku tersebut.

“Salah satu pidato yang paling menarik adalah pidato Paus kepada anggota korps diplomatik yang terakreditasi untuk Takhta Suci pada 9 Januari. Dalam pidato itu, Paus banyak mengutip De Civitate Dei dan mengatakan, antara lain, bahwa Kota Allah tidak menawarkan solusi berupa program politik,” jelas Banfi.

“Sebaliknya, Kota Allah menawarkan refleksi yang sangat berharga mengenai persoalan-persoalan mendasar dalam kehidupan sosial dan politik, seperti pencarian hidup bersama yang lebih adil dan damai di antara bangsa-bangsa.”

Menurutnya, kutipan tersebut membantu memahami visi Santo Agustinus sekaligus tanggung jawab umat Katolik dalam masyarakat tempat mereka hidup.

21 Jul 2026, 10:45