Paus : Santo Petrus dan Paulus Wujudkan Persatuan Gereja dalam Keberagaman
Oleh Devin Watkins
Paus Leo XIV memimpin doa Angelus bersama ribuan peziarah yang memenuhi Lapangan Santo Petrus pada Senin, saat Gereja merayakan Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus.
Di tengah teriknya musim panas Roma, Paus mengingatkan bahwa perayaan kedua rasul tersebut menegaskan ikatan yang mempersatukan Gereja Roma dengan seluruh Gereja di dunia dalam persekutuan iman dan kasih.
Menurut Paus, kemartiran Santo Petrus dan Santo Paulus di Roma menjadi semacam meterai atas Perjanjian Baru, yang mengungkapkan kedalaman kasih Allah dalam diri Yesus Kristus.
“Melalui pewartaan dan kemartiran mereka, Injil Kristus berakar di Roma dan menunjukkan kekuatannya untuk memperbarui dunia melalui pengenalan baru akan Allah serta martabat luhur setiap manusia,” kata Paus.
Ia menambahkan bahwa Injil juga membawa pemahaman baru tentang kekuasaan, yang tidak dipandang sebagai dominasi, melainkan sebagai pelayanan bagi kehidupan manusia.
Panggilan untuk Mengikuti Kristus
Paus menegaskan bahwa panggilan Yesus untuk mengikuti-Nya terus bergema dari pusat-pusat kekuasaan dunia hingga ke wilayah-wilayah yang paling terpencil melalui mereka yang menjawab panggilan tersebut.
Dengan merayakan Santo Petrus dan Santo Paulus, umat Kristiani mengambil bagian dalam misi Kristus sendiri. Rahmat Allah, katanya, bersinar dalam kehidupan manusia yang tidak sempurna namun telah menerima pengampunan.
Berbeda, Tetapi Dipersatukan
Dalam refleksinya, Paus Leo XIV menyoroti perbedaan mencolok antara Petrus dan Paulus.
“Mereka berbeda dalam latar belakang, pendidikan, dan karakter, baik sebelum maupun sesudah dipanggil oleh Tuhan. Tuhan yang sama tidak menjadikan mereka seragam,” ujarnya.
Meski demikian, keduanya mewartakan Injil dengan cara dan suara yang khas. Perbedaan tersebut justru menjadi bagian penting dari kabar gembira yang dihadirkan Gereja.
“Di dalam kelompok para rasul, Petrus dan Paulus bukanlah lawan satu sama lain. Sebaliknya, mereka menjadi simbol dari begitu banyak perbedaan yang dipersatukan oleh Roh yang satu,” kata Paus.
Menurutnya, kedua pelindung Kota Roma itu mengalami berbagai tantangan dalam membangun persekutuan, namun tetap melayani dan mewartakannya sebagai sakramen kehidupan ilahi.
Kesaksian mereka, lanjut Paus, membantu memastikan bahwa kehadiran umat Kristiani dalam sejarah tidak diarahkan pada dominasi, melainkan pada pelayanan, persatuan, dan rekonsiliasi.
Gereja yang Katolik dan Universal
Menutup refleksinya, Paus Leo XIV berdoa agar perantaraan Santo Petrus dan Santo Paulus membantu Gereja semakin menyadari makna hakikinya sebagai Gereja yang katolik, yakni Gereja yang mempersatukan keberagaman dalam kesatuan.
Paus berharap Gereja semakin mampu menjadi ruang perjumpaan persaudaraan di antara individu maupun bangsa-bangsa, menghindari segala sesuatu yang merusak persekutuan, serta terus berjalan di jalan ekumenisme dan dialog yang tulus dengan semua pihak.
“Semoga Gereja mengenali nilainya dalam membangun perjumpaan persaudaraan di antara manusia dan bangsa-bangsa, menghindari apa pun yang merusak persatuan, serta bertekun dalam perjalanan ekumenis dan dialog yang penuh perhatian dan kejujuran dengan semua orang,” tutup Paus.
