Dari Gambia ke Kepulauan Canaria: Perjalanan Penuh Harapan Ousman
Oleh Alexandra Sirgant – Gran Canaria
Di antara ratusan migran yang ditemui Paus Leo XIV saat mengunjungi Pelabuhan Arguineguín di Kepulauan Canaria pada 11 Juni lalu, terdapat seorang pria asal Gambia bernama Ousman. Di balik senyum hangatnya tersimpan kisah panjang tentang keberanian, pengorbanan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.
Bagi Ousman, tanah Kepulauan Canaria bukan sekadar tujuan perjalanan. Tempat itu adalah simbol harapan setelah delapan hari berjuang melawan ganasnya Samudra Atlantik.
Meninggalkan Rumah Demi Masa Depan Anak
Ousman, 38 tahun, berasal dari wilayah pesisir Kombo North di Gambia, sebuah negara kecil di Afrika Barat yang dikenal sebagai "Pantai Senyum Afrika" karena keramahan penduduknya.
Namun di balik julukan itu, kehidupan tidak selalu mudah. Sebagai pelayan di sebuah hotel tepi pantai, ia hanya memperoleh penghasilan sekitar empat euro per hari. Pendapatan tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya secara layak.
Ia dan istrinya, Saly, memiliki tiga anak. Ketika memutuskan meninggalkan kampung halaman, Ousman harus mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya. Ia meninggalkan istri dan dua anaknya yang masih kecil, sementara putra sulungnya, Lamine, yang saat itu berusia 13 tahun, ikut dalam perjalanan berbahaya menuju Eropa.
"Saya tidak ingin anak-anak saya mengalami kehidupan yang sama seperti yang saya alami," katanya.
Delapan Hari Melawan Lautan
Pada awal Februari 2026, Ousman dan putranya menaiki sebuah perahu kayu sederhana bersama 156 penumpang lainnya. Di dalam perahu itu terdapat laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang sama-sama berharap menemukan kehidupan yang lebih baik.
Perjalanan itu berlangsung selama delapan hari yang penuh ketidakpastian.
Ousman tidak banyak bercerita mengenai penderitaan yang dialaminya selama pelayaran. Namun ia mengenang bahwa seorang penumpang meninggal dunia hanya beberapa jam sebelum mereka mencapai tujuan, kemungkinan akibat suhu dingin yang ekstrem.
"Pada hari keenam kami begitu ketakutan sehingga siap berhenti di pulau mana pun yang terlihat," kenangnya.
Pada dini hari antara hari ketujuh dan kedelapan, sekitar pukul empat pagi, ia akhirnya melihat cahaya lampu di Pulau Tenerife dari kejauhan. Bagi Ousman, pemandangan itu terasa seperti keajaiban.
Ia juga terkesan melihat perbukitan batu berwarna kecokelatan yang menjadi ciri khas Kepulauan Canaria.
"Saya berasal dari negara yang wilayahnya datar. Melihat bukit untuk pertama kalinya merupakan pengalaman yang luar biasa," ujarnya.
Mendapatkan Sambutan dan Pendampingan
Perjalanan Ousman belum berakhir ketika ia tiba di Spanyol.
Setelah sempat tinggal selama dua bulan di Lanzarote, ia dan putranya dipindahkan ke sebuah pusat penerimaan migran di Las Palmas yang dikelola oleh Yayasan Cruz Blanca, sebuah organisasi yang didirikan oleh para Fransiskan.
Di tempat tersebut, para migran memperoleh tempat tinggal sementara, layanan kesehatan, dukungan psikologis, bantuan hukum, kursus bahasa Spanyol, hingga fasilitas penitipan anak.
Anak-anak dan remaja yang tinggal di sana juga didaftarkan ke sekolah-sekolah negeri sebagai bagian dari proses integrasi ke dalam masyarakat Spanyol.
Bagi Lamine, proses itu berjalan baik. Hanya dalam waktu beberapa bulan, kemampuan bahasa Spanyolnya berkembang pesat.
"Enam bulan lalu dia tidak bisa berbicara bahasa Spanyol sama sekali. Sekarang justru dia yang sering mengoreksi kesalahan saya," kata Ousman sambil tertawa.
Menemukan Keluarga Baru
Selain bantuan sosial, para penghuni pusat penerimaan juga mendapatkan pendampingan spiritual.
Menurut Bruder Jahir Falon, koordinator umum pusat-pusat pelayanan Yayasan Cruz Blanca, banyak migran tiba dengan luka psikologis dan spiritual yang mendalam akibat pengalaman perjalanan mereka.
"Misi kami adalah mendengarkan mereka dan memberikan perhatian sepenuhnya," katanya.
Pendampingan itu dilakukan dengan menghormati keyakinan masing-masing. Mereka yang beragama Katolik dapat mengikuti Misa di gereja sekitar, sementara umat Muslim memperoleh kesempatan menjalankan ibadah Ramadan di pusat tersebut.
"Kami Berbagi Iman akan Kemanusiaan"
Bagi Ousman, perjumpaan dengan Paus memiliki makna yang mendalam.
"Kami berbagi iman yang sama, yaitu iman kepada kemanusiaan," katanya.
Menurutnya, warna kulit dan asal-usul tidak mengubah kenyataan bahwa semua manusia memiliki martabat yang sama.
"Tidak peduli apakah kita berkulit hitam atau putih. Darah yang mengalir dalam diri kita sama. Ketika terluka, darah itu berwarna merah. Karena itu kita bisa hidup bersama. Hal itu tertulis dalam Alkitab dan juga dalam Al-Qur'an."
Dalam pertemuan tersebut, Paus Leo XIV menegaskan pentingnya proses penerimaan dan integrasi yang sungguh-sungguh bagi para migran.
Membuka Babak Baru
Dalam beberapa hari mendatang, Ousman dan putranya akan melanjutkan perjalanan menuju Burgos di wilayah utara Spanyol untuk menjalani tahap berikutnya dalam proses legalisasi status mereka.
Mantan pelayan hotel itu mengaku siap bekerja di bidang apa pun.
"Saya ingin Paus mengetahui bahwa kami tidak datang untuk mengganggu masyarakat. Kami datang untuk berkembang bersama dan membangun bangsa ini bersama-sama," katanya.
Namun ketika berbicara tentang kepergiannya dari pusat penerimaan yang telah menjadi rumah selama empat bulan terakhir, matanya mulai berkaca-kaca.
Ia mengenang keramahan para pekerja dan sesama penghuni yang telah mendampinginya selama masa sulit.
"Kami sudah menjadi sebuah keluarga," ujarnya lirih.
Di lehernya tergantung sebuah rantai tipis berwarna abu-abu dengan cincin perak yang diberikan ibunya sebagai simbol perlindungan dan harapan. Benda kecil itu akan terus menemaninya saat melangkah menuju babak baru kehidupannya di tanah yang jauh dari kampung halaman.
Bagi Ousman, perjalanan belum berakhir. Namun kini ia melangkah dengan keyakinan bahwa harapan masih selalu memiliki tempat untuk bertumbuh.
