Cari

Di Gran Canaria, Paus: Martabat Manusia Tak Memiliki Paspor

Dalam pertemuan dengan para imigran dan organisasi-organisasi yang menyelamatkan serta mendampingi mereka di Gran Canaria, Paus Leo menyerukan agar dunia tidak menjadi acuh tak acuh terhadap penderitaan para imigran. Ia mengajak dibukanya jalur migrasi yang legal dan aman, mengecam perdagangan manusia serta eksploitasi, dan menegaskan bahwa “martabat manusia tidak memiliki paspor dan tidak kehilangan nilainya ketika melintasi perbatasan.”

Oleh Linda Bordoni

Berdiri di dermaga Arguineguín, sebuah pelabuhan di pesisir selatan Gran Canaria yang telah menjadi salah satu simbol migrasi paling menyentuh di Eropa, Paus Leo XIV pada Kamis menyampaikan seruan mendesak agar kita senantiasa berbelas kasih, bertanggung jawab, dan solider. Ia menegaskan bahwa “martabat manusia tidak memiliki paspor dan tidak kehilangan nilainya ketika melintasi perbatasan.”

Pada hari keenam Perjalanan Apostoliknya ke Spanyol, Paus bertemu dengan para imigran dan organisasi-organisasi yang menyelamatkan, menyambut, dan mendampingi mereka di salah satu jalur migrasi paling mematikan di dunia.

Pertemuan tersebut berlangsung di lokasi yang dikenal sebagai “Pelabuhan Rasa Malu” (Port of Shame), tempat ribuan imigran tiba hanya dalam hitungan hari pada tahun 2020 ketika pandemi Covid-19 sedang berlangsung. Bagi banyak orang yang melarikan diri dari kemiskinan, konflik, dan eksploitasi di Afrika Barat, Kepulauan Canaria menjadi gerbang terdekat menuju Eropa yang dapat dicapai setelah perjalanan berbahaya melintasi Samudra Atlantik dengan perahu-perahu kayu yang penuh sesak.

Dengan latar belakang pelabuhan dan Samudra Atlantik, Paus Leo mendengarkan kesaksian seorang petugas penyelamat laut, seorang relawan Caritas, seorang penyintas perdagangan manusia, dan seorang imigran pengusaha yang berhasil membangun kembali hidupnya setelah bertahun-tahun mengalami kesulitan.

Paus Leo XIV dalam pertemuan dengan para imigran dan mereka yang menyelamatkan serta mendampingi para imigran di Las Palmas de Gran Canaria
Paus Leo XIV dalam pertemuan dengan para imigran dan mereka yang menyelamatkan serta mendampingi para imigran di Las Palmas de Gran Canaria   (@Vatican Media)

Injil menjadi nyata

Merenungkan perikop Injil Matius 25, Paus mengatakan bahwa Sabda Allah menjadi nyata di tempat-tempat seperti Arguineguín, di mana orang-orang tiba “dengan kehilangan hampir segalanya, tetapi tidak pernah kehilangan martabat mereka.”

“Di sini Injil menarik kita keluar dari posisi nyaman sebagai penonton dan menempatkan kita berhadapan dengan seorang saudara atau saudari yang telah tiba,” katanya. “Injil bertanya kepada kita apakah kita telah mengenali Kristus dalam diri mereka yang turun dari kapal, yang ditandai oleh ketakutan, kelaparan, dan kekerasan setelah melewati padang gurun, malam, dan lautan.”

Mengingat simbolisme Cincin Nelayan yang dikenakannya sebagai Penerus Santo Petrus, Paus Leo merenungkan panggilan Kristus kepada Petrus untuk menjadi “penjala manusia”.

“Di sini, orang-orang diselamatkan dari laut, dan tubuh-tubuh tak bernyawa diangkat dari perairan,” katanya. “Karena itu, Penerus Petrus tidak dapat mengabaikan dermaga-dermaga ini. Gereja tidak dapat mengabaikan perairan ini.”

Bacalah teks lengkap pidato Paus Leo dalam pertemuan tersebut

Paus Leo XIV dalam pertemuan dengan para imigran dan mereka yang menyelamatkan serta mendampingi para imigran di Las Palmas de Gran Canaria
Paus Leo XIV dalam pertemuan dengan para imigran dan mereka yang menyelamatkan serta mendampingi para imigran di Las Palmas de Gran Canaria   (@Vatican Media)

Laut dan monster-monsternya

Menggunakan gambaran biblis, Paus menggambarkan laut sebagai tempat di mana bahaya dan kekacauan hidup berdampingan dengan pengharapan.

“Hingga hari ini, monster masih mengintai di lautan ini,” katanya, merujuk pada “mafia yang mengambil keuntungan dari keputusasaan, para pelaku perdagangan manusia yang memperbudak perempuan dan anak-anak, serta mereka yang karena sikap acuh tak acuhnya membiarkan kaum miskin ditelan oleh eksploitasi atau dilupakan.”

Namun ia menegaskan bahwa iman tidak boleh dilumpuhkan oleh ketakutan.

“Jika Kristus memerintahkan laut untuk tenang, Gereja tidak dapat tetap diam terhadap mereka yang ditinggalkan di perairannya,” ujarnya.

Wajah, bukan statistik

Salah satu momen penting dalam pertemuan itu adalah kesaksian Tito Villarmea, seorang kapten Tim Penyelamat Maritim yang telah membantu menyelamatkan lebih dari 20.000 orang di laut.

Ia mengenang sebuah operasi penyelamatan yang melibatkan seorang perempuan yang bepergian bersama seseorang yang tampak seperti anak laki-laki remajanya. Setelah mereka selamat naik ke kapal penyelamat, perempuan itu melepaskan topi dan jaket anak tersebut lalu memasangkan anting emas di telinganya.

“Ternyata dia seorang anak perempuan,” katanya, mengenang bagaimana keduanya langsung menangis.

Paus berterima kasih kepada mereka yang membagikan kisah-kisahnya dan memuji karya para petugas penyelamat, relawan Caritas, dan komunitas-komunitas paroki. Menurutnya, kesaksian mereka menunjukkan bagaimana “seorang imigran berhenti menjadi sekadar ‘satu orang lagi’, sebuah kategori, atau statistik belaka.”

“Hanya dengan cara itu kita dapat memahami bahwa gadis kecil itu bisa saja adalah putri kita sendiri, dan bahwa wajah-wajah itu bisa menjadi bagian dari keluarga kita,” katanya.

Ia juga menyoroti kesaksian María Reyes Alemán Cruz, yang menjadi korodinator di paroki selama keadaan darurat migrasi dan yang berbicara tentang bagaimana mendampingi para imigran yang dimulai dengan tindakan-tindakan sederhana: sepasang sepatu, mantel, secangkir kopi, atau sekadar hadir menemani.

“Belas kasih dimulai dari tindakan-tindakan kecil,” kata Paus. “Tujuannya bukan menyelesaikan semuanya, melainkan menyerahkan semuanya ke dalam tangan Allah dan hadir di tempat orang-orang menderita.”

Paus Leo XIV dalam pertemuan dengan para imigran dan mereka yang menyelamatkan serta mendampingi para imigran di Las Palmas de Gran Canaria
Paus Leo XIV dalam pertemuan dengan para imigran dan mereka yang menyelamatkan serta mendampingi para imigran di Las Palmas de Gran Canaria   (@Vatican Media)

Pesan bagi korban perdagangan manusia

Salah satu kesaksian yang paling mengharukan datang dari kisah Blessing, seorang perempuan Nigeria yang menjadi korban perdagangan manusia dan eksploitasi seksual. Kesaksiannya dibacakan oleh orang lain demi alasan keamanan.

Ia menceritakan bagaimana kemiskinan memaksanya meninggalkan tanah kelahirannya, bagaimana ia menjadi korban ritual pemaksaan, menyeberangi laut dalam kondisi yang mengerikan, dan akhirnya dipaksa menjadi pekerja seks.

Menanggapi kisah itu secara langsung, Paus Leo menyampaikan kata-kata penghiburan dan peneguhan.

“Jika orang lain telah memberi harga pada tubuhmu, ketahuilah bahwa Allah tidak pernah berhenti mengakui nilai dirimu yang tak ternilai,” katanya.

“Jika orang lain memperlakukanmu seperti benda, Gereja ingin mengatakan kepadamu hari ini bahwa engkau adalah seorang putri dan seorang saudari; engkau adalah berkat.”

Ia menegaskan bahwa martabat para korban perdagangan manusia tetap utuh meskipun mereka telah mengalami kekerasan. “Hidupmu adalah milik Allah, yang telah menganugerahkan kepadamu martabat yang tidak dapat dirampas siapa pun,” tegasnya.

Paus Leo XIV dalam pertemuan dengan para imigran dan mereka yang menyelamatkan serta mendampingi para imigran di Las Palmas de Gran Canaria
Paus Leo XIV dalam pertemuan dengan para imigran dan mereka yang menyelamatkan serta mendampingi para imigran di Las Palmas de Gran Canaria   (@Vatican Media)

Seruan kepada Eropa dan dunia

Sambil menegaskan bahwa ia menundukkan kepala di hadapan setiap imigran yang bermartabat, Paus Leo berbicara langsung kepada mereka. “Anda bukan sekadar angka atau berkas administrasi. Anda adalah manusia yang telah meninggalkan keluarga dan rumah. Anda memiliki impian yang tidak berhak diremehkan oleh siapa pun.”

Pada saat yang sama, ia memperingatkan para pelaku perdagangan manusia dan jaringan kriminal yang memanfaatkan keputusasaan, dengan menyebut janji-janji palsu mereka sebagai “nyanyian sirene” dan “industri kematian”.

Memperluas seruannya kepada pemerintah dan lembaga-lembaga internasional, ia menegaskan bahwa tanggung jawab harus dipikul bersama. Tragedi migrasi, katanya, menantang negara asal untuk menciptakan kondisi damai, keadilan, dan pembangunan; menantang negara transit untuk melindungi kelompok rentan dari jaringan kriminal; dan menantang Eropa agar tidak terbiasa melihat Laut Mediterania dan Samudra Atlantik berubah menjadi “kuburan tanpa nama”.

“Tidak cukup hanya mengelola kedatangan, membagikan statistik, memperkuat perbatasan, atau meratapi kematian setelah semuanya terjadi,” tegasnya.

“Setiap perahu yang tiba membawa sebuah pertanyaan bersama para imigran,” kata Paus Leo, yaitu: “Dunia seperti apa yang telah kita bangun sehingga begitu banyak saudara-saudari kita harus mempertaruhkan nyawa demi mencari kehidupan?”

Hak untuk tidak bermigrasi

Paus Leo juga menegaskan bahwa kebijakan migrasi harus berakar pada penghormatan terhadap martabat manusia. Ia menyerukan jalur migrasi yang legal dan aman, perlindungan efektif bagi korban perdagangan manusia, kerja sama internasional melawan penyelundup manusia, serta proses penerimaan dan integrasi yang sungguh bermakna.

Sambil menegaskan kembali hak untuk mencari perlindungan, ia juga berbicara tentang hak lain yang sering kali diabaikan: hak untuk tidak dipaksa meninggalkan tanah air.

“Ada juga hak untuk tidak harus bermigrasi,” katanya, yaitu hak untuk tetap tinggal di tanah kelahiran yang bebas dari kelaparan, perang, penganiayaan, korupsi, dan kerusakan lingkungan.

Paus Leo XIV dalam pertemuan dengan para imigran dan mereka yang menyelamatkan serta mendampingi para imigran di Las Palmas de Gran Canaria
Paus Leo XIV dalam pertemuan dengan para imigran dan mereka yang menyelamatkan serta mendampingi para imigran di Las Palmas de Gran Canaria   (@Vatican Media)

Apa yang tersisa dari kemanusiaan kita?

Pertemuan ditutup dengan acara tabur bunga dan doa hening selama satu menit untuk mengenang para imigran yang meninggal saat berusaha menyeberangi laut. Setelah itu, Paus memberkati sebuah salib yang dibuat dari kayu perahu imigran di dekat Tempat Ziarah Bunda Maria Gunung Karmel, pelindung para pelaut.

Sebelum berangkat, ia menyapa para relawan dan imigran yang berkumpul di sepanjang tepian pelabuhan, sementara peringatannya terus bergema:

“Hari ini, di tepi laut ini, setiap orang yang datang bertanya kepada kita: apa yang tersisa dari kemanusiaan kita? (...) Cepat atau lambat akan diketahui apakah kita melindungi kehidupan atau justru menyerah pada sikap acuh tak acuh.”

Saksikan Video Lengkap Pertemuan di Pelabuhan Arguineguin
11 Jun 2026, 12:32