Dalam Doa Angelus, Paus : Rahmat Allah Diberikan Cuma-Cuma dan Harus Dibagikan
Oleh Devin Watkins
Paus Leo XIV memimpin doa Angelus bersama para peziarah yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus pada hari Minggu.
Merenungkan Injil hari itu (Mat 9:36–10:8), Paus mengingat kembali tatapan Yesus yang melihat “orang banyak yang lelah dan terlantar” lalu tergerak oleh belas kasih terhadap mereka.
“Putra Allah memandang manusia; Ia memandang umat manusia. Ia melihat penindasan yang membebani dan kekerasan yang menguras kekuatan,” kata Paus. “Ia melihat luka-luka akibat perang dan kehampaan yang ditimbulkan oleh konsumerisme. Ia melihat wajah-wajah yang berubah menjadi topeng, keluarga-keluarga yang tercerai-berai akibat kejahatan, dan kaum muda yang disesatkan oleh cita-cita palsu.”
Yesus melihat dan mengasihi kita, lanjut Paus, seraya menegaskan bahwa belas kasih-Nya merupakan tanda bahwa Dia begitu dekat dan menganggap manusia sebagai saudara sekaligus sebagai ungkapan kerinduan-Nya menebus manusia.
Ketika melihat begitu banyak orang berada seperti “domba tanpa gembala”, Yesus mengutus para murid-Nya ke seluruh dunia dengan tugas menghadirkan penghiburan Allah bagi setiap orang yang menderita.
Menurut Paus Leo, tugas umat Kristiani adalah membawa “kasih di tempat yang penuh kesengsaraan, harapan di tengah penderitaan, dan iman di tengah ketidakpercayaan.”
Paus mencatat bahwa Injil menyebut nama dua belas pekerja pertama, mulai dari Petrus hingga Yudas Iskariot, sebagai pengingat bahwa bahkan para pengikut Yesus pun dapat mengkhianati-Nya.
Namun demikian, Injil tetap menjadi sabda yang hidup dan benar sepanjang zaman, tetap sama tetapi selalu muda, segar, dan membebaskan.
“Ketika Injil diwartakan dan dihayati,” katanya, “kejahatan runtuh seperti penyakit yang berlalu, seperti malam yang berganti fajar, seperti kematian yang ditaklukkan oleh Dia yang bangkit.”
Karena itu, tatapan Yesus mengubah kenyataan, memenuhi kita dengan kasih-Nya dan menuntun kita melanjutkan misi para rasul membagikan anugerah yang diberikan-Nya secara cuma-cuma.
“Karunia Yesus sepenuhnya diberikan secara gratis, karena nilainya melampaui segala ukuran; mustahil bisa diperoleh karena jasa-jasa kita atau bahkan membelinya,” kata Paus. “Rahmat ini adalah nama indah yakni Allah yang Maha Rahim, yang selalu mencari di mana pun kita berada serta menarik kita kepada-Nya.”
Sebagai penutup, Paus Leo XIV mendorong umat Kristiani untuk mewartakan Injil kepada dunia dengan membagikan pengampunan Allah melalui pelayanan kepada kaum miskin dan komitmen terhadap keadilan.
“Mari kita memohon bantuan Perawan Maria yang penuh rahmat,” ujarnya, “agar kita dapat menjawab dengan sukacita dan keberanian atas panggilan dan misi yang dipercayakan Yesus kepada kita.”
