JRS: Kunjungan Paus ke Lampedusa Soroti Wajah Manusiawi Migrasi
By Linda Bordoni
Dalam wawancara dengan Vatican News, Valcárcel menilai kunjungan Paus ke Lampedusa memiliki makna simbolis yang sangat penting. Pulau kecil di Laut Mediterania itu telah lama menjadi salah satu pintu masuk utama bagi para migran dan pengungsi yang berusaha mencapai Eropa.
Kunjungan ini juga mengingatkan dunia pada perjalanan apostolik pertama mendiang Paus Fransiskus ke Lampedusa pada tahun 2013. Saat itu, Paus Fransiskus mengecam apa yang disebutnya sebagai “globalisasi ketidakpedulian” dan mengajukan pertanyaan yang masih relevan hingga kini: “Di manakah saudaramu?”
Menurut Valcárcel, Paus Leo XIV melanjutkan warisan pastoral tersebut dengan menempatkan martabat manusia sebagai pusat perhatian Gereja.
Ia menambahkan bahwa Paus secara konsisten mengingatkan Gereja dan masyarakat internasional untuk memberi perhatian kepada kaum miskin, kelompok rentan, dan mereka yang tersingkir dari kehidupan sosial.
Menghidupkan Semangat Perlindungan Pengungsi
Valcárcel juga menyoroti peringatan 75 tahun Konvensi Pengungsi 1951 yang baru-baru ini disinggung Paus Leo XIV. Dalam kesempatan itu, Paus menegaskan pentingnya perjanjian internasional yang lahir setelah Perang Dunia II tersebut sebagai dasar perlindungan hukum bagi para pengungsi di seluruh dunia.
Pada doa Angelus 21 Juni lalu, Paus berharap semangat yang melahirkan konvensi tersebut tetap menjadi inspirasi bagi para pemimpin bangsa dalam menghadapi tantangan migrasi masa kini.
Melanjutkan Jejak Paus Fransiskus
Menurut JRS, Paus Leo XIV terus menggemakan empat prinsip yang selama ini menjadi dasar pendekatan Gereja terhadap migrasi, yaitu: menyambut, melindungi, memberdayakan, dan mengintegrasikan.
Valcárcel menegaskan bahwa migrasi tidak boleh dipandang sekadar sebagai fenomena statistik.
“Migrasi bukanlah sebuah fenomena. Migrasi adalah nama-nama, wajah-wajah, dan manusia dengan kisah hidup serta keluarga mereka. Kita semua bisa menjadi migran atau pengungsi,” katanya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat internasional untuk melihat para migran sebagai pribadi yang memiliki martabat dan hak yang sama seperti siapa pun.
Suara bagi Konflik yang Terlupakan
Valcárcel juga mengapresiasi perhatian Paus terhadap berbagai konflik yang jarang mendapat sorotan dunia internasional. Dalam berbagai kesempatan, Paus Leo XIV terus mengingatkan umat akan penderitaan masyarakat di negara-negara seperti Myanmar dan Sudan.
Baginya, perhatian terhadap konflik-konflik yang terlupakan itu sangat penting karena perang, kekerasan, dan ketidakstabilan politik merupakan penyebab utama migrasi paksa.
Menolak Kebijakan yang Mengabaikan Hak Asasi
Meski JRS tidak memiliki kantor langsung di Lampedusa, organisasi tersebut mendampingi banyak migran yang tiba melalui pulau itu melalui berbagai program di Sisilia, termasuk bantuan hukum, layanan kesehatan, kursus bahasa Italia, pendampingan pekerjaan, hingga pelayanan pastoral.
Valcárcel mengingatkan bahwa kebijakan migrasi harus tetap menghormati hukum internasional dan prinsip-prinsip hak asasi manusia, termasuk prinsip non-refoulement, yaitu larangan mengembalikan seseorang ke negara atau wilayah yang mengancam keselamatan dan kebebasannya.
Ia juga menyoroti kritik Paus Leo XIV terhadap kebijakan deportasi massal yang hanya didasarkan pada status seseorang sebagai migran tanpa mempertimbangkan kondisi dan situasi pribadinya.
Mengembalikan Wajah Manusia dalam Migrasi
Bagi Valcárcel, salah satu kontribusi terpenting Paus Leo XIV adalah upayanya mengembalikan wajah manusiawi dalam perdebatan publik mengenai migrasi. Ia menegaskan bahwa para pengungsi bukan sekadar angka statistik atau label administratif, melainkan pribadi-pribadi dengan sejarah, keluarga, dan harapan hidup.
“Martabat dan keindahan manusia harus selalu menjadi pusat perhatian,” ujarnya.
Menurutnya, mendengarkan kisah-kisah para pengungsi dapat membantu masyarakat mengatasi stereotip dan menumbuhkan empati. Banyak pengungsi, katanya, hanya menginginkan satu hal sederhana: diakui sebagai sesama manusia.
“Saya adalah manusia seperti Anda,” demikian kesaksian yang sering ia dengar dari mereka yang terpaksa meninggalkan rumah dan tanah kelahirannya demi mencari keselamatan.