Mengenang Mereka yang Hilang di Laut Saat Menyeberang (Remembering those lost at sea during the crossing Mengenang Mereka yang Hilang di Laut Saat Menyeberang (Remembering those lost at sea during the crossing 

JRS: Kunjungan Paus ke Lampedusa Soroti Wajah Manusiawi Migrasi

Menjelang kunjungan Paus Leo XIV ke Pulau Lampedusa, Italia, penasihat advokasi internasional Jesuit Refugee Service (JRS), Amaya Valcárcel, mengatakan bahwa perhatian Paus terhadap para migran dan pengungsi merupakan pengingat kuat akan penderitaan jutaan orang yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka akibat perang, konflik, dan penganiayaan.

By Linda Bordoni

Dalam wawancara dengan Vatican News, Valcárcel menilai kunjungan Paus ke Lampedusa memiliki makna simbolis yang sangat penting. Pulau kecil di Laut Mediterania itu telah lama menjadi salah satu pintu masuk utama bagi para migran dan pengungsi yang berusaha mencapai Eropa.

Kunjungan ini juga mengingatkan dunia pada perjalanan apostolik pertama mendiang Paus Fransiskus ke Lampedusa pada tahun 2013. Saat itu, Paus Fransiskus mengecam apa yang disebutnya sebagai “globalisasi ketidakpedulian” dan mengajukan pertanyaan yang masih relevan hingga kini: “Di manakah saudaramu?”

Menurut Valcárcel, Paus Leo XIV melanjutkan warisan pastoral tersebut dengan menempatkan martabat manusia sebagai pusat perhatian Gereja.

Dengarkan cuplikan wawancara dengan Amaya Valcarcel

Ia menambahkan bahwa Paus secara konsisten mengingatkan Gereja dan masyarakat internasional untuk memberi perhatian kepada kaum miskin, kelompok rentan, dan mereka yang tersingkir dari kehidupan sosial.

Monumen Gateway to Europe di Lampedusa, Italia, yang menjadi simbol harapan dan penghormatan bagi para migran dan pengungsi yang menyeberangi Laut Mediterania.
Monumen Gateway to Europe di Lampedusa, Italia, yang menjadi simbol harapan dan penghormatan bagi para migran dan pengungsi yang menyeberangi Laut Mediterania.

Menghidupkan Semangat Perlindungan Pengungsi

Valcárcel juga menyoroti peringatan 75 tahun Konvensi Pengungsi 1951 yang baru-baru ini disinggung Paus Leo XIV. Dalam kesempatan itu, Paus menegaskan pentingnya perjanjian internasional yang lahir setelah Perang Dunia II tersebut sebagai dasar perlindungan hukum bagi para pengungsi di seluruh dunia.

Pada doa Angelus 21 Juni lalu, Paus berharap semangat yang melahirkan konvensi tersebut tetap menjadi inspirasi bagi para pemimpin bangsa dalam menghadapi tantangan migrasi masa kini.

Melanjutkan Jejak Paus Fransiskus

Menurut JRS, Paus Leo XIV terus menggemakan empat prinsip yang selama ini menjadi dasar pendekatan Gereja terhadap migrasi, yaitu: menyambut, melindungi, memberdayakan, dan mengintegrasikan.

Valcárcel menegaskan bahwa migrasi tidak boleh dipandang sekadar sebagai fenomena statistik.

“Migrasi bukanlah sebuah fenomena. Migrasi adalah nama-nama, wajah-wajah, dan manusia dengan kisah hidup serta keluarga mereka. Kita semua bisa menjadi migran atau pengungsi,” katanya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat internasional untuk melihat para migran sebagai pribadi yang memiliki martabat dan hak yang sama seperti siapa pun.

Migran dan Pengungsi Mendapatkan Bantuan di Pusat Penampungan Lampedusa
Migran dan Pengungsi Mendapatkan Bantuan di Pusat Penampungan Lampedusa   (ANSA)

Suara bagi Konflik yang Terlupakan

Valcárcel juga mengapresiasi perhatian Paus terhadap berbagai konflik yang jarang mendapat sorotan dunia internasional. Dalam berbagai kesempatan, Paus Leo XIV terus mengingatkan umat akan penderitaan masyarakat di negara-negara seperti Myanmar dan Sudan.

Baginya, perhatian terhadap konflik-konflik yang terlupakan itu sangat penting karena perang, kekerasan, dan ketidakstabilan politik merupakan penyebab utama migrasi paksa.

Menolak Kebijakan yang Mengabaikan Hak Asasi

Meski JRS tidak memiliki kantor langsung di Lampedusa, organisasi tersebut mendampingi banyak migran yang tiba melalui pulau itu melalui berbagai program di Sisilia, termasuk bantuan hukum, layanan kesehatan, kursus bahasa Italia, pendampingan pekerjaan, hingga pelayanan pastoral.

Valcárcel mengingatkan bahwa kebijakan migrasi harus tetap menghormati hukum internasional dan prinsip-prinsip hak asasi manusia, termasuk prinsip non-refoulement, yaitu larangan mengembalikan seseorang ke negara atau wilayah yang mengancam keselamatan dan kebebasannya.

Ia juga menyoroti kritik Paus Leo XIV terhadap kebijakan deportasi massal yang hanya didasarkan pada status seseorang sebagai migran tanpa mempertimbangkan kondisi dan situasi pribadinya.

Program Jesuit Refugee Service (JRS) memberikan pelatihan dan pendampingan untuk mendukung integrasi para pengungsi ke dalam masyarakat setempat.
Program Jesuit Refugee Service (JRS) memberikan pelatihan dan pendampingan untuk mendukung integrasi para pengungsi ke dalam masyarakat setempat.   (@JRS)

Mengembalikan Wajah Manusia dalam Migrasi

Bagi Valcárcel, salah satu kontribusi terpenting Paus Leo XIV adalah upayanya mengembalikan wajah manusiawi dalam perdebatan publik mengenai migrasi. Ia menegaskan bahwa para pengungsi bukan sekadar angka statistik atau label administratif, melainkan pribadi-pribadi dengan sejarah, keluarga, dan harapan hidup.

“Martabat dan keindahan manusia harus selalu menjadi pusat perhatian,” ujarnya.

Menurutnya, mendengarkan kisah-kisah para pengungsi dapat membantu masyarakat mengatasi stereotip dan menumbuhkan empati. Banyak pengungsi, katanya, hanya menginginkan satu hal sederhana: diakui sebagai sesama manusia.

“Saya adalah manusia seperti Anda,” demikian kesaksian yang sering ia dengar dari mereka yang terpaksa meninggalkan rumah dan tanah kelahirannya demi mencari keselamatan.

Amaya Varcarcel
Amaya Varcarcel   (@JRS)
03 Jul 2026, 09:52