Cari

Upaya penyelamatan korban terus dilakukan di Venezuela setelah gempa bumi yang mematikan Upaya penyelamatan korban terus dilakukan di Venezuela setelah gempa bumi yang mematikan  (ANSA)

Imam Venezuela: Sejumlah Wilayah Tidak Lagi Dapat Dikenali Setelah Gempa Bumi

Rektor Seminari Keuskupan La Guaira, Pastor Wuilliam Vázquez, membagikan keprihatinan dan kesedihan umatnya setelah gempa bumi yang melanda Venezuela dan menewaskan lebih dari 1.900 orang.

Oleh Johan Pacheco

“Skala bencana ini sangat besar. Wilayah La Guaira merupakan daerah yang paling terdampak di seluruh negeri. Ada beberapa tempat yang hampir tidak dapat dikenali lagi karena semuanya telah hancur... kawasan-kawasan yang kemungkinan harus dikosongkan dan ditinggalkan,” kata Pastor Wuilliam José Vázquez Toro, rektor Seminari Santo Petrus Rasul di La Guaira, Venezuela, setelah gempa bumi dahsyat yang mengguncang negara itu pada 24 Juni dan juga menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas seminari.

Di La Guaira, operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung tanpa henti, seminggu setelah gempa bumi terjadi, dengan harapan menemukan sebanyak mungkin korban yang masih selamat.

Jumlah korban jiwa kini telah melampaui 1.900 orang, sementara lebih dari 10.000 orang mengalami luka-luka. Sekitar 50.000 orang masih dinyatakan hilang dan dikhawatirkan meninggal dunia. Data resmi juga menunjukkan hampir 16.000 orang mengungsi atau terdampak bencana tersebut, sedangkan 855 bangunan mengalami kerusakan.

“Ada sejumlah kawasan yang pada masa mendatang harus dipertimbangkan kembali, terutama terkait pemindahan seluruh penduduk dan para penyintas ke tempat lain,” ujar Pastor Vázquez kepada Vatican News.

“Banyak bangunan dilaporkan runtuh, dan gempa susulan masih terus terjadi. Karena gempa susulan tersebut, masyarakat diminta tetap tenang namun juga sangat waspada, sebab ada sejumlah lokasi yang berisiko ambruk sewaktu-waktu. Kini tugas terbesar dimulai, yaitu mendampingi masyarakat melewati situasi ini,” katanya.

Bangunan-bangunan yang rusak di La Guaira.
Bangunan-bangunan yang rusak di La Guaira.   (AFP or licensors)

Harapan dalam Upaya Penyelamatan

Pastor Vázquez menjelaskan bahwa proses penyelamatan masih terus berlangsung.

“Orang-orang masih berhasil diselamatkan. Sebagai contoh, tadi malam di dekat seminari kami, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun berhasil dievakuasi hidup-hidup dari reruntuhan, meskipun gempa terjadi pada Rabu malam pekan lalu.”

“Kami berada di sini untuk membantu dan mendampingi masyarakat. Solidaritas yang luar biasa telah terlihat. Kami menyaksikannya baik dari tim penyelamat yang datang dari berbagai daerah maupun dari kekuatan dan daya juang rakyat Venezuela,” ujar Pastor Vázquez.

Meski demikian, “Gereja saat ini memiliki pusat-pusat pengumpulan dan distribusi bantuan, baik di La Guaira maupun di beberapa lokasi lainnya. Bantuan terus disalurkan ke berbagai wilayah terdampak, terutama kepada komunitas yang mengalami kerusakan paling parah dan mereka yang paling membutuhkan.”

Keuskupan La Guaira Kehilangan Seminari

Rektor Seminari Santo Petrus Rasul itu juga melaporkan bahwa bangunan seminari mengalami kerusakan yang sangat serius.

“Kami praktis kehilangan seminari karena setelah dilakukan penilaian terhadap bangunan, kemungkinan besar kami tidak akan dapat kembali menggunakannya. Kondisinya sangat buruk. Namun, seminari itu adalah kami sendiri,” katanya.

Ia juga memuji keberanian para seminaris yang segera terlibat dalam upaya membantu para korban bencana.

“Saya mengatakan kepada mereka bahwa hal ini menunjukkan bahwa, dengan rahmat Tuhan, mereka akan menjadi imam-imam yang baik. Saya mengingatkan mereka bahwa seminari adalah diri mereka masing-masing, dan inilah saatnya untuk meneguhkan kembali panggilan Allah untuk melayani Kristus dan melayani Gereja.”

Situasi Kemanusiaan Semakin Memburuk

Komisariat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR), yang mengoordinasikan upaya perlindungan dan penyediaan tempat penampungan bagi para pengungsi akibat gempa bumi di Venezuela, pada Selasa menyatakan bahwa situasi kemanusiaan di wilayah terdampak “memburuk dengan sangat cepat.”

Menurut badan tersebut, saat ini terjadi “kekurangan pangan yang serius, runtuhnya layanan-layanan dasar, serta meningkatnya risiko perlindungan bagi penduduk yang mengungsi.”

01 Jul 2026, 12:32