Cari

2024.01.04   San Pietro cupolone Petersdom Petersplatz

Dialog Perlindungan Anak di Roma Perkuat Komitmen Gereja Melawan Kekerasan dan Pelecehan

Upaya Gereja Katolik untuk memperkuat perlindungan terhadap anak-anak dan kelompok rentan memasuki babak baru melalui penyelenggaraan Rome Safeguarding Dialogues, sebuah forum dialog yang mempertemukan wakil korban pelecehan dengan para pemimpin Gereja guna membangun kerja sama yang lebih erat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan.

Vatican News

Dialog yang berlangsung pada 15–16 Juni 2026 di Palazzo Maffei, Roma, mempertemukan anggota Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak (Pontifical Commission for the Protection of Minors) dan perwakilan Ending Clergy Abuse (ECA), sebuah jaringan internasional yang memperjuangkan hak-hak korban pelecehan dalam Gereja.

Pertemuan ini menjadi dialog tatap muka terstruktur pertama antara kedua pihak dan dipandang sebagai langkah penting dalam memperkuat sistem perlindungan anak, mendukung para korban dan penyintas, serta meningkatkan akuntabilitas dalam kehidupan Gereja.

Berangkat dari Mendengarkan Korban 

Inisiatif ini lahir dari usulan Pope Leo XIV setelah pertemuannya dengan Dewan ECA pada Oktober 2025. Selama dua hari, peserta terlibat dalam proses dialog yang berpusat pada pengalaman korban, semangat mendengarkan, kerja sama, dan pencarian langkah-langkah konkret.

Membuka pertemuan tersebut, Monsinyur Thibault Verny, Presiden Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak, menegaskan bahwa Gereja memiliki tanggung jawab moral untuk mendengarkan para korban dan penyintas pelecehan.

Menurutnya, mendengarkan tidak cukup berhenti pada ungkapan simpati, tetapi harus menghasilkan tindakan nyata agar dapat menjadi langkah yang kredibel dan efektif.

Sementara itu, Gemma Hickey, Presiden Dewan ECA, menekankan pentingnya membangun dialog dengan rasa ingin tahu, kebaikan hati, dan harapan. Ia mengingatkan bahwa melindungi anak-anak dan mereka yang berada dalam situasi rentan merupakan tanggung jawab bersama seluruh Gereja.

Memperkuat Kebijakan dan Standar Perlindungan

Dalam berbagai sesi diskusi, para peserta membahas hak-hak korban, tanggung jawab institusi, keadilan, serta standar perlindungan yang perlu diterapkan secara konsisten di seluruh Gereja.

Perhatian khusus diberikan pada bagaimana pengalaman para korban dan penyintas dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan, mekanisme pelaporan, serta pengembangan praktik perlindungan yang lebih efektif. Tujuannya adalah membangun budaya transparansi dan akuntabilitas yang semakin kuat.

Pada kesempatan itu, Komisi Kepausan juga memperkenalkan statuta baru yang telah diberlakukan sebagai kerangka kerja yang diperbarui untuk perlindungan anak dan kelompok rentan dalam Gereja.

Para peserta juga memperoleh penjelasan mengenai metodologi yang digunakan dalam Laporan Tahunan Komisi, termasuk keterlibatan para korban dan penyintas dalam mengevaluasi penerapan kebijakan perlindungan di Gereja-Gereja lokal di berbagai negara.

Perlindungan yang Menjangkau Semua Kelompok Rentan

Selain membahas perlindungan anak-anak, dialog tersebut juga menyoroti pentingnya memperluas perhatian kepada seluruh kelompok rentan dalam Gereja.

Para peserta menegaskan bahwa upaya perlindungan harus mencakup para biarawati, imam, seminaris, anggota gerakan awam, serta siapa pun yang berada dalam situasi rentan terhadap penyalahgunaan kekuasaan, kekerasan, atau pelecehan.

Mereka juga mengakui bahwa penerapan kebijakan perlindungan masih menghadapi berbagai tantangan, seperti perbedaan budaya di berbagai negara, pelaksanaan yang belum merata, serta keterbatasan sumber daya di sejumlah wilayah Gereja.

Komitmen untuk Melangkah Bersama

Pada akhir pertemuan, para peserta sepakat untuk melanjutkan dialog dan memperkuat kerja sama dalam berbagai inisiatif advokasi serta pendidikan mengenai perlindungan anak dan kelompok rentan.

Mereka juga berkomitmen untuk memperluas keterlibatan komunitas korban dan penyintas dalam proses pengambilan keputusan, sekaligus mencari solusi atas berbagai hambatan yang masih menghalangi implementasi kebijakan perlindungan di tingkat lokal.

Pertemuan ditutup dengan tekad bersama untuk terus mengembangkan pendekatan yang berpusat pada korban dan penyintas serta mendorong langkah-langkah praktis guna membangun Gereja yang semakin aman bagi semua orang.

Melalui Rome Safeguarding Dialogues, Gereja kembali menegaskan bahwa perlindungan terhadap anak-anak dan kelompok rentan bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan bagian penting dari misi Gereja untuk menghadirkan keadilan, penyembuhan, dan penghormatan terhadap martabat setiap pribadi manusia.

16 Jun 2026, 16:00