Paus Yohanes Paulus II pada Pertemuan Rimini tahun 1982 Paus Yohanes Paulus II pada Pertemuan Rimini tahun 1982 

Pertemuan Rimini: Paus Leo mengikuti jejak Yohanes Paulus II

Selama lebih dari 45 tahun, Pertemuan Rimini telah mempertemukan orang-orang dari berbagai budaya, agama, dan latar belakang, menjadi ruang untuk berdialog dan mencari apa yang menyatukan kita. Pada 22 Agustus, Paus Leo XIV akan menjadi paus kedua, setelah St. Yohanes Paulus II, yang mengunjungi Pertemuan tersebut secara langsung.

Oleh Rm. Łukasz Bankowski

Sejarah Pertemuan untuk Persahabatan Antarbangsa, yang juga dikenal sebagai Pertemuan Rimini, bermula pada akhir tahun 1970-an. Di antara sekelompok sahabat di Rimini yang memiliki pengalaman hidup Kristiani, muncul keinginan untuk menemukan dan membagikan kepada orang lain apa yang indah dan baik dalam kebudayaan masa kini. Demikianlah, pada tahun 1980, Pertemuan ini lahir.

Sejak awal, Pertemuan ini dimaksudkan sebagai tempat di mana orang-orang dari berbagai budaya dan agama dapat berjumpa, sebuah ruang untuk membangun perdamaian, hidup berdampingan, dan persahabatan antarbangsa. Yang menjadi landasannya adalah keyakinan bahwa manusia dipersatukan oleh kerinduan akan kebenaran, kebaikan, keindahan, dan keadilan. Rm. Luigi Giussani, pendiri gerakan Communion and Liberation, menyebut kesamaan dasar ini sebagai “pengalaman elementer”.

Orang-orang dari berbagai budaya dan agama berkumpul

Selama lebih dari empat dekade, para perwakilan dari dunia politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, agama, kebudayaan, dan olahraga telah datang ke Rimini. Pertemuan, diskusi, pameran, dan pertunjukan membahas berbagai tantangan sosial dan politik utama, serta topik-topik yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, seni, sastra, dan ekonomi.

Salah satu ciri khas Pertemuan ini tetaplah keterbukaannya terhadap dialog. Orang-orang Kristiani dari berbagai denominasi—orang Yahudi, Muslim, Buddha, serta mereka yang tidak beriman—semuanya turut ambil bagian. Perbedaan di antara manusia tidak dimaksudkan sebagai penghalang, melainkan sebagai kesempatan untuk berjumpa, saling mengenal, dan bersama-sama mencari kebenaran.

Jantung Pertemuan

Salah satu ciri khas acara ini adalah ribuan sukarelawan yang setiap tahun datang ke Rimini dari berbagai wilayah Italia dan negara-negara lain. Mereka menanggung sendiri biaya perjalanan dan akomodasi mereka. Setibanya di sana, mereka mempersiapkan tempat-tempat acara, membantu pelaksanaan berbagai kegiatan, mendampingi para peserta, dan setelah Pertemuan berakhir, mereka juga membantu membongkar berbagai fasilitas.

Pekerjaan mereka dimaksudkan sebagai kesaksian konkret tentang sikap tanpa pamrih—salah satu nilai yang sejak awal menjadi dasar dari acara ini.

Mengikuti jejak Paus Yohanes Paulus II

Paus St. Yohanes Paulus II memiliki tempat yang istimewa dalam sejarah Pertemuan ini.

Paus asal Polandia itu secara langsung menghadiri acara tersebut pada 29 Agustus 1982, ketika Pertemuan itu baru diselenggarakan untuk ketiga kalinya. Dalam menyapa para peserta, ia menekankan pentingnya gagasan yang melandasi pertemuan tersebut: “Pertemuan! Sebuah pertemuan persahabatan! Persahabatan antarbangsa!” Sebagaimana dikatakannya, kata-kata tersebut memiliki makna khusus “pada saat-saat sejarah dunia yang sering kali dramatis ini”.

Paus Yohanes Paulus II juga mengingatkan bahwa Pertemuan tersebut lahir dari persahabatan sekelompok orang Kristiani di Rimini dan dari “semangat untuk berkomunikasi, kreativitas, dan dialog” yang mengalir dari iman yang dihayati. Pada akhir pesannya, ia meninggalkan sebuah seruan yang kuat kepada para peserta: “Peradaban kasih! (…) Saudara-saudari, bangunlah peradaban ini tanpa kenal lelah!”


Paus Leo XIV akan menjadi paus kedua yang secara langsung mengambil bagian dalam acara ini. Kehadirannya pada 22 Agustus karena itu akan menandai satu lagi momen penting dalam sejarah pertemuan-pertemuan di Rimini yang telah berlangsung selama lebih dari 45 tahun.

Paus akan mengunjungi lokasi Pertemuan dan meluangkan waktu untuk menyapa para pesertanya. Selama berada di kota tersebut, ia juga akan bertemu dengan orang-orang yang sakit, penyandang disabilitas, serta orang-orang yang hidup dalam kemiskinan dan menerima bantuan dari Caritas. Kunjungan tersebut akan ditutup dengan perayaan Ekaristi yang akan dipimpin oleh Paus Leo di Piazzale del Porto.

21 Aug 2026, 12:44