Konflik di Timur Tengah. Konflik di Timur Tengah.   (AFP or licensors)

Pertempuran Berkecamuk dari Ukraina hingga Timur Tengah

Memasuki musim panas, konflik yang berkecamuk di Ukraina, Lebanon, Gaza, dan Iran terus berlangsung tanpa jeda. Serangan dan ketegangan militer masih menimbulkan korban sipil, sementara krisis kemanusiaan dan dampaknya terhadap masyarakat terus memburuk.

Oleh Nathan Morley

Konflik yang mewarnai tahun ini—di Ukraina, Lebanon, Gaza, dan Iran—belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda meskipun musim panas terus berlangsung.

Rusia dan Ukraina masih saling melancarkan serangan pada malam hari. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh Moskwa menggunakan rudal balistik buatan Korea Utara dalam sebuah serangan di Zaporizhzhia yang menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai 19 lainnya.

Zelensky mengatakan semakin banyak rudal dan tentara Korea Utara digunakan dalam perang di Ukraina dan Eropa, semakin besar pula kesempatan bagi pihak tersebut untuk memperbaiki kekurangan dan titik-titik lemahnya.

Di Voronezh, Rusia bagian selatan, pasukan Ukraina menyerang gudang milik Wildberries, perusahaan ritel daring, dalam rangkaian terbaru serangan terhadap infrastruktur perusahaan tersebut.

Serangan itu terjadi sehari setelah pesawat nirawak Ukraina menewaskan sedikitnya 13 orang, termasuk seorang anak, di Republik Tatarstan—wilayah yang berjarak lebih dari 1.100 kilometer dari perbatasan Ukraina.

Gudang-gudang Wildberries juga menjadi sasaran serangan pada Juli. Serangkaian serangan tersebut mengganggu aktivitas perdagangan sejumlah besar perusahaan Rusia.

Warga sipil terus menjadi korban

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan invasi Rusia yang terus berlangsung telah membuat warga sipil terpapar serangan mematikan berulang kali. Para pekerja kemanusiaan dan infrastruktur juga semakin menjadi sasaran.

Toby Fricker dari UNICEF Ukraina mengatakan organisasi tersebut bersama para mitranya di lapangan bekerja di berbagai wilayah untuk memberikan dukungan segera setelah serangan terjadi.

Bantuan itu antara lain berupa pertolongan pertama psikologis serta pendampingan para psikolog bagi keluarga dengan anak-anak yang rumahnya hancur atau rusak, maupun mereka yang tinggal sangat dekat dengan lokasi serangan dan mengalami ketakutan serta guncangan yang sulit dibayangkan oleh mereka yang tidak berada di sana.

Timur Tengah

Sementara itu, di Tepi Barat, tentara Israel menutup akses ke desa Palestina Taybeh, dekat Ramallah, dan menangkap 13 warga Palestina.

Jaringan televisi Israel, Kan TV, melaporkan bahwa kawasan tersebut telah dinyatakan sebagai zona militer tertutup di tengah kekhawatiran akan kemungkinan serangan oleh para pemukim Israel.

Di Lebanon selatan, sebuah pesawat nirawak Israel menyerang ambulans yang dioperasikan oleh Islamic Health Organisation, Bayt al-Talaba, dan Islamic Risala Scouts, demikian dilaporkan Kantor Berita Nasional Lebanon.

Kendaraan-kendaraan tersebut dilaporkan sedang membawa seorang korban dari serangan sebelumnya terhadap sebuah mobil di kawasan Universitas, Nabatieh.

Sementara itu, di Selat Hormuz, tempat krisis pelayaran masih terus berlangsung, badan maritim Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa para pelaut yang terjebak di kapal-kapal di jalur tersebut menghadapi dampak yang semakin berat terhadap kesehatan mental mereka.

Arsenio Dominguez, Kepala Organisasi Maritim Internasional (IMO), mengatakan para pelaut merasa dilupakan karena pemberitaan media lebih banyak berfokus pada kenaikan harga bahan bakar, dampaknya terhadap perekonomian global, dan meningkatnya biaya berbagai kebutuhan.

Menurutnya, perhatian terhadap para pelaut juga diperlukan karena mereka merupakan pekerja yang memiliki peran penting.

Assad dijatuhi hukuman mati secara in absentia

Di Suriah, sebuah pengadilan menjatuhkan hukuman mati secara in absentia kepada mantan Presiden Bashar al-Assad setelah menyatakan dirinya bersalah atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan selama perang saudara.

Ini merupakan vonis pertama yang berhasil dijatuhkan terhadap Assad. Ia melarikan diri ke Moskwa bersama keluarganya setelah pemerintahannya runtuh pada Desember 2024, yang sekaligus mengakhiri lebih dari lima dekade kekuasaan keluarga Assad.

Namun, masih belum jelas apakah pemerintahan baru Suriah akan mampu memperoleh ekstradisi al-Assad dari Rusia. 

11 Aug 2026, 15:21