Odiseus: Manusia dan Monsterdi Dunia yang Sedang Merosot
Oleh Andrea Monda
“Renungkanlah asal-usul kalian; kalian tidak diciptakan untuk hidup seperti binatang, melainkan untuk mengejar kebajikan dan pengetahuan.”
Kata-kata itu diucapkan Odiseus kepada Dante dalam Canto XXVI Inferno yang terkenal. Odiseus inilah—lebih daripada Odiseus dalam karya Homer—yang terlintas dalam pikiran ketika menyaksikan adaptasi film Christopher Nolan tentang pahlawan besar tersebut.
Sang sutradara menghadapi tantangan yang luar biasa besar dan berhasil menggarap mahakarya Homer, meskipun dengan melakukan sejumlah perubahan. Manipulasi semacam itu tidak dapat dihindari ketika sebuah karya tertulis diadaptasi ke layar lebar: sejumlah bagian harus dipotong di sana-sini, dan pembuat film pasti menambahkan sesuatu dari sudut pandangnya sendiri, sehingga kisah abadi Raja Ithaka itu dibawa selangkah lebih jauh.
Bahkan, dapat dikatakan bahwa “tambahan” Nolan lebih berhasil daripada bagian-bagian yang dihilangkannya. Sebab, setiap kali ia menyimpang dari puisi asli, kita tidak dapat menahan diri untuk mengakui bahwa versi Homer lebih unggul.
Contoh yang paling jelas adalah tidak adanya kisah tentang bangsa Phaeacia—Nausicaa dan Alcinous, keramahtamahan mereka, serta adegan ketika Odiseus menangis tersedu-sedu saat mendengarkan seorang penyair menyanyikan kisah tentang petualangan dirinya sendiri.
Demikian pula, pemotongan dialog antara Odiseus, yang menyebut dirinya “Tak seorang pun”, dan Polifemus, atau penggambaran Menelaus sebagai suami Helena yang kasar dan penuh kekerasan, merupakan pilihan yang barangkali sebenarnya dapat dihindari dan tentu saja kurang menguntungkan.
Apa yang Baru?
Lalu, dalam arti yang positif, apa yang ditambahkan Nolan?
Mari kita mencoba mengatakannya sementara kesan-kesan kita masih segar, sambil mengingat bahwa The Odyssey adalah film yang layak ditonton kembali karena begitu kaya akan gagasan dan makna, baik yang tampak jelas maupun yang tersembunyi.
Pertama-tama, Odiseus tidak lagi tampil sebagai seorang pahlawan besar—bahkan mungkin bukan seorang pahlawan sama sekali—melainkan hanya seorang manusia, seorang manusia yang tersiksa. Seorang manusia nyata yang berjuang untuk mengatasi sifat kebinatangan dalam dirinya sendiri, berusaha untuk tidak “hidup seperti binatang”, melainkan mengejar kebajikan.
Namun, ia sering gagal. Sebab setiap manusia senantiasa berdiri di ambang batas itu, selalu berada di tepi kemungkinan untuk menjadi “jahat”: menjadi tawanan naluri-naluri terendah dan kebinatangan dalam dirinya.
Dari sudut pandang ini, adegan ketika penyihir Circe mengubah para prajurit Odiseus menjadi babi—dengan memahat tubuh mereka menggunakan tangannya sendiri—sangat kuat. Ia melakukannya karena, menurut perkataannya, mereka sudah merupakan “babi”, sementara Nolan memperlihatkan mereka sedang melahap makanan dengan rakus.
Sesungguhnya, penilaian Circe dapat dipahami, tetapi merupakan prasangka yang tidak adil. Odiseus datang dan menjelaskan bahwa anak buahnya bukanlah pemangsa atau monster, melainkan orang-orang yang hanya ingin pulang ke rumah.
Kerinduan itu merupakan kondisi manusia itu sendiri.
Odyssey karya Homer adalah kisah nostoi yang paling terkenal—kisah tentang kepulangan para pahlawan Akhaia setelah kemenangan mereka atas Troya. Mereka memang menang, tetapi sesungguhnya mereka juga merupakan pemangsa dan monster.
Hal itu dimulai dari pemimpin mereka sendiri, Agamemnon. Ketika Odiseus menceritakan kepada istrinya, Penelope, tentang pengorbanan tragis yang dilakukan Agamemnon terhadap putrinya, Ifigenia, Penelope berseru bahwa Agamemnon adalah monster. Odiseus menjawab bahwa ia adalah seorang yang saleh.
Sepanjang bagian pertama film, Odiseus tampil sebagai seorang pemimpin “sekuler”, hampir seperti seorang “ateis”, seseorang yang telah melampaui religiositas orang-orang sezamannya—religiositas yang didasarkan pada ketakutan, ketidaktahuan, dan pengorbanan.
Ia menyerupai seorang penguasa zaman Pencerahan yang hadir jauh sebelum waktunya, siap mengejek takhayul rakyatnya.
Namun, sikapnya bukan sekadar penghinaan terhadap agama. Ia sedang mencari sesuatu yang lebih benar, sesuatu yang lebih mendalam dan lebih manusiawi.
Pada awalnya, ia mencarinya dengan hanya percaya kepada dirinya sendiri, mengandalkan kekuatannya sendiri dan mengagungkan kebebasan kehendaknya. Namun perlahan-lahan, ia dipaksa untuk mempertimbangkan kembali sikap tersebut.
Peri Calypso—sekaligus penggoda dan penyembuhnya—membimbingnya menuju sebuah tindakan iman yang sejati: melepaskan kendali dan membiarkan dirinya dibawa oleh arus laut yang selalu menguasainya setiap kali ia berusaha menaklukkannya.
Tindakan penyerahan diri ini bertepatan dengan penerimaan atas keterbatasan dirinya, luka-lukanya, dan monster-monster yang ada di dalam dirinya.
Sesungguhnya, Odiseus abad ke-21 ini adalah seorang manusia yang dikelilingi monster: monster-monster dari luar, yang dikenal oleh miliaran orang yang telah membaca puisi kuno karya Homer, dan monster-monster dari dalam dirinya, yang ditemukan oleh banyak penonton film Nolan.
Hukum Zeus
Satu monster khususnya, sebagaimana telah disebutkan, adalah Agamemnon, raja besar seluruh bangsa Akhaia.
Ia digambarkan hampir seperti manusia-mesin. Kita hampir tidak pernah melihat wajahnya: hanya sekilas sebelum ia dibunuh dan kemudian di Hades, dalam salah satu adegan paling kuat dari seluruh film.
Raja Mykenai ini melambangkan kekuasaan yang dikejar demi kekuasaan itu sendiri—seorang manusia yang telah menggantikan supremasi hukum dengan hukum kekuatan.
Dialah “binatang” yang dengan enggan harus dilayani oleh Odiseus dan yang perilakunya terus-menerus berusaha dilawan oleh Odiseus.
Agamemnon tidak tertarik memulihkan kehormatan saudaranya, Menelaus, yang dikhianati oleh Helena. Ia hanya memanfaatkan situasi tersebut dengan sinisme tanpa belas kasihan untuk memperluas kekuasaannya sendiri.
Hukum yang diinjak-injaknya berulang kali disebut dalam film sebagai “Hukum Zeus”, prinsip yang mengatur hidup bersama dalam suatu peradaban, hukum emas yang kemudian digaungkan dalam Injil: “Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin mereka memperlakukanmu.”
Hukum tersebut didasarkan pada rasa hormat, kesetiaan, pietas, dan keramahtamahan.
Agamemnon melanggarnya secara terbuka dan arogan. Namun Odiseus, meskipun menentangnya, juga melanggarnya dengan cara yang lebih halus, melalui tipu muslihat mengerikan berupa Kuda Troya.
Karena itulah kegelisahan menghantuinya seperti seorang Erinys yang tak kenal lelah.
Pembantaian di Troya membebani hatinya. Perlahan-lahan penonton memahami alasannya, ketika Nolan sedikit demi sedikit mengungkap kengerian pembantaian tersebut melalui ingatan-ingatan sang pahlawan yang penuh kegelisahan.
Dalam pandangan Odiseus sendiri, ia tidak kalah mengerikannya dibandingkan Agamemnon—bahkan mungkin lebih mengerikan—karena melalui kecerdikannya ia menipu orang lain, menghancurkan kepercayaan, melakukan penistaan, menghancurkan aturan yang mengatur hubungan antarmanusia, dan bahkan menodai Athena sendiri, sang dewi yang membantunya sepanjang kisah tersebut.
Cermin bagi Dunia Masa Kini
Di sinilah relevansi menyakitkan dari film ini menjadi nyata.
Yunani kuno menjadi cermin bagi dunia masa kini, sebuah dunia yang terluka oleh perang global yang terpecah-pecah dan oleh tembok-tembok yang dibangun untuk menghalangi para migran; sebuah dunia di mana keramahtamahan ditolak, hukum internasional diabaikan, dan aturan diplomasi setiap hari dipermainkan serta diinjak-injak.
Nolan menggambarkan sebuah peradaban yang sedang merosot—peradaban pada masa keruntuhan Zaman Perunggu, dari mana epos-epos Homer kemudian muncul sebagai memori kolektif.
Ini adalah dunia di mana segelintir orang yang masih memiliki hati nurani berjuang untuk tetap menjadi manusia di tengah titik balik sejarah yang tragis.
Dilema moral Odiseus mengingatkan kita pada dilema Oppenheimer, tokoh utama dalam film Nolan sebelumnya.
Sebagaimana sang ilmuwan tersiksa oleh perannya dalam menciptakan bom atom, demikian pula Odiseus dihantui karena telah merancang sebuah senjata yang tidak hanya tidak terhormat, tetapi juga sangat efektif dalam menghancurkan.
Nolan memberikan kepada pahlawan Homer tersebut beban hati nurani—bahkan mungkin sesuatu yang oleh Hegel disebut sebagai “kesadaran yang tidak bahagia”—yang hanya menemukan penghiburan dan penebusan dalam transendensi, dengan memasuki sebuah alam yang hanya dapat hadir melalui kasih.
Sekali lagi, semangat Dante terasa dalam adegan-adegan penutup, ketika Odiseus berlayar melewati cakrawala, menuju tempat matahari menghilang—bukan sendirian, melainkan bersama Penelope.
Jika Dante membayangkan “penerbangan gila” Odiseus didorong oleh curiositas, maka di sini perjalanan terakhir sang veteran Troya merupakan perjalanan pertobatan dan penyembuhan.
Itu adalah sebuah pengasingan yang, meskipun dibenarkan oleh logika pengorbanan yang memurnikan, menyerupai sebuah eksodus: sebuah keberangkatan yang mengejutkan menuju cakrawala yang belum terlihat.
Dalam hal ini, perjalanan tersebut sangat mengingatkan kita pada perjalanan terakhir Frodo dalam The Lord of the Rings.
Berbeda dengan sahabatnya, Sam, Frodo tidak dapat begitu saja kembali ke rumah. Ia ditakdirkan untuk pergi melampaui batas, mencari “jalan lurus” yang memutus siklus dunia kafir dan memberinya tujuan serta arah—sebuah jalan yang pada akhirnya mengarah kepada kebahagiaan dan keselamatan.
Fatalisme dan kebebasan, takhayul dan akal budi, hati nurani, psikologi, kekuasaan dan diplomasi—semua tema ini dirajut dalam film Nolan yang berdurasi tiga jam tersebut.
Film ini dengan penuh keyakinan mengangkat epos monumental karya Homer, dengan kesadaran penuh bahwa kisah seperti ini akan selalu tetap memikat dan menggugah hati.
Sebagaimana dikatakan Jorge Luis Borges, “Sepanjang sejarah, umat manusia telah menceritakan dua kisah: kisah tentang sebuah kapal yang tersesat mengarungi Laut Tengah untuk mencari sebuah pulau tercinta, dan kisah tentang seorang Allah yang membiarkan diri-Nya disalibkan di Golgota.”
Dalam The Odyssey karya Nolan, kisah pertama diceritakan kembali dalam terang harapan yang ditunjukkan oleh kisah kedua.
Karena itu, keberhasilannya tampaknya sudah terjamin.