Juli 2026: Bulan Juli Terpanas yang Pernah Tercatat Secara Global: “Alarm Iklim Sedang Menyala”
Oleh Kielce Gussie
Musim panas 2026 ditandai oleh gelombang panas yang datang silih berganti. Menurut Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA), Juli tahun ini merupakan bulan Juli terpanas yang pernah tercatat secara global sejak 1850, dan menyamai rekor Juli 2024.
Di berbagai belahan dunia, masyarakat mengalami dampak dari lonjakan suhu tersebut.
Di Jepang, suhu meningkat tajam ketika negara tersebut mengalami periode terpanjang dengan suhu mencapai 40°C (104°F) yang pernah tercatat. Masyarakat menghadapi panas ekstrem, sementara rumah sakit dan sistem kelistrikan terancam mengalami tekanan berat ketika suhu di Afrika Utara mendekati 49°C (120°F).
Eropa mengalami Juli terpanas kedua dalam catatan sejarah, yang kemudian menimbulkan dampak yang menghancurkan. Di Prancis, lebih dari 7.300 orang meninggal dunia akibat jumlah hari dengan suhu tinggi yang mencapai rekor sejak pertengahan Juni, menurut analisis AFP.
Eropa Barat mencatat awal musim panas terpanas yang pernah terjadi, dengan gelombang panas berulang pada Juni dan Juli yang menyebabkan kekeringan serta kebakaran hutan. Belgia, Spanyol, Prancis, Yunani, dan Italia termasuk negara-negara yang harus berjuang menghadapi kebakaran selama bulan-bulan tersebut.
Pada akhir abad ini, sebuah penelitian melaporkan bahwa kebakaran hutan diproyeksikan melanda 39% lebih banyak wilayah Eropa, bahkan jika skenario terbaik untuk mencegah pemanasan planet berhasil diwujudkan. Angka tersebut hanya dapat dikurangi apabila dilakukan tindakan serius untuk meningkatkan pengelolaan kebakaran.
Dari Kebakaran Kecil Menjadi Kobaran Api Besar
Musim kebakaran di Eropa pada 2026 diperkirakan menjadi yang terburuk ketiga dalam catatan sejarah, setelah 2025 dan 2022, berdasarkan data dari European Forest Fire Information Service.
Peningkatan cuaca yang panas, kering, dan berangin telah menyebabkan kebakaran kecil berkembang menjadi kobaran api yang dahsyat, sementara polusi karbon terus meningkatkan suhu bumi.
Para peneliti melaporkan bahwa dalam skenario terburuk, pemanasan global dapat mencapai 3,6°C di atas tingkat praindustri. Jika hal tersebut terjadi, luas wilayah yang terbakar hampir dapat meningkat tiga kali lipat.
Meskipun pengelolaan kebakaran yang lebih baik dapat membantu mengurangi peningkatan luas wilayah yang terbakar hingga lebih dari 70%, penelitian menunjukkan bahwa langkah tersebut tidak akan sepenuhnya menghilangkan dampak perubahan iklim.
Maik Billing, peneliti ekosistem di Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) sekaligus penulis utama penelitian tersebut, menjelaskan bahwa jika “kita terus berada di jalur emisi tinggi … kita masih akan melihat peningkatan besar pada luas wilayah yang terbakar. Pengelolaan kebakaran tidak dapat menggantikan upaya mitigasi perubahan iklim.”
Tinggalkan Batu Bara, Gas, dan Minyak
“Alarm iklim sedang menyala dari segala arah,” demikian peringatan Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB, dalam sebuah pernyataan pada 28 Juli.
Ia menjelaskan bahwa dunia sedang menghadapi bencana yang dipicu oleh perubahan iklim, yang telah mencapai “proporsi yang mengerikan”, sementara biaya akibat ketergantungan umat manusia pada pembakaran batu bara, minyak, dan gas terus meningkat.
Seruan untuk melakukan perubahan sebenarnya telah disampaikan sejak bertahun-tahun lalu. Namun, peralihan menuju tindakan nyata—dari bahan bakar fosil ke energi bersih, serta penekanan pada perlindungan hutan dan lautan—belum berlangsung cukup cepat.
Kebakaran, kekeringan, suhu tinggi, dan berbagai fenomena lainnya kini bukan lagi sekadar teori, melainkan telah menjadi “kenyataan yang dialami miliaran orang di dunia yang semakin cepat memanas,” lanjut Stiell.
Ia menekankan jawaban yang jelas: “Tinggalkan batu bara, minyak, dan gas lebih cepat, tingkatkan penggunaan energi terbarukan, serta lindungi masyarakat di wilayah yang sudah mengalami dampak paling berat.”
Namun, harapan masih tetap ada. Sebagaimana disampaikan Paus Fransiskus dalam ensikliknya tahun 2015, Laudato si’, masih ada waktu untuk menghadapi dan memperbaiki situasi perubahan iklim.
“Umat manusia masih memiliki kemampuan untuk bekerja sama dalam membangun rumah kita bersama … Sungguh, banyak yang dapat dilakukan!” (paragraf 13)
Dalam rangka memperingati 10 tahun penerbitan dokumen tersebut, Paus Leo XIV menyampaikan pidato kepada para peserta konferensi “Raising Hope” yang diselenggarakan di Castel Gandolfo pada Oktober 2025.
Ia kembali menegaskan kata-kata pendahulunya dan menyerukan agar keluarga umat manusia di seluruh dunia bekerja sama untuk “mencari pembangunan yang berkelanjutan dan integral.”
Kini, lebih dari sebelumnya, persoalan-persoalan yang telah diuraikan dalam Laudato si’ semakin relevan dan membutuhkan perhatian segera.