Cari

Team Tanggap Bencana sedang mencari korban sesudah gempa bumi yang menggoncang Pulau Flores di Indonesia di hari  Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Team Tanggap Bencana sedang mencari korban sesudah gempa bumi yang menggoncang Pulau Flores di Indonesia di hari Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga   (AFP or licensors)

Gempa Bumi di Indonesia Tewaskan 38 Orang; Festival Katolik Dibatalkan

Sedikitnya 38 orang tewas dan ribuan lainnya mengungsi setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Pulau Flores, Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Keuskupan Labuan Bajo membatalkan rangkaian acara penutupan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara, sementara perayaan besar pembinaan imamat di Ledalero dipindahkan ke luar ruangan setelah kerusakan akibat gempa membuat kapel dan aula penerimaan tamu tidak lagi aman untuk digunakan.

Oleh Rm. Kasmir Nema, SVD – LABUAN BAJO, Indonesia

Sedikitnya 38 orang meninggal dunia dan ribuan lainnya terpaksa mengungsi setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Pulau Flores pada Sabtu pagi, 15 Agustus.

Gempa tersebut menyebabkan kerusakan luas. Tanah longsor, bangunan yang roboh, serta jalan-jalan yang tertutup dilaporkan terjadi di sejumlah kabupaten. Upaya pencarian dan penyelamatan menjadi lebih sulit akibat kerusakan infrastruktur dan akses yang terbatas menuju beberapa komunitas.

Gempa terjadi pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 05.58 waktu setempat, dengan pusat gempa sekitar 30 kilometer di sebelah timur laut Mbay, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Gempa terjadi di sepanjang Sesar Naik Flores,  salah satu sistem sesar aktif di kawasan tersebut.

Peringatan tsunami sempat membuat warga di daerah pesisir bergerak menuju tempat yang lebih tinggi sebelum peringatan tersebut dicabut. BMKG melaporkan sedikitnya 31 gempa susulan hingga sore hari.

Gempa terjadi ketika umat Katolik di seluruh Flores sedang mempersiapkan perayaan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Di Seminari Tinggi Ritapiret, Sikka, para seminaris, imam, dan biarawati berhamburan keluar ketika bangunan berguncang dan beberapa bagian bangunan mengalami kerusakan. Laporan setempat menyebutkan bahwa seorang imam mengalami patah kaki setelah melompat dari jendela lantai dua.

Kaul kekal dirayakan di luar ruangan di Ledalero

Gempa juga secara dramatis mengubah perayaan kaul kekal di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, tempat 27 seminaris Serikat Sabda Allah (SVD) dijadwalkan mengucapkan kaul mereka pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, perayaan tidak dapat dilangsungkan di dalam kapel seminari. Kapel tersebut tidak dapat digunakan setelah sebagian plafonnya runtuh akibat gempa.

Aula yang telah dipersiapkan untuk acara resepsi juga mengalami kerusakan. Puing-puing dari bagian plafon yang runtuh membuat tempat tersebut tidak aman untuk digunakan.

Karena itu, perayaan Ekaristi dipindahkan ke luar ruangan, di depan aula, di bawah tenda sementara. Pengaturan ini juga memungkinkan komunitas tetap waspada jika terjadi aktivitas seismik berikutnya.

Misa yang semula dijadwalkan pukul 08.30 ditunda hingga pukul 09.30 untuk memberikan waktu guna menilai situasi dan melakukan persiapan yang diperlukan.

Tidak ada gempa susulan selama perayaan berlangsung, meskipun getaran-getaran lainnya dilaporkan terjadi sebelum dan sesudah perayaan Ekaristi.

Meskipun menghadapi gangguan dan ketidakpastian, ke-27 seminaris tetap melanjutkan profesi kekal mereka, menyerahkan panggilan misioner mereka kepada Allah di tengah situasi sulit yang sedang dihadapi masyarakat Flores.

Perayaan tersebut menjadi tanda kuat akan iman dan ketekunan ketika Gereja di pulau itu menghadapi dampak langsung dari gempa bumi.

Gereja menyampaikan doa dan ucapan selamat kepada ke-27 Misionaris Sabda Allah yang baru mengikrarkan kaul kekal, seraya memohon agar mereka tetap setia pada panggilan dan komitmen misioner mereka.

Komunitas juga mendoakan masyarakat Flores, terutama mereka yang terluka, mereka yang kehilangan orang-orang terkasih, serta mereka yang rumah dan mata pencahariannya rusak akibat gempa.

Keuskupan membatalkan Festival Golo Koe

Beberapa jam setelah gempa terjadi, Keuskupan Labuan Bajo mengumumkan pembatalan seluruh rangkaian acara Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 yang masih tersisa, termasuk Misa penutupan, konser, dan pertunjukan budaya.

Uskup Maksimus Regus mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil sebagai tanggapan atas bencana dan demi menjaga keselamatan masyarakat.

“Kami memilih untuk tidak melanjutkan perayaan, tetapi berdiri bersama dalam solidaritas dan mendampingi mereka yang sedang menghadapi keadaan sulit,” katanya.

Uskup mengimbau umat Katolik agar tetap tenang, mengikuti petunjuk resmi, serta mewujudkan semangat festival dalam tindakan nyata berupa belas kasih.

“Festival boleh berhenti, tetapi semangat persaudaraan, solidaritas, dan kepedulian harus terus berlanjut,” ujarnya.

Gereja mengubah perayaan menjadi solidaritas

Memasuki tahun kelima, Festival Golo Koe merupakan salah satu perayaan Katolik dan budaya penting di kawasan Indonesia Timur. Tema festival tahun ini, “Berjalan Bersama, Memulihkan Bumi”, memperoleh makna yang lebih mendalam ketika perayaan yang telah direncanakan harus digantikan dengan doa dan solidaritas.

Gempa ini juga kembali membangkitkan kenangan akan gempa bumi dan tsunami dahsyat Flores pada 1992 yang menewaskan sekitar 2.500 orang.

Di seluruh Flores, komunitas-komunitas Gereja didorong untuk mengutamakan keselamatan, doa, dan solidaritas bagi mereka yang terdampak, sementara operasi pencarian, penyelamatan, dan bantuan kemanusiaan terus berlangsung.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, menghindari bangunan yang rusak, serta mengikuti informasi resmi karena kemungkinan terjadinya gempa susulan masih ada.

Bagi umat Katolik Flores, Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga tahun ini tidak berlangsung melalui berbagai perayaan yang semula telah direncanakan, melainkan melalui panggilan baru untuk memperteguh iman, ketekunan, dan solidaritas bersama mereka yang menderita.

15 Aug 2026, 15:52