Seorang Ibu Lebanon sedang mengais ngais reruntuhan rumah yang dihancurkan di Zawtar al-Gharbiyeh Seorang Ibu Lebanon sedang mengais ngais reruntuhan rumah yang dihancurkan di Zawtar al-Gharbiyeh 

Anak-anak Lebanon terdampak parah oleh krisis yang saling bertumpuk

Dalam beberapa bulan terakhir, anak-anak di Lebanon menjadi kelompok yang paling menderita akibat krisis yang saling bertumpuk di negara itu. Mereka menghadapi lonjakan jumlah korban, pengungsian massal, kerawanan pangan yang parah, serta trauma psikologis yang mendalam.

Oleh Nathan Morley

Lembaga-lembaga kemanusiaan melaporkan bahwa anak-anak di Lebanon semakin menanggung beban dari berbagai krisis yang melanda negara tersebut. Mereka menghadapi meningkatnya korban jiwa, pengungsian massal, kerawanan pangan yang serius, dan trauma psikologis yang mendalam.

Lebih dari 770.000 anak mengalami tekanan psikologis yang semakin berat akibat berulang kali terpapar kekerasan, kehilangan, dan ketidakstabilan. Banyak di antara mereka belum dapat kembali ke rumah karena ancaman ranjau dan bahan peledak yang belum meledak.

Dengarkanlah Laporan dari Nathan Morley

Sejak Maret, ribuan keluarga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka. Dalam beberapa bulan terakhir, kerusakan yang meluas telah menghancurkan rumah-rumah, sekolah, serta berbagai layanan penting, termasuk sistem penyediaan air dan sanitasi.

Lebanon saat ini mengalami salah satu keruntuhan ekonomi terburuk dalam sejarah modern. Nilai mata uang lira Lebanon merosot lebih dari 98 persen antara tahun 2023 hingga awal 2024, memicu hiperinflasi dan menghapus tabungan keluarga-keluarga biasa.

Sekitar 80 persen penduduk kini hidup dalam kemiskinan, dengan akses yang sangat terbatas terhadap layanan kesehatan, listrik, dan pendidikan.

Sementara itu, Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) terus mencatat pelanggaran harian oleh Israel terhadap wilayah udara Lebanon, penutupan jalan, serta aktivitas di perairan teritorial negara tersebut, meskipun telah berlaku gencatan senjata bersyarat tanggal 17 April yang dicapai melalui perundingan yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Pemerintah Lebanon.

Antara Kamis hingga Minggu, pasukan penjaga perdamaian mencatat 125 pelanggaran wilayah udara, dengan total durasi penerbangan yang melampaui 418 jam.

Menurut otoritas nasional Lebanon, lebih dari 4.300 orang telah tewas dan 12.200 lainnya terluka sejak milisi Hezbollah yang didukung Iran bergabung dalam perang regional yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel tanggal 2 Maret.

04 Aug 2026, 18:51