Serangan AS terhadap Iran dikabarkan dihentikan sementara di tengah upaya diplomatik
Oleh Nathan Morley
Aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran tampaknya telah dihentikan untuk sementara, menurut berbagai laporan media. Meski demikian, Washington belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan di balik jeda operasi tersebut.
Seorang sumber di Pentagon mengatakan kepada CNN bahwa operasi militer saat ini berada dalam status "ditangguhkan", namun tidak memberikan kepastian kapan, atau bahkan apakah, operasi tersebut akan dilanjutkan.
Sejak itu, muncul dua penjelasan berbeda dari media penyiaran Amerika Serikat. CBS News, mengutip sumber-sumber di kawasan, menyebut penghentian sementara itu dilakukan agar tidak mengganggu kunjungan para pejabat Oman ke Teheran, di mana pembahasan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran dilaporkan sedang berlangsung.
Sementara itu, The New York Times melaporkan bahwa Presiden Trump mengurungkan rencana eskalasi besar setelah mendapat peringatan dari para penasihat militer senior bahwa persediaan sistem pertahanan udara Amerika Serikat berada pada tingkat yang sangat kritis.
Di luar dinamika diplomatik tersebut, krisis kemanusiaan sedang berkembang di laut.
Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa ribuan pelaut kapal dagang masih terjebak di Selat Hormuz dan sekitarnya, tidak dapat meninggalkan kawasan itu meskipun menghadapi bahaya.
Data industri pelayaran yang dikutip oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO) memperkirakan sekitar 6.000 pelaut berada di sekitar 400 kapal. Selain itu, masih ada sejumlah awak lain yang jumlahnya belum diketahui, yang diduga terjebak di kapal-kapal kecil yang tersebar di kawasan Teluk.
Yang lebih memprihatinkan, sedikitnya sembilan kapal telah ditinggalkan begitu saja oleh para pemiliknya di pelabuhan-pelabuhan Iran. Akibatnya, 93 awak kapal terlantar tanpa upah, tanpa perbekalan, dan tanpa sarana untuk menghubungi keluarga mereka.
Laporan-laporan juga menunjukkan bahwa sedikitnya 17 pelaut diyakini telah meninggal sejak Amerika Serikat, Israel, dan Iran saling melancarkan serangan. Lima di antaranya dilaporkan meninggal hanya dalam beberapa pekan terakhir.