Cari

Selama Perang Vietnam, Amerika Serikat menjatuhkan lebih dari dua juta ton bom di Laos. Selama Perang Vietnam, Amerika Serikat menjatuhkan lebih dari dua juta ton bom di Laos. 

Laos, Negara yang Paling Banyak Dibom di Dunia

Lebih dari lima puluh tahun setelah berakhirnya Perang Rahasia (Secret War), jutaan bahan peledak yang belum meledak (unexploded ordnance/UXO) masih mengancam kehidupan sehari-hari masyarakat di seluruh Laos. Dalam wawancara dengan Vatican Media, Yeng-Chang Cheung-Wu dari Mines Advisory Group (MAG) dan Craig Guwuriro dari HALO Trust menjelaskan bagaimana operasi pembersihan serta edukasi mengenai risiko membantu masyarakat merebut kembali tanah mereka dan membangun kembali masa depan mereka.

 

Oleh Guglielmo Gallone

 

"My name is Yeng-Chang Cheung-Wu. Saya berasal dari Provinsi Xieng Khouang di Laos dan bekerja untuk Mines Advisory Group. MAG adalah organisasi kemanusiaan internasional yang membersihkan dan memusnahkan ranjau darat, amunisi tandan, serta bahan peledak lain yang belum meledak di wilayah-wilayah yang terdampak konflik. Kami telah bekerja di Laos selama lebih dari tiga puluh tahun untuk membantu masyarakat hidup dengan aman dan membangun masa depan yang lebih baik. Negara saya masih menyimpan luka akibat bahan peledak yang belum meledak (UXO) yang ditinggalkan oleh perang yang telah berakhir lebih dari lima puluh tahun lalu."

 

Kesaksian Yeng-Chang Cheung-Wu kepada Vatican News menyoroti salah satu bab Perang Dingin yang paling jarang diketahui—sebuah kisah yang ditandai oleh setidaknya tiga paradoks yang mencolok.

 

Pertama, Laos merupakan negara yang paling banyak dibom dalam sejarah jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya, namun kisahnya sebagian besar telah dilupakan. Kedua, konflik tersebut tidak pernah secara resmi dinyatakan sebagai perang. Karena tidak dapat melancarkan perang secara terbuka terhadap sebuah negara yang diakui sebagai negara netral, Amerika Serikat menjalankan kampanye pengeboman besar-besaran yang kemudian dikenal sebagai "Perang Rahasia" (Secret War). Paradoks ketiga adalah warisan konflik yang terus membayangi hingga kini: jutaan bom tandan gagal meledak. Diperkirakan sekitar 80 juta bom kecil (bomblets) yang belum meledak masih tersebar di seluruh negeri, dan sepanjang tahun 2024 saja bahan peledak yang belum meledak telah menyebabkan 48 korban. Hal itu menjadi pengingat bahwa, bagi banyak warga Laos, perang sesungguhnya belum pernah benar-benar berakhir.

 

Sejarah "Perang Rahasia"

 

Untuk memahami kisah ini, perlu kembali ke tahun 1954 ketika kekalahan Prancis di Dien Bien Phu di tangan Viet Minh mengakhiri hampir satu abad kekuasaan kolonial di Indochina. Persetujuan Jenewa mengakui kemerdekaan Laos dan Kamboja serta menetapkan keduanya sebagai negara netral, sementara Vietnam untuk sementara dibagi di sepanjang garis paralel ke-17: Vietnam Utara yang komunis di bawah Ho Chi Minh dan Vietnam Selatan yang didukung Amerika Serikat, sambil menunggu penyelenggaraan pemilu yang pada akhirnya tidak pernah terlaksana.

 

Namun, Laos yang baru merdeka segera menghadapi dua tantangan besar. Perang saudara mempertemukan pemerintahan kerajaan dengan kelompok komunis Pathet Lao yang didukung Vietnam Utara. Pada saat yang sama, letak geografis negara itu menjadikannya sangat penting secara strategis. Membentang di Pegunungan Annamite yang berhutan lebat adalah sebagian besar Jalur Ho Chi Minh, jaringan logistik yang digunakan Hanoi untuk memindahkan pasukan, senjata, dan perbekalan ke Vietnam Selatan. Meskipun sebagian jalur tersebut juga melintasi Vietnam dan Kamboja, Laos menjadi koridor utamanya, sehingga negara yang secara resmi netral itu berubah menjadi salah satu medan pertempuran utama dalam Perang Dingin.

 

Selama bertahun-tahun, besarnya keterlibatan Amerika Serikat sebagian besar tetap tersembunyi. Dokumen yang dideklasifikasi oleh National Security Archive pada tahun 2008 mengungkapkan bahwa personel yang bekerja berdasarkan kontrak dengan CIA ikut terlibat dalam operasi udara rahasia dan bahwa, selama krisis Laos tahun 1959, Angkatan Udara Amerika Serikat bahkan sempat mempertimbangkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir. Pada awalnya, Presiden John F. Kennedy berupaya mencari solusi diplomatik, sebagian karena sumber daya operasi rahasia Amerika Serikat saat itu banyak terserap di tempat lain—terutama untuk persiapan Invasi Teluk Babi (Bay of Pigs) di Kuba—dan sebagian lagi untuk menghindari meluasnya konfrontasi Perang Dingin. Upaya tersebut berpuncak pada Persetujuan Jenewa tahun 1962 yang kembali menegaskan status netral Laos.

 

Namun, kesepakatan itu segera kehilangan efektivitasnya. Pasukan Vietnam Utara tetap berada di Laos dan, seiring meningkatnya eskalasi Perang Vietnam, Washington menyimpulkan bahwa memutus Jalur Ho Chi Minh telah menjadi kebutuhan yang sangat penting. Pada 14 Desember 1964, Amerika Serikat meluncurkan Operasi Barrel Roll, sebuah kampanye pengeboman yang tidak pernah diumumkan secara resmi dan berlangsung hampir selama satu dekade. Pada saat yang sama, CIA membentuk dan membiayai pasukan rahasia yang sebagian besar terdiri atas pejuang Hmong di bawah pimpinan Jenderal Vang Pao untuk melawan pasukan komunis di darat.

 

Antara tahun 1964 hingga 1973, pesawat-pesawat Amerika Serikat melakukan sekitar 580.000 misi penerbangan di atas Laos dan menjatuhkan lebih dari dua juta ton bom—rata-rata satu misi pengeboman setiap delapan menit, siang dan malam, selama sembilan tahun berturut-turut. Dokumen yang telah dideklasifikasi (lihat Victor B. Anthony, Richard R. Sexton, The United States Air Force in Southeast Asia: The War in Northern Laos, 1954–1973, Center for Air Force History, 1993) juga menunjukkan bahwa selama penghentian sementara pengeboman terhadap Vietnam Utara pada masa Natal tahun 1965, banyak misi udara Amerika Serikat hanya dialihkan ke Laos. Inilah yang dikenal sebagai Perang Rahasia, sebuah konflik yang berlangsung di balik bayang-bayang Perang Vietnam, tetapi dampaknya terus membentuk kehidupan jutaan warga Laos hingga saat ini.

Dengarkan wawancara bersama Craig Guwuriro dari HALO Trust

 

Membersihkan Negara yang Masih Berperang dengan Masa Lalunya

 

Lebih dari lima puluh tahun setelah perang berakhir, tim penjinak bahan peledak masih terus membersihkan lahan pertanian, hutan, dan desa-desa di seluruh Laos. Craig Guwuriro, Manajer Program HALO Trust di Laos, mengatakan kepada Vatican News bahwa organisasinya telah bekerja di Provinsi Savannakhet sejak tahun 2012.

 

"Bahkan hingga hari ini, masyarakat masih mengolah lahan yang di bawahnya kemungkinan masih terkubur bom-bom yang belum meledak. Kondisi ini memengaruhi pertanian, pembangunan ekonomi, dan keselamatan hidup sehari-hari seluruh komunitas. Meskipun jumlah korban telah menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, orang-orang masih terus kehilangan nyawa dan mengalami luka-luka."

 

Bagi HALO Trust, pembersihan hanyalah sebagian dari misinya.

 

"Beberapa jenis bahan peledak yang belum meledak, khususnya bom-bom kecil dari amunisi tandan, tampak tidak berbahaya. Karena itu kami juga bekerja bersama masyarakat setempat dengan mengajarkan bagaimana mengenali bahaya tersebut dan melaporkannya dengan aman."

 

Saat mengunjungi Distrik Vilabouly pada Mei lalu, Guwuriro menyaksikan tim pembersih sedang mempersiapkan lahan untuk pertanian dan peternakan.

 

"Di beberapa lokasi, tim kami menemukan hingga seratus bahan peledak yang belum meledak hanya dalam satu hari. Setiap benda tersebut harus ditemukan, digali, dan dimusnahkan dengan aman sebelum lahan itu dapat dikembalikan kepada masyarakat."

 

Ia menambahkan bahwa pekerjaan tersebut dapat dilakukan berkat dukungan para mitra internasional, sehingga keluarga-keluarga dapat kembali memanfaatkan tanah mereka dan membangun mata pencaharian yang lebih aman.

Dengarkan wawancara dengan Yeng-Chang Cheung-Wu dari Mines Advisory Group (MAG)

 

Misi yang sama juga menjadi landasan kerja Mines Advisory Group (MAG).

 

"Selain melakukan operasi pembersihan, kami juga memberikan edukasi mengenai risiko agar masyarakat dapat hidup dengan aman di tengah ancaman UXO dan mengetahui cara merespons setiap kali ditemukan benda-benda berbahaya," ujar Yeng-Chang Cheung-Wu.

 

"Dampaknya sangat nyata. Setelah suatu lahan dibersihkan, keluarga-keluarga dapat kembali bertani, masyarakat dapat membangun sekolah dan jalan, serta anak-anak dapat bermain tanpa rasa takut. Saya berasal dari Provinsi Xieng Khouang, salah satu wilayah yang paling parah terkontaminasi bahan peledak yang belum meledak, dan saya menyaksikan sendiri perubahan besar yang dihasilkan oleh pekerjaan ini. Setiap bahan peledak yang kami singkirkan berarti satu ancaman yang berkurang bagi sebuah keluarga. Setiap bidang tanah yang kami bersihkan memberikan keamanan, kepercayaan diri, dan harapan yang lebih besar bagi masyarakat."

 

Suara-suara dari Dataran Guci (Plain of Jars)

 

"Salah satu dari sekian banyak ironi Perang Indochina adalah bahwa mereka yang paling menderita justru menjadi pihak yang paling sedikit didengar."

 

Demikian pembuka buku Voices from the Plain of Jars, karya pekerja kemanusiaan asal Amerika Serikat, Fred Branfman, yang membawa kesaksian warga desa Laos yang selamat dari pengeboman ke perhatian dunia.

 

Branfman mengenang ketika tiba di Kuil That Luang di Vientiane pada September 1969. Saat itu lantai kuil dipenuhi ratusan pengungsi. Ia kemudian duduk di samping seorang petani dan bertanya apakah pria tersebut pernah mengalami pengeboman.

 

Petani itu membungkuk, menggambar huruf "L" di atas debu dengan jarinya, lalu menunjuk ke sebuah tempat perlindungan yang dipahat di lereng pegunungan. Di sanalah, katanya, ia bersama keluarganya hidup selama berbulan-bulan. Mereka hanya keluar pada malam hari untuk mencari makanan dan menggarap ladang.

 

Kemudian pria itu mengucapkan kata-kata yang tidak pernah dilupakan Branfman:

 

"Kami hidup seperti binatang."

 

Lalu disusul kalimat lain:

 

"Tidak ada satu malam pun ketika kami mengira kami masih akan hidup keesokan paginya, dan tidak ada satu pagi pun ketika kami mengira kami masih akan hidup hingga malam hari."

 

 

22 Jul 2026, 14:47