Konflik di Timur Tengah Konflik di Timur Tengah  (AFP or licensors)

Konflik Timur Tengah Tempatkan 23 Juta Anak Masuk Dalam Kategori Miskin

Analisis terbaru UNICEF memperingatkan bahwa guncangan ekonomi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah dapat menempatkan lebih dari 23 juta anak masuk ke dalam risiko kemiskinan moneter pada akhir tahun ini. Situasi tersebut berpotensi menghapus berbagai kemajuan yang telah dicapai selama bertahun-tahun dan memperdalam ketimpangan.

Oleh Deborah Castellano Lubov

“Anak-anak sedang menanggung harga dari konflik yang terus meningkat di Timur Tengah, termasuk anak-anak yang berada jauh di luar kawasan tersebut,” kata Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell.

Ia memperingatkan, “Semakin lama situasi ini berlangsung, semakin buruk pula konsekuensinya.”

Pernyataan tersebut disampaikan seiring publikasi analisis terbaru UNICEF berjudul The Impact of the War in the Middle East on Children in Monetarily Poor Households.

Berdasarkan data dari lebih dari 167 negara, laporan tersebut memperkirakan bahwa lebih dari 23 juta anak tambahan dapat jatuh ke dalam kemiskinan moneter pada akhir tahun ini, karena ketegangan yang terus berlangsung di Timur Tengah dan gangguan terhadap jalur pelayaran internasional memberikan dampak yang merugikan dan berpotensi tidak dapat dipulihkan terhadap kehidupan anak-anak.

Laporan itu menyoroti bagaimana kenaikan harga pangan dan energi, serta berbagai guncangan ekonomi yang lebih luas akibat meningkatnya permusuhan, termasuk gangguan yang berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz, mengurangi kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan mereka.

UNICEF menjelaskan bahwa anak-anak yang hidup dalam rumah tangga paling miskin mengalami dampak yang jauh lebih berat dibandingkan kelompok lainnya.

Dampak yang Dapat Bertahan Seumur Hidup

Karena itu, Catherine Russell memperingatkan bahwa “kenaikan biaya yang sangat cepat membuat pangan dan pendidikan tidak lagi terjangkau bagi banyak keluarga. Bagi anak-anak yang sudah hidup dalam kemiskinan, guncangan ini memperdalam penderitaan dan dapat menimbulkan dampak yang bertahan sepanjang hidup mereka.”

Laporan UNICEF tersebut mengkaji dua kemungkinan skenario: skenario kemiskinan yang merugikan (adverse poverty scenario) dan skenario kemiskinan yang parah (severe poverty scenario).

Skenario pertama mencerminkan guncangan ekonomi moderat yang dapat mendorong tambahan 18,3 juta anak ke dalam kemiskinan moneter.

Sementara itu, skenario kedua mengasumsikan gangguan yang lebih kuat dan berkepanjangan terhadap harga-harga serta aktivitas ekonomi. Dalam kondisi tersebut, sebanyak 23,4 juta anak tambahan diperkirakan dapat jatuh ke dalam kemiskinan moneter apabila perang terus berlanjut.

Seruan kepada Komunitas Internasional

Sebagai respons atas situasi tersebut, UNICEF menyerukan kepada pemerintah nasional, negara-negara donor, dan lembaga-lembaga keuangan internasional untuk melindungi anak-anak dari dampak terburuk krisis ini.

Langkah-langkah prioritas yang diajukan mencakup perlindungan terhadap pendanaan domestik dan internasional bagi layanan serta kebutuhan dasar yang bergantung pada anak-anak, termasuk kesehatan, gizi, pendidikan, dan perlindungan anak.

UNICEF juga mendorong penguatan dan keberlanjutan sistem perlindungan sosial, termasuk bantuan tunai yang sensitif terhadap kebutuhan anak, dengan memastikan bahwa dukungan tetap tersedia sebelum subsidi dihapuskan.

Selain itu, lembaga PBB tersebut menyerukan agar anak-anak dan keluarga dapat terus memperoleh akses tanpa hambatan terhadap layanan dan kebutuhan pokok yang terjangkau, termasuk melalui penetapan batas minimum pengeluaran yang disesuaikan dengan tingkat inflasi.

UNICEF juga meminta perluasan ruang fiskal untuk melindungi investasi domestik pada layanan-layanan esensial. Hal ini dapat dilakukan melalui penangguhan pembayaran utang atau restrukturisasi utang di negara-negara yang mengalokasikan lebih banyak dana untuk pembayaran utang dibandingkan untuk kesehatan, pendidikan, atau perlindungan sosial.

Lembaga tersebut juga mendorong pembentukan dan pelaksanaan sistem kesiapsiagaan yang berfokus pada anak agar bantuan dapat menjangkau mereka secara cepat dan luas ketika terjadi krisis, termasuk melalui kerja sama global untuk mengurangi dampak guncangan yang sedang berlangsung maupun yang mungkin muncul di masa depan.

Kehidupan dan Masa Depan Anak-Anak Terancam

“Krisi ini menempatkan kehidupan dan masa depan anak-anak dalam bahaya,” kata Catherine Russell.

Ia memperingatkan bahwa jika dunia gagal bertindak dengan cepat, dampak gabungan dari konflik, ketidakstabilan ekonomi, dan kenaikan biaya hidup akan mendorong jutaan anak semakin terperosok ke dalam kemiskinan.

“Kita dapat menyaksikan berbagai capaian pembangunan yang diperoleh dengan susah payah selama bertahun-tahun menjadi sia-sia,” tegasnya.

(Sumber: UNICEF)

17 Jul 2026, 07:06