Cari

Staf IMO di Lampedusa Staf IMO di Lampedusa  (@IOM)

IOM: Kunjungan Paus Leo ke Lampedusa akan menyoroti dimensi kemanusiaan migrasi

Kepala Misi International Organization for Migration (IOM) untuk Italia dan Malta mengatakan bahwa kunjungan Paus Leo XIV ke Lampedusa merupakan pengingat yang kuat akan martabat manusia para migran serta pentingnya tanggung jawab bersama dalam menghadapi persoalan migrasi.

Linda Bordoni

Menjelang kunjungan Paus Leo XIV ke Lampedusa pada 4 Juli, pusat penerimaan migran di pulau paling selatan Italia itu tengah menghadapi lonjakan kedatangan. Selama beberapa dekade, Lampedusa—yang letaknya lebih dekat ke Afrika Utara daripada daratan utama Italia—telah menjadi pintu gerbang menuju Eropa bagi para migran dan pengungsi yang mempertaruhkan nyawa menyeberangi Laut Mediterania. Dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 182.000 orang tercatat tiba di pulau tersebut.

Kunjungan Paus Leo mengikuti jejak bersejarah Paus Fransiskus yang mengunjungi Lampedusa pada 8 Juli 2013. Saat itu, Paus Fransiskus mengecam "globalisasi sikap tidak peduli" terhadap mereka yang terpaksa meninggalkan tanah airnya. Lebih dari satu dekade kemudian, migrasi tetap menjadi tantangan global yang besar. Menurut Missing Migrants Project milik IOM, sejak tahun 2014 lebih dari 26.000 orang telah meninggal dunia di jalur Mediterania Tengah.

Berbicara kepada Radio Vatikan, Salvatore Sortino, Direktur Kantor Koordinasi IOM untuk Mediterania, Kepala Misi IOM untuk Italia dan Malta, sekaligus Perwakilan IOM untuk Takhta Suci, menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menegaskan bahwa suara Paus Leo merupakan kekuatan moral yang sangat penting di tengah perdebatan mengenai migrasi yang semakin terpolarisasi.

Dengarkan cuplikan wawancara dengan Salvatore Sortino

"Saya percaya bahwa upaya yang dilakukan Paus, Yang Mulia Paus, dan Takhta Suci dalam menegaskan pentingnya migrasi serta martabat para migran—yakni semua orang yang sedang berpindah, mereka yang mencari perlindungan maupun yang mengupayakan kesempatan ekonomi yang lebih baik—sangat penting dan sangat relevan pada masa sekarang," ujarnya.

Menurut Sortino, pesan yang dibawa Paus datang pada saat yang sangat menentukan.

Walaupun dalam beberapa tahun terakhir jumlah kedatangan migran di sejumlah jalur migrasi mengalami penurunan, perjalanan yang mereka tempuh justru menjadi semakin berbahaya. Ia secara khusus menyoroti penyeberangan laut, di mana tingkat kerentanan para migran semakin meningkat meskipun jumlah kedatangannya menurun.

Migran yang diselamatkan tiba di Lampedusa
Migran yang diselamatkan tiba di Lampedusa

"Kami melihat bahwa meskipun jumlah migran berkurang, jumlah mereka yang meninggal di laut atau menjadi korban kecelakaan justru meningkat," ujarnya. "Artinya, tingkat kerentanan mereka semakin tinggi."

Karena itu, lanjutnya, kehadiran Paus menjadi pengingat bahwa migrasi tidak boleh dipandang semata-mata sebagai angka statistik.

"Saya pikir Paus menyampaikan pesan penting kepada para pembuat kebijakan, masyarakat, aparat penegak hukum, dan publik luas mengenai pentingnya menyambut para migran dengan kesadaran penuh akan martabat mereka sebagai manusia."

Mengenang Paus Fransiskus, menghadapi kenyataan saat ini

Kenangan akan kunjungan Paus Fransiskus masih melekat kuat dalam identitas Lampedusa. Namun, menurut Sortino, banyak persoalan mendasar yang disoroti pada tahun 2013 hingga kini masih belum terselesaikan.

"Banyak hal telah berubah," katanya, "dan saya berharap bisa mengatakan bahwa semuanya berubah menjadi lebih baik. Sayangnya, kenyataannya tidak demikian."

Walaupun jumlah kedatangan menurun dalam beberapa tahun terakhir, ia mengingatkan agar hal itu tidak ditafsirkan sebagai tanda bahwa semakin sedikit orang yang membutuhkan perlindungan atau kesempatan hidup yang lebih baik.

"Bukan berarti semakin sedikit orang yang merasa perlu menempuh perjalanan itu. Data menunjukkan bahwa dibandingkan dengan penurunan jumlah kedatangan, jumlah insiden dan kematian migran di laut justru meningkat secara proporsional."

Bagi IOM, kenyataan tersebut menegaskan pentingnya memperkuat sistem pencarian dan penyelamatan di laut serta memperbaiki tata kelola migrasi di sepanjang seluruh jalur migrasi.

"Pendekatan yang mencakup seluruh jalur migrasi harus diperkuat dan ditingkatkan."

Pada saat yang sama, Sortino menyambut baik berbagai upaya di Eropa untuk membangun kerangka kebijakan migrasi yang lebih terpadu. Namun, ia menegaskan bahwa pelaksanaannya harus tetap berlandaskan penghormatan terhadap hak asasi manusia dan hukum internasional.

"Yang terpenting bagi kami adalah memastikan adanya jaminan akses terhadap suaka bagi mereka yang membutuhkannya, serta penghormatan penuh terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia."

Satff IOM di Lampedusa
Satff IOM di Lampedusa   (@IOM)

Tanggap darurat saja tidak cukup

Namun bagi para pekerja kemanusiaan, operasi penyelamatan semata tidaklah memadai.

"Operasi pencarian dan penyelamatan tetap merupakan unsur utama perlindungan di Laut Mediterania," tegas Sortino. "Namun pada akhirnya, membuka jalur migrasi yang legal adalah jawaban yang sesungguhnya."

Mengatasi akar penyebab migrasi—seperti konflik, kemiskinan, dan dampak perubahan iklim—tetap merupakan hal yang mendasar. Di saat yang sama, menurutnya, masyarakat internasional juga harus menyediakan alternatif yang aman agar orang tidak lagi terpaksa menempuh perjalanan yang membahayakan nyawa.

"Ada upaya besar yang sedang dilakukan. Kita membutuhkan jalur migrasi yang legal dan efektif menuju Eropa dan Italia."

Peran penting komunitas berbasis iman

Sortino menegaskan bahwa komunitas-komunitas berbasis iman memiliki peran yang sangat penting dalam mendampingi para migran yang menjalani perjalanan penuh tantangan. Menurutnya, kontribusi mereka jauh melampaui sekadar bantuan darurat.

“"Kita sering berbicara tentang migrasi secara sangat abstrak, hanya melalui berbagai kategori. Padahal pada akhirnya kita sedang berbicara tentang manusia yang kemudian hidup di tengah masyarakat."”

Menurutnya, komunitas-komunitas beriman justru menjadi pihak yang paling dekat dengan kenyataan tersebut.

"Sering kali mereka yang paling terlibat dalam memberikan bantuan awal, menerima para migran, mendukung proses integrasi, dan mendorong inklusi sosial adalah organisasi-organisasi berbasis iman maupun Gereja."

Hal itu, lanjutnya, sangat terlihat di Italia, di mana komunitas-komunitas lokal, paroki, lembaga amal, dan jaringan relawan memainkan peranan penting dalam mendampingi para pendatang baru serta membantu mereka menjadi bagian dari masyarakat.

"Merekalah yang menghidupkan dan hadir di tengah masyarakat," ujarnya, sehingga bantuan dapat menjangkau tempat-tempat yang paling membutuhkan.

Melampaui narasi  beracun

Sortino juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap cara migrasi dibahas dalam ruang publik.

"Sangat disayangkan melihat bagaimana narasi-narasi beracun mengenai para migran sering digunakan secara tidak bertanggung jawab. Narasi seperti itu tidak membantu."

Sebaliknya, ia menilai bahwa diskusi yang didasarkan pada fakta dan bukti jauh lebih dibutuhkan, mengingat persepsi masyarakat sering kali hanya berfokus pada kedatangan migran secara tidak teratur melalui laut.

"Ketika berbicara tentang migrasi di Italia, orang langsung membayangkan kapal-kapal yang tiba di Lampedusa. Padahal itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan fenomena migrasi."

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar migrasi menuju Italia dan Eropa berlangsung melalui jalur resmi, seperti untuk bekerja, belajar, maupun reunifikasi keluarga. Selain itu, para migran juga memberikan kontribusi yang sangat besar bagi masyarakat Italia.

“"Hampir 5,5 juta migran yang tinggal secara sah berada di Italia. Mereka menyumbang sekitar 9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara ini. Kontribusi tersebut sangat besar, namun belum banyak dibicarakan."”

Karena itu, Sortino berharap kunjungan Paus Leo XIV dapat membantu mengalihkan perhatian masyarakat dari rasa takut menuju pemahaman yang didasarkan pada fakta.

"Kami membutuhkan dukungan dari semua organisasi, besar maupun kecil, untuk memperkuat narasi yang berlandaskan bukti dan fakta."

Staff IOM di Dermaga Lampedusa
Staff IOM di Dermaga Lampedusa   (@IOM)

Sorotan pada wajah manusia di balik migrasi

Sortino sendiri berencana berada di Lampedusa selama kunjungan Paus. Ia mengaku sangat antusias terhadap makna kunjungan tersebut, baik bagi pulau itu maupun bagi para migran yang tiba di sana.

"Saya sungguh sangat gembira karena perhatian dunia akan tertuju ke tempat ini."

Ia menggambarkan Lampedusa sebagai contoh kerja sama yang patut diteladani antara pemerintah, organisasi kemanusiaan, lembaga swadaya masyarakat, dan badan-badan internasional.

"Saya selalu terkesan melihat betapa kuatnya kerja sama yang terjalin di sini."

Yang terutama, ia berharap kehadiran Paus Leo akan mengarahkan perhatian dunia kepada kisah-kisah manusia di balik pemberitaan mengenai migrasi.

"Kehadiran Paus di tempat ini akan semakin menyoroti dimensi kemanusiaan."

Menurutnya, perhatian harus diberikan pada harapan para migran yang datang, penderitaan yang mereka alami, dan martabat mereka sebagai manusia, bukan semata-mata pada angka-angka statistik.

"Kehadiran Paus akan semakin menyoroti sisi kemanusiaan—harapan para migran yang datang, penderitaan yang mereka alami—bukan sekadar angka-angka."

Ketika Lampedusa bersiap menyambut Paus Leo XIV, pulau itu sekali lagi menjadi simbol, bukan hanya mengenai jalur migrasi dan kebijakan perbatasan, tetapi juga mengenai kehidupan, harapan, dan martabat setiap orang yang menginjakkan kaki di pantainya.

Di balik setiap statistik ada seorang manusia

Bagi para pekerja kemanusiaan seperti Sortino, itulah mungkin pesan terpenting yang hendak dibawa Paus: bahwa di balik setiap angka statistik terdapat seorang pribadi manusia yang layak memperoleh perlindungan, kesempatan hidup yang lebih baik, dan penghormatan terhadap martabatnya.

Dokumen Foto dari Penyelamatan di Lampedusa
Dokumen Foto dari Penyelamatan di Lampedusa   (ANSA)

Di Lampedusa, IOM bekerja sama erat dengan otoritas Italia serta berbagai mitra kemanusiaan dalam setiap tahapan penerimaan dan pendampingan para migran.

Sortino menjelaskan bahwa organisasi tersebut menyediakan mediator budaya untuk mendukung operasi pencarian dan penyelamatan yang dilakukan Penjaga Pantai Italia. Dalam situasi seperti itu, komunikasi yang efektif dapat menjadi penentu antara hidup dan mati. IOM juga mendampingi aparat keamanan selama proses registrasi dan penyaringan para migran.

Selain itu, staf IOM membantu mengidentifikasi korban perdagangan manusia serta kelompok-kelompok rentan lainnya agar mereka segera dirujuk kepada otoritas yang berwenang dan dipindahkan ke fasilitas yang sesuai di daratan utama Italia. Seluruh proses tersebut dilakukan melalui kerja sama yang erat dengan berbagai lembaga pemerintah, organisasi internasional, dan unsur masyarakat sipil.

Salvatore Sortino Ketika diwawancarai Vatican News
Salvatore Sortino Ketika diwawancarai Vatican News
02 Jul 2026, 19:43