Para penerima Beasiswa NAIDOC: Tanisha Julie Sonter dan Hayden Atkins Para penerima Beasiswa NAIDOC: Tanisha Julie Sonter dan Hayden Atkins 

Dobrak Batasan, Dua Mahasiswa Aborigin Terima Beasiswa Fransiskus Xaverius Conaci

Untuk pertama kalinya dalam sejarahnya yang telah berlangsung selama 50 tahun, dua mahasiswa dari bangsa Aborigin yang sama menerima Beasiswa Fransiskus Xaverius Conaci pada tahun yang sama. Hayden Atkins dan Tanisha Sonter mewakili Bangsa Dharug di New South Wales, Australia, dan akan tinggal serta belajar di Roma.

Oleh Kielce Gussie

Selama 50 tahun terakhir, pekan penuh pertama bulan Juli setiap tahunnya didedikasikan untuk merayakan suara, budaya, dan tradisi komunitas Bangsa Pertama di seluruh Australia yang telah menjadi bagian dari sejarah tanah tersebut selama puluhan ribu tahun.

Pekan ini dikenal sebagai National Aboriginal and Islanders Day Observance Committee (NAIDOC).

Setiap tahun, dua mahasiswa Bangsa Pertama berangkat ke Roma untuk belajar melalui Beasiswa Fransiskus Xaverius Conaci—hasil kerja sama dengan Australian Catholic University (ACU) dan Kedutaan Besar Australia untuk Takhta Suci—untuk mewakili budaya mereka di panggung dunia.

Hayden dan Tanisha bersama Duta Besar Australia untuk Takhta Suci, Keith Pitt
Hayden dan Tanisha bersama Duta Besar Australia untuk Takhta Suci, Keith Pitt

Tahun ini, penerima beasiswa tersebut adalah Hayden Atkins, 24 tahun, dan Tanisha Julie Sonter, 20 tahun, yang keduanya berasal dari Bangsa Dharug di New South Wales, Australia.

Ini merupakan pertama kalinya mahasiswa dari bangsa Aborigin yang sama menerima beasiswa tersebut pada tahun yang sama.

Dua Sisi dari Mata Uang yang Sama

“NAIDOC Week pada masa sekarang adalah perayaan keberhasilan masyarakat adat dan penegasan pertumbuhan budaya masyarakat adat di Australia selama lebih dari 50 tahun terakhir,” jelas Hayden.

Baginya, menerima beasiswa ini dan berada di Roma menunjukkan “seperti apa keberhasilan masyarakat adat dalam budaya dan sejarah Australia saat ini.”

Masyarakat Dharug diakui sebagai penduduk pertama Australia dan budaya yang hidup berkelanjutan tertua di dunia, dengan sejarah selama 60.000 tahun.

Tradisi dan sejarah inilah yang ingin dibagikan Hayden dan Tanisha kepada dunia.

“Merupakan hal yang sangat besar untuk mewakili budaya kami di luar negeri karena budaya ini belum begitu dikenal atau dipahami secara luas,” kata Tanisha.

“Rasanya sangat revolusioner.”

Dengarkan Wawancara bersama Hayden dan Tanisha

Ia juga menekankan dampak yang dapat mereka berikan kepada generasi-generasi berikutnya.

Menurutnya, mereka dapat menjadi teladan mengenai apa yang dapat dicapai anak-anak Bangsa Pertama dan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka.

“Penting untuk menunjukkan bahwa Anda dapat menembus batas-batas, memasuki wilayah dan tempat baru, namun tetap mempertahankan jati diri serta budaya Anda.”

Pemahaman akan pentingnya membagikan budaya Dharug kepada masyarakat, bukan hanya di luar Sydney tetapi juga di seluruh dunia, juga dimiliki Hayden.

Kedua mahasiswa memiliki akar yang kuat dalam komunitas Dharug di New South Wales
Kedua mahasiswa memiliki akar yang kuat dalam komunitas Dharug di New South Wales

Hayden mengatakan bahwa NAIDOC Week dan beasiswa tersebut memungkinkan dirinya dan masyarakat Bangsa Pertama lainnya menampilkan baik “sisi Inggris kami maupun sisi masyarakat adat kami, serta bagaimana keduanya saling terhubung dan tercermin dalam dunia saat ini.”

Australia dan Roma: Hubungan yang Telah Berlangsung Berabad-Abad

Meskipun Beasiswa Conaci telah diberikan selama lima dekade terakhir, hubungan masyarakat Aborigin Australia dengan Kota Abadi telah terjalin jauh lebih lama.

Dalam sebuah kunjungan yang diselenggarakan Kedutaan Besar Australia untuk Takhta Suci, Hayden dan Tanisha mengetahui bahwa Basilika Santo Paulus di Luar Tembok menjadi tempat peristirahatan dua seminaris Aborigin, Dioram (atau Dirimera) dan Fransiskus Xaverius Conaci, yang namanya digunakan untuk beasiswa yang membawa mereka ke Roma.

Kedua pemuda Aborigin itu dibawa ke Italia pada pertengahan abad ke-19 oleh Uskup Rosendo Salvado dari Biara New Norcia di Australia Barat.

Namun keduanya jatuh sakit dan meninggal sebelum menyelesaikan pendidikan seminari mereka.

Sebuah plakat di basilika tersebut menyebutkan keberadaan makam kedua pemuda itu bersama sejumlah orang lain yang dimakamkan di bawah lantai basilika.

Plakat di Basilika Santo Paulus di Luar Tembok yang menandai lokasi makam kedua seminaris Aborigin
Plakat di Basilika Santo Paulus di Luar Tembok yang menandai lokasi makam kedua seminaris Aborigin

Hayden mengakui betapa beratnya bagi kedua pemuda itu meninggalkan segala sesuatu yang mereka kenal untuk datang ke Italia.

“Menjadi yang pertama dalam sesuatu, meninggalkan daerah asal, meninggalkan benua, dan mengejar sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri adalah hal yang luar biasa dan menginspirasi,” katanya.

Setengah Abad

Baik Hayden maupun Tanisha menegaskan betapa bersyukur dan bermaknanya menerima beasiswa tersebut, bukan hanya bagi mereka pribadi tetapi juga bagi seluruh komunitas Aborigin di Australia.

Tanisha menyoroti pentingnya keterkaitan beasiswa ini dengan NAIDOC Week.

Kedua mahasiswa mengunjungi makam Dioram dan Fransiskus Xaverius Conaci
Kedua mahasiswa mengunjungi makam Dioram dan Fransiskus Xaverius Conaci

“Kami benar-benar menunjukkan seberapa jauh kami telah berkembang sebagai masyarakat Aborigin, peluang-peluang yang kini kami miliki, dan betapa besar perkembangan yang telah kami capai. Ini juga menjadi tanda yang jelas mengenai arah masa depan kami,” ujarnya.

Tema peringatan setengah abad tahun ini adalah Fifty Years of Deadly.

Tema tersebut mengenang orang-orang yang merintis inisiatif ini dan menciptakan ruang bagi generasi masa kini, seperti Tanisha dan Hayden, untuk mengekspresikan budaya dan tradisi mereka di seluruh penjuru dunia.

07 Jul 2026, 09:45