Profesor Benjamin Rosman Profesor Benjamin Rosman 

Suara dari Afrika Harus Membantu Membentuk Masa Depan AI

Pasca diterbitkannya ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, salah satu tokoh terkemuka Afrika di bidang kecerdasan buatan menegaskan kembali keyakinannya bahwa masyarakat Afrika tidak boleh dikesampingkan dalam diskusi global mengenai pengembangan AI.

Oleh Linda Bordoni

Ketika kecerdasan buatan (AI) mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, belajar, dan mengambil keputusan dengan kecepatan yang luar biasa, satu pertanyaan menjadi semakin mendesak: siapa yang berhak membentuk teknologi yang sedang mengubah kemanusiaan itu sendiri?

Bagi Profesor Benjamin Rosman, salah satu suara terkemuka Afrika dalam bidang penelitian kecerdasan buatan, jawabannya sangat jelas. Jika seluruh kawasan dunia tidak dilibatkan dalam percakapan tersebut, AI berisiko memperkuat ketimpangan yang sudah ada alih-alih melayani kesejahteraan bersama.

Dalam wawancara dengan Radio Vatikan setelah promulgasi ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas: Tentang Menjaga Martabat Pribadi Manusia di Era Kecerdasan Buatan, serta partisipasinya dalam konferensi Vatikan Preserving Human Faces and Voices, Rosman merefleksikan tantangan dan peluang yang dihadirkan AI, pentingnya memasukkan perspektif Afrika dalam diskusi global, serta visi moral yang digariskan Paus dalam ensiklik tersebut.

Rosman merupakan Profesor Ilmu Komputer, Pembelajaran Mesin (Machine Learning), dan Robotika di Universitas Witwatersrand, Johannesburg. Ia juga menjabat sebagai Direktur Machine Intelligence and Neural Discovery Institute (MIND), pusat penelitian interdisipliner terkemuka di Afrika Selatan yang didedikasikan untuk memahami kecerdasan baik pada manusia maupun mesin.

Menurutnya, lembaga tersebut mempertemukan para peneliti dari berbagai bidang, mulai dari neurosains, psikologi perilaku, filsafat, etika, tata kelola, evolusi kognitif hingga seni kreatif.

“Kami mempertemukan para akademisi dari berbagai disiplin ilmu yang memiliki ketertarikan terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai kecerdasan, baik kecerdasan buatan maupun kecerdasan alami,” ujarnya.

Tujuannya bukan sekadar mengembangkan aplikasi AI baru, khususnya untuk Afrika, melainkan menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: “Apa artinya berinteraksi dengan berbagai jenis entitas cerdas? Bagaimana hubungan antara manusia dan AI seharusnya dibangun? Dan apa yang dapat kita pelajari tentang hakikat kecerdasan itu sendiri?”

Membentuk AI atau Dibentuk oleh AI?

Bagi Rosman, keterlibatan Afrika dalam pengembangan AI bukan semata persoalan teknologi, melainkan persoalan kemandirian dan tanggung jawab.

“Saya pikir pertanyaannya adalah: apakah kita akan membentuk AI, atau justru dibentuk oleh AI?” katanya.

Karena AI semakin memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan, mulai dari pendidikan dan kesehatan hingga pemerintahan dan lapangan kerja, Rosman meyakini bahwa Afrika harus memiliki tempat dalam forum-forum tempat keputusan penting diambil.

“Sebagai orang Afrika yang bangga akan identitasnya, kita perlu memastikan suara kita terwakili dalam ruang ini,” ujarnya. “Namun keterwakilan itu tidak cukup hanya dengan memiliki orang-orang yang mampu menggunakan AI untuk memecahkan masalah. Kita perlu duduk di meja utama, turut membentuk perkembangan teknologi ini dan menentukan bagaimana teknologi tersebut berinteraksi dengan manusia.”

Persoalan tersebut, lanjutnya, jauh melampaui aspek teknis. Hal itu menyangkut nilai-nilai, budaya, bahasa, dan martabat manusia.

“Jika seluruh ekosistem Anda bergantung pada penggunaan alat yang dibangun di tempat lain, membayar langganan setiap bulan, dan mengalirkan nilai ekonominya ke luar negeri, tentu ada risikonya,” jelasnya. “Alat-alat itu mungkin tidak dirancang sesuai kebutuhan Anda. Mungkin tidak mencerminkan norma budaya, bahasa, ataupun nilai-nilai yang penting dalam masyarakat Anda.”

Meskipun Rosman enggan menyebut situasi tersebut sebagai bentuk kolonialisme baru, ia mengakui bahwa ketergantungan pada teknologi yang dikembangkan pihak lain dapat menciptakan bentuk-bentuk kerentanan baru.

“Hal itu dapat menimbulkan ketergantungan yang rentan terhadap risiko geopolitik,” katanya. “Karena itu sangat penting bagi Afrika—dan setiap komunitas di seluruh dunia—untuk memiliki suara dalam menentukan arah perkembangan AI.”

Dengarkan wawancara kami bersama Profesor Rosman (Bahasa Inggris)

Pelajaran dari Media Sosial

Rosman melihat adanya peringatan yang jelas dari pengalaman media sosial, sebuah teknologi yang membawa manfaat besar tetapi juga turut berkontribusi terhadap polarisasi, manipulasi, dan menurunnya kepercayaan publik.

“Dampak yang ditimbulkan media sosial masih sangat membekas bagi saya,” katanya.

Menurutnya, tidak ada teknologi yang pada dasarnya jahat. Namun desain teknologi sering kali dibentuk oleh berbagai kepentingan yang belum tentu menempatkan kesejahteraan manusia sebagai prioritas utama.

“Apa yang telah dilakukan media sosial terhadap perhatian kita, terhadap polarisasi masyarakat, sungguh telah mengubah struktur dasar interaksi manusia,” ujarnya.

Yang menjadi kekhawatirannya adalah bahwa AI dapat memperbesar dinamika tersebut dalam skala yang jauh lebih besar.

“Ini bukan sekadar media sosial. AI menyentuh pekerjaan kita, pendidikan kita, bahkan hampir segala aspek kehidupan,” katanya.

Perlombaan Mengumpulkan Data

Pada saat yang sama, Rosman memperingatkan tantangan lain yang sedang muncul, yakni perlombaan mengumpulkan data untuk pengembangan AI.

Banyak bahasa dan tradisi budaya Afrika hingga kini masih kurang terwakili dalam kumpulan data digital. Meski pengumpulan dan pelestarian pengetahuan tersebut penting, Rosman mengingatkan bahwa masyarakat juga harus menjaga kepemilikan dan kendali atas warisan budaya mereka.

“Jika semua itu kita kumpulkan dan unggah ke internet, ada risiko bahwa data tersebut akan begitu saja diambil oleh model-model AI berskala besar,” ujarnya. “Masyarakat bisa kehilangan kedaulatan atas data mereka sendiri.”

Karena alasan itulah ia berpendapat bahwa tata kelola AI harus melibatkan suara dari setiap kawasan dunia.

“Solusi yang tepat adalah memastikan ada perwakilan dari seluruh bagian dunia yang terlibat langsung dalam inti diskusi ini,” katanya.

Peran Afrika Selatan

Ketika ditanya apakah Afrika Selatan siap menghadapi tantangan tersebut, Rosman menjawab dengan optimisme yang hati-hati.

“Ini memang tidak mudah,” katanya. “Namun secara keseluruhan saya percaya jawabannya adalah ya.”

Ia menunjuk pada kuatnya institusi akademik di negara itu, berkembangnya ekosistem peneliti berbakat, serta banyaknya perusahaan yang berkomitmen melayani masyarakat.

“Ada banyak orang cerdas yang mulai menemukan suara mereka dalam bidang ini,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

“Masih banyak hal yang belum terorganisasi dan bersifat kacau,” katanya. “Masih diperlukan upaya besar dalam membangun kerja sama antara berbagai pihak dan pemerintah.”

Namun ia tetap yakin peluang untuk melakukannya dengan benar masih terbuka.

“Semua ini memang mendesak, tetapi saya percaya potensi untuk berhasil tetap ada,” katanya.

Menempatkan Kemanusiaan di Pusat

Banyak refleksi Rosman sejalan dengan tema-tema yang diangkat dalam ensiklik Magnifica Humanitas.

“Ada begitu banyak hal dalam ensiklik itu yang beresonansi dengan saya,” ujarnya.

Menurut Rosman, inti dari dokumen tersebut dapat dirangkum dalam satu prinsip sederhana namun mendasar: “Yang harus menjadi pusat adalah kemanusiaan.”

Ia menegaskan bahwa, berbeda dengan teknologi-teknologi sebelumnya, AI kini telah memasuki bentuk relasi yang unik dengan manusia.

“Kita sudah berada pada tahap ketika AI menjalin hubungan dengan manusia dengan cara yang belum pernah dilakukan teknologi lain sebelumnya,” katanya.

Rosman mencatat bahwa dalam ensiklik tersebut Paus Leo XIV tidak menggambarkan AI sebagai sesuatu yang secara inheren baik ataupun buruk. Pandangan itu, menurutnya, sejalan dengan keyakinannya sendiri mengenai hubungan antara manusia dan teknologi.

Ia juga sepakat dengan penegasan Paus bahwa martabat manusia harus tetap menjadi pusat perhatian.

“Cara kita mengembangkan dan menerapkan teknologi ini harus menekankan martabat manusia dan perkembangan manusia yang utuh,” katanya.

Rosman mengungkapkan keprihatinannya bahwa arah pengembangan AI saat ini sebagian besar didorong oleh persaingan.

“Ada dinamika perlombaan senjata global. Setiap perusahaan memiliki insentif yang berbeda. Dana yang beredar juga sangat besar,” ujarnya.

Di tengah situasi tersebut, menurut Rosman, Magnifica Humanitas menawarkan visi alternatif.

“Dokumen itu berbicara tentang menempatkan manusia di pusat, bukan memusatkan kekuasaan pada sebagian manusia saja, tetapi menghargai keberagaman seluruh umat manusia,” katanya.

AI, lanjutnya, seharusnya hadir untuk menciptakan kondisi kehidupan yang lebih baik bagi manusia, bukan untuk melayani kepentingan ekonomi atau geopolitik yang sempit.

“Pembahasan ini tidak seharusnya hanya berkisar pada lapangan kerja, penumpukan kekayaan dan kekuasaan, atau keseimbangan geopolitik. Pembahasan ini seharusnya tentang martabat kita sebagai manusia,” ujarnya.

Kebutuhan akan Kepemimpinan Moral

Jika martabat manusia ingin tetap menjadi prinsip utama, Rosman percaya bahwa tata kelola yang lebih kuat dan tanggung jawab moral yang lebih besar sangat diperlukan.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah tata kelola yang lebih kuat,” katanya. “Kita membutuhkan tanggung jawab moral yang lebih besar.”

Pesan tersebut bergema kuat dalam konferensi Vatikan yang mempertemukan para akademisi, ahli etika, pemimpin Gereja, dan pakar teknologi untuk membahas bagaimana umat manusia dapat mempertahankan identitasnya di tengah dunia digital yang berubah begitu cepat.

Optimisme yang Hati-Hati

Meskipun mengakui dirinya “cenderung pesimistis”, Rosman tetap menyimpan harapan.

Ia percaya bahwa AI pada akhirnya dapat menjadi terobosan teknologi paling penting dalam sejarah umat manusia.

“AI adalah penemuan teknis paling penting yang pernah dicapai umat manusia,” katanya. “Potensinya untuk membawa kemajuan sangat besar, tetapi potensi bencananya juga sangat besar.”

Menurutnya, kemungkinan kegagalan mungkin lebih banyak daripada peluang keberhasilan. Namun kebijaksanaan manusia tetap dapat menentukan arah perkembangan teknologi tersebut.

“Biasanya diperlukan kebijaksanaan dan kejernihan manusia untuk mengarahkan segala sesuatu ke jalan yang benar,” ujarnya.

Merefleksikan keikutsertaannya dalam pertemuan di Vatikan dan audiensi bersama Paus Leo XIV pada hari berikutnya, Rosman mengaku pulang dengan semangat yang lebih besar daripada yang pernah ia rasakan dalam waktu lama.

“Anda tidak bisa mengubah aturan permainan jika Anda berada di dalam permainan itu sendiri,” katanya. Namun suara-suara yang mampu mempertemukan pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dalam satu visi etis bersama dapat membantu mengubah aturan tersebut.

“Jika ada suara-suara yang menghadirkan kebijaksanaan dan kejernihan moral, yang mampu mempertemukan semua pihak di satu meja dan memperbaiki aturan permainan,” pungkasnya, “di situlah kemajuan dapat diwujudkan.”

04 Jun 2026, 15:32