Perundingan AS-Iran Dimulai di Swiss
Oleh Nathan Morley
Perundingan langsung antara Amerika Serikat dan Iran resmi dibuka di Swiss, di mana para negosiator telah membentuk kelompok-kelompok kerja untuk menyusun kesepakatan damai final, menurut laporan dari lokasi pertemuan.
Delegasi Iran — yang mencakup Ketua Parlemen dan Menteri Luar Negeri — tiba di Bürgenstock pada Sabtu malam. Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, tiba pada Minggu pagi dan mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif serta Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, yang turut ambil bagian dalam perundingan tersebut.
Laporan media menyebutkan bahwa telah tercapai “kemajuan yang cukup signifikan”, meskipun informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Perundingan ini berlangsung setelah militer Iran menyatakan telah kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di wilayah Lebanon selatan.
Sedikitnya 47 orang tewas pada Sabtu dalam serangkaian serangan udara Israel, menurut keterangan para pejabat Lebanon.
Pada Minggu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan bahwa pasukannya akan beroperasi “tanpa batasan apa pun” untuk menghilangkan ancaman di Lebanon dan akan tetap berada di kawasan yang oleh Israel disebut sebagai zona keamanan.
Iran menggambarkan gencatan senjata di Lebanon sebagai garis merah dan menyebut hal tersebut sebagai alasan di balik klaim penutupan selat tersebut. Namun, militer Amerika Serikat menyatakan bahwa lalu lintas pelayaran masih terus berlangsung di jalur perairan itu.
Dalam perkembangan lainnya, Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Grossi, menyampaikan melalui platform X bahwa ia telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Swiss di Bürgenstock untuk membahas proses negosiasi dan peran badan tersebut dalam perundingan.
Sebelumnya pada pekan ini, Presiden Amerika Serikat dan Presiden Iran menandatangani kesepakatan awal yang bertujuan mengakhiri perang, termasuk konflik di Lebanon, dengan berlaku segera. Kesepakatan itu mengikat kedua pihak untuk melanjutkan perundingan selama 60 hari ke depan guna mencapai penyelesaian yang lebih komprehensif.