Martin Scorsese tentang Rasa Takjub dalam Pembuatan Film
Oleh Martin Scorsese
Ketika saya memikirkan The Last Temptation of Christ sekarang, tentu saya melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda dari film-film saya yang lain.
Memang berbeda—tetapi juga sangat istimewa. Mengapa? Karena setiap kali seseorang berhadapan secara langsung dengan Yesus sebagai tokoh, selalu ada misteri di dalamnya. Itu adalah wilayah misteri, dan akan selalu menjadi sesuatu yang belum sepenuhnya terpetakan. Saya pikir, itu akan selalu menjadi sebuah pertanyaan.
Dan pertanyaannya adalah: bagaimana kehidupan Yesus? Tentu saja, pertanyaan itu membuka lebih banyak pertanyaan lagi. Apa sebenarnya peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam Injil? Sejauh mana kisah-Nya, sebagaimana kita pahami, merupakan sebuah narasi? Sejauh mana Yesus sungguh manusia? Apakah Ia manusia, dan sejauh mana Ia ilahi? Sepenuhnya manusia dan sepenuhnya ilahi. Pertanyaan itulah yang menjadi inti pendekatan saya.
Itulah yang pertama kali membuat saya begitu tertarik pada novel karya Kazantzakis ketika saya membacanya. Sepenuhnya manusia, sepenuhnya ilahi—dan godaan terakhir itu hanyalah menjalani kehidupan yang normal, karena kehidupan yang normal, dalam banyak hal, adalah sebuah anugerah yang sangat besar.
Saya menggunakan kata “pendekatan”, tetapi mungkin kata “upaya” lebih tepat, karena itulah yang sebenarnya kita semua lakukan ketika menggambarkan Yesus, baik dalam novel, puisi, karya musik, lukisan, maupun film.
Ketika akhirnya saya dapat mewujudkan film itu, saya berharap ada orang-orang yang mau membuka diri terhadapnya dan menerimanya sebagai sebuah upaya yang lahir dari cinta yang sangat mendalam, serta dari rasa takjub yang telah menyertai saya sejak masa kanak-kanak—sebuah upaya untuk memulai dialog tentang Yesus. Sebuah dialog yang serius, dialog yang baik. Sebuah ajakan untuk merenungkan kembali dan menghadirkan Yesus ke dalam hati, kehidupan, dan jiwa kita pada masa sekarang.
Saya tidak ingin Yesus hanya menjadi gambar yang tergantung di dinding, sesuatu yang tidak memiliki hubungan nyata dengan kehidupan kita.
Namun yang terjadi justru kontroversi besar. Anda tidak dapat membayangkan betapa berartinya bagi saya ketika diterima dengan begitu hangat oleh Paus Fransiskus, disambut di Vatikan, dan menemukan seorang sahabat baik dalam diri Pastor Antonio Spadaro.
Karena itu, saya merasa terhibur mengetahui bahwa pemutaran film ini diselenggarakan. Saya sungguh menyesal tidak dapat hadir bersama Anda secara langsung. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Pierluigi De Pasquale atas buku luar biasa yang ditulisnya mengenai film tersebut, serta kepada Pastor Spadaro atas persahabatan yang terus ia berikan.
Dan saya berterima kasih kepada Anda semua yang hadir malam ini untuk menyaksikan film tersebut.