Lutheran Palestina “Sangat Terpukul” atas Penangkapan Mahasiswi Kristen
Oleh Joseph Tulloch
Gereja Lutheran Injili di Tanah Suci menyatakan diri “sangat terpukul” atas penangkapan mahasiswi Kristen, Natalie Abu Dayyeh.
Abu Dayyeh, anggota Gereja Lutheran Injili sekaligus mahasiswi Universitas Birzeit di Tepi Barat, ditangkap pada Selasa pagi bersama tiga perempuan Palestina lainnya, menurut laporan AFP.
Dalam sebuah pernyataan, Uskup Imad Haddad, Uskup Gereja Lutheran Injili di Yordania dan Tanah Suci, mengatakan bahwa komunitas Gereja merasa “sangat terkejut dan ngeri atas berita ini, serta atas kenyataan bahwa keluarganya hingga kini belum mengetahui ke mana Abu Dayyeh dibawa.”
Uskup Haddad menambahkan bahwa dirinya “sangat terguncang” karena Abu Dayyeh kini bergabung dengan “ribuan warga Palestina yang ditahan Israel tanpa dakwaan maupun proses pengadilan.”
“Ini bukanlah kasus yang berdiri sendiri,” kata aktivis hak asasi manusia Palestina, Ihab Hassan, yang juga merupakan pengelola kampanye Save West Bank Christians.
Hassan menunjuk pada kasus Layan Naser, mahasiswi Kristen lainnya di Universitas Birzeit, yang telah ditangkap sebanyak tiga kali dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini adalah sebuah pola yang terus berulang,” ujar Hassan kepada Vatican News. “Naser dijatuhi hukuman delapan bulan penjara karena aktivitasnya di lingkungan kampus. Natalie Abu Dayyeh kini mungkin menghadapi jalan yang sama.”
Menurut AFP, militer Israel menyatakan bahwa keempat perempuan tersebut ditangkap karena diduga “mempromosikan aktivitas teroris”.
Sementara itu, Universitas Birzeit mengecam penangkapan tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari “kebijakan sistematis Israel yang menargetkan pendidikan Palestina serta hak para mahasiswa untuk melanjutkan perjalanan akademik mereka.”
Penangkapan itu terjadi beberapa bulan setelah operasi besar militer Israel di Universitas Birzeit pada Januari lalu. Dalam operasi tersebut, pasukan Israel menembakkan gas air mata, granat kejut, serta amunisi tajam.