Cari

Paus Leo beraudiensi dengan anggota Parlemen Spanyol pada Senin, 8 Juni Paus Leo beraudiensi dengan anggota Parlemen Spanyol pada Senin, 8 Juni   (@Vatican Media)

Kunjungan Bersejarah Paus Leo ke Parlemen Spanyol

Dua hari lalu, Paus Leo XIV melakukan salah satu kunjungan penting dalam rangkaian lawatannya di Madrid dengan mendatangi Parlemen Spanyol di Kongres Deputi. Seusai kunjungan tersebut, Prof. Emilio Sáenz Francés, sejarawan dan profesor Hubungan Internasional di Universitas Kepausan Comillas, berbicara kepada Vatican News mengenai makna penting pidato Paus tersebut.

Oleh Kielce Gussie – Madrid

Pada hari ketiga kunjungannya di Spanyol, Paus Leo memulai agenda dengan sebuah pertemuan bersejarah bersama Parlemen Spanyol di Kongres Deputi di Madrid.

Vatican News berbincang dengan sejarawan sekaligus Profesor bidang Hubungan Internasional di Universitas Kepausan Comillas, Madrid, Prof. Emilio Sáenz Francés  mengenai dampak kunjungan tersebut dan sejumlah pokok penting yang disampaikan Paus dalam pidatonya.

Menurut Saenz, tanpa berkunjung ke Parlemen pun, perjalanan Paus Leo ke Spanyol sudah merupakan sebuah peristiwa bersejarah. “Ini sudah 15 tahun sejak kunjungan seorang Paus terakhir kalinya di Spanyol,” jelasnya.

Sejauh ini, Prof. Sáenz menyoroti bahwa kunjungan tersebut akan terus dikenang sebagai peristiwa bersejarah karena berbagai persinggahan penting yang dilakukan dalam perjalanan enam hari tersebut.

Gereja Memiliki Suara untuk Disampaikan

Pada Senin pagi—hari ketiga Paus berada di ibu kota Spanyol—Paus Leo memasuki ruang politik negara itu. Menurut Prof. Sáenz, hal tersebut memberi pesan yang sangat kuat.

Pidato Paus, katanya, “membawa gagasan-gagasan Paus, yakni gagasan Gereja Katolik, ke dalam perdebatan nyata yang sedang berlangsung dalam kehidupan politik Spanyol saat ini.”

Sebagai negara yang selama berabad-abad memiliki sejarah dan tradisi yang erat dengan Gereja Katolik, kesempatan bertemunya dua lingkungan tersebut memiliki makna yang sangat penting. Pertemuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara keduanya masih hidup dan relevan.

Pidato Paus disampaikan di Kongres Deputi di Madrid
Pidato Paus disampaikan di Kongres Deputi di Madrid   (@Vatican Media)

Namun demikian, Paus memulai pidatonya dengan sebuah penegasan penting mengenai keseimbangan antara Gereja dan negara. Situasi politik saat ini di Spanyol memperlihatkan adanya perdebatan mengenai hal tersebut. Sebagian pihak bahkan berpendapat bahwa Paus atau Gereja seharusnya tidak memiliki kesempatan untuk berbicara di hadapan Parlemen.

Karena itu, Prof. Sáenz menyoroti kebijaksanaan Paus ketika menegaskan bahwa peran Gereja bukanlah mempertanyakan legitimasi lembaga-lembaga politik.

“Namun demikian, Gereja—dan Paus—sepenuhnya berhak untuk menyampaikan refleksi mengenai realitas sosial, ekonomi, dan politik dunia saat ini,” tegasnya.

Lebih jauh lagi, pesan tersebut perlu dikomunikasikan dengan bahasa yang mampu menjangkau sebuah parlemen yang sangat terpolarisasi, sementara berbagai isu yang sedang diperdebatkan juga harus dibahas secara terbuka.

Dengarkan cuplikan wawancara dengan Profesor Frances

Salamanca: Sejarah Intelektual yang Kaya

Menurut Saenz, salah satu bagian penting dalam pidato Paus adalah ketika ia merujuk pada Mazhab Salamanca. Pada masa kejayaan Spanyol, Mazhab Salamanca merupakan “pelopor dalam pengembangan berbagai gagasan penting, seperti kapitalisme dan konsep tentang manusia.”

Dalam konteks pesan Paus kepada Parlemen, Mazhab Salamanca menjadi contoh pemikiran intelektual berkualitas yang memiliki hubungan mendalam dengan Kekristenan. Secara khusus, Prof. Sáenz mengatakan bahwa tradisi tersebut menekankan perlunya membatasi kekuasaan duniawi—sesuatu yang tetap relevan dalam dunia saat ini. Ia memperingatkan adanya penurunan kualitas mekanisme pengawasan dan keseimbangan kekuasaan dalam sistem demokrasi.

“Kita hidup pada masa ketika negara-negara adidaya berusaha mencapai tujuan mereka tanpa pengawasan apa pun, atau enggan sepenuhnya untuk mematuhi mekanisme pengendalian yang diperlukan dalam budaya politik,” jelasnya.

Spanyol sendiri, setelah bertahun-tahun menjalani proses transisi menuju demokrasi, kini menghadapi ketegangan antara demokrasi dan parlemen serta bagaimana menyeimbangkan kedua kekuatan tersebut.

Paus mengingatkan bahwa di negara yang dianggap sebagai salah satu tempat lahirnya kebudayaan barat itu terdapat pemahaman yang lebih mendalam mengenai berbagai jebakan yang muncul dari nilai-nilai yang saat ini mendominasi politik global.

Menurut Prof. Sáenz, pesan kepausan itu memang ditujukan kepada Spanyol, tetapi pada saat yang sama juga berbicara kepada “cara berpikir politik Eropa.”

Martabat Manusia Menghadapi Tantangan dari Berbagai Arah

Pemerintah, menurut Paus, harus membentuk hukum berdasarkan pengakuan bahwa martabat manusia melekat pada setiap pribadi. Jika prinsip ini dijalankan, maka hukum akan menjadi pelindung bagi manusia. Inilah standar yang menurut Paus harus diupayakan oleh setiap negara.

Namun Saenz mengakui bahwa tugas itu menjadi ‘sangat sulit’ ketika dihadapkan pada situasi dunia yang lebih luas.

Ia menekankan bahwa saat ini Paus dan Gereja berperan sebagai “mercusuar yang diperlukan untuk mengatakan bahwa terdapat kesalahan-kesalahan di cakrawala, terdapat kesalahan-kesalahan yang sedang berkembang pada masa kini, dan bahwa itu bukan jalan yang benar.”

Prof. Sáenz berpendapat bahwa sejarah sendiri telah membuktikan bahwa mengabaikan standar tersebut tidak pernah berhasil. Namun demikian, terdapat tantangan besar dalam mempertahankan posisi yang dianggap “bertentangan dengan arus budaya” ini. Cukup melihat kondisi politik dunia saat ini: perang di Timur Tengah, perang di Ukraina, serta berbagai konflik di Afrika.

Paus Leo menyinggung isu-isu global saat ini seperti meningkatnya penggunaan alat-alat perang, perdamaian, dan martabat manusia
Paus Leo menyinggung isu-isu global saat ini seperti meningkatnya penggunaan alat-alat perang, perdamaian, dan martabat manusia   (@Vatican Media)

“Sangat sulit mempromosikan nilai-nilai yang justru sedang ditantang dari berbagai arah,” tegasnya. Pada saat yang sama, ia menambahkan, justru sekaranglah semakin penting untuk memperjuangkan nilai-nilai tersebut dengan bimbingan moral dan otoritas Paus.

Saenz juga menunjukkan bahwa Paus Leo tampaknya menjadikan hal ini sebagai salah satu prioritas pelayanannya. “Ia menjadi Paus pada salah satu masa yang paling penuh ketidakpastian dan bahaya geopolitik sejak berakhirnya Perang Dunia II.”

Sebuah Resep Perubahan

Di tengah berbagai konflik yang masih berlangsung di seluruh dunia, peperangan yang belum selesai, Paus Leo secara tegas mengecam langkah tersebut sebagai respons terhadap rasa tidak aman dan berbagai tantangan yang dihadapi dunia saat ini. Sebaliknya, ia kembali menegaskan pentingnya dialog, hukum internasional, dan diplomasi dibandingkan dengan upaya kekerasan yang makin menjadi.

Meski demikian, Sáenz mengakui bahwa seruan tersebut berjalan berlawanan dengan arus mayoritas. “Pada masa sekarang, membela gagasan yang menolak perang merupakan sikap yang bertentangan dengan budaya dominan.” Namun sebelum berbicara mengenai senjata, Paus terlebih dahulu mengajak semua pihak untuk melucuti apa yang kita ucapkan. Hal-hal besar dapat dicapai melalui langkah-langkah kecil.

Dalam konteks ini, Saenz mengajak semua orang untuk memulihkan “kemampuan berbicara dari posisi politik yang berbeda, posisi moral yang berbeda, tuntutan politik yang berbeda, dan ambisi geopolitik yang berbeda. Marilah kita berbicara untuk menemukan titik temu agar dapat melangkah maju bersama.”

Menurutnya, hal itu pernah berhasil pada masa lalu dan dapat berhasil kembali pada masa kini.

Dengan melihat Spanyol sebagai “mikrokosmos dari dunia yang lebih luas”, Sáenz menegaskan bahwa manusia “dapat kembali menggunakan kata-kata dan dialog sebagai titik awal untuk menciptakan perubahan-perubahan kecil.” Dari sanalah, sedikit demi sedikit, perubahan yang lebih besar dapat terwujud.

10 Jun 2026, 10:46