Cari

Kondisi perang di Timur Tengah Kondisi perang di Timur Tengah  (AFP or licensors)

Krisis Global Berlanjut di Eropa, Afrika, dan Timur Tengah

Berbagai konflik bersenjata dan krisis kemanusiaan masih terus berlangsung di sejumlah kawasan dunia, mulai dari Timur Tengah, Ukraina, hingga Afrika. Situasi tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan pengungsian massal, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi global, terutama di sektor energi dan pangan.

Oleh Nathan Morley

Di Timur Tengah, perhatian dunia saat ini tertuju pada kemungkinan berlakunya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, gangguan di sekitar Selat Hormuz masih menjadi sumber kekhawatiran utama.

Para ekonom Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa cadangan bahan bakar dan pupuk dunia telah mencapai tingkat yang sangat rendah. Kondisi ini berpotensi mengurangi produksi pangan global dan memperburuk ketahanan pangan di berbagai negara.

Cadangan strategis bahan bakar saat ini dilaporkan hanya mencapai 357 juta barel per hari, salah satu tingkat terendah sejak awal dekade 1980-an.

Tekanan semakin besar akibat gelombang panas yang melanda belahan bumi utara dan dikaitkan dengan fenomena El Niño. Jika lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz kembali terganggu, dunia dapat menghadapi kelangkaan energi dan bahan baku yang lebih serius.

Sementara itu, krisis kemanusiaan yang berlangsung selama empat bulan terakhir telah memberikan dampak yang sangat berat bagi perempuan dan anak perempuan. Dana Kependudukan PBB (UNFPA) melaporkan bahwa lebih dari 1,4 juta orang, atau lebih dari 20 persen populasi, kini mengungsi dari tempat tinggal mereka.

Di antara para pengungsi tersebut terdapat sekitar 16.000 perempuan hamil yang membutuhkan layanan kesehatan khusus. Namun, kerusakan fasilitas kesehatan membatasi akses terhadap layanan ibu dan kesehatan reproduksi. Kondisi tempat penampungan yang padat juga membuat banyak perempuan enggan mencari bantuan medis.

Di Eropa Timur, perang di Ukraina masih menunjukkan sedikit harapan untuk mereda. Pada Senin, Ukraina kembali melancarkan serangan ke Moskow sebagai upaya menekan Presiden Rusia, Vladimir Putin, agar mengakhiri perang yang telah memasuki tahun keempat.

Serangan pesawat nirawak pekan lalu dilaporkan merusak sebuah kilang minyak dalam salah satu serangan terbesar yang pernah terjadi di ibu kota Rusia sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina dimulai pada 24 Februari 2022.

Pemantau PBB mencatat bahwa Mei 2026 menjadi bulan dengan jumlah korban sipil tertinggi selama empat tahun terakhir sejak konflik tersebut berlangsung.

Di Afrika, perang saudara di Sudan juga terus memburuk. Pertempuran antara tentara pemerintah dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) kini memasuki tahun keempat.

Menurut Dewan Hak Asasi Manusia PBB, kedua pihak terus melakukan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, termasuk kekerasan seksual yang terjadi secara sistematis.

Selain itu, penggunaan pesawat nirawak untuk menyerang infrastruktur penting semakin meningkat. Dalam insiden terbaru, serangan bahkan menargetkan warga sipil yang sedang menghadiri sebuah pemakaman.

Data PBB menunjukkan bahwa antara Januari hingga Mei 2026, lebih dari 1.000 warga sipil tewas akibat serangan drone. Angka tersebut mencakup sekitar 80 persen dari seluruh kematian warga sipil yang terkait konflik sepanjang tahun ini.

Berbagai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun perhatian dunia sering terfokus pada satu kawasan tertentu, konflik dan krisis kemanusiaan masih berlangsung secara bersamaan di berbagai belahan dunia, dengan dampak yang semakin besar terhadap kehidupan jutaan orang.

Dengarkan laporan Nathan Morley (Bahasa Inggris)
23 Jun 2026, 15:21