Warga Kolombia bersiap memberikan suara dalam putaran kedua pemilihan presiden. Pemilu kali ini dipandang sebagai pilihan antara melanjutkan kebijakan dialog pemerintahan saat ini atau mengambil pendekatan baru yang lebih keras terhadap kelompok bersenjata. Warga Kolombia bersiap memberikan suara dalam putaran kedua pemilihan presiden. Pemilu kali ini dipandang sebagai pilihan antara melanjutkan kebijakan dialog pemerintahan saat ini atau mengambil pendekatan baru yang lebih keras terhadap kelompok bersenjata.  (AFP or licensors)

Warga Kolombia Pilih Keberlanjutan atau Perubahan pada Putaran Kedua Pilpres

Pemilih di seluruh Kolombia memberikan suara pada putaran kedua pemilihan presiden hari Minggu untuk menentukan arah masa depan negara: melanjutkan kebijakan pemerintahan saat ini melalui dialog dengan kelompok bersenjata atau mengambil pendekatan yang lebih keras dengan menghentikan perundingan dan memperkuat kebijakan keamanan.

Oleh James Blears

BOGOTÁ – Warga Kolombia kembali mendatangi tempat pemungutan suara pada Minggu untuk mengikuti putaran kedua pemilihan presiden yang akan menentukan apakah negara itu melanjutkan kebijakan pemerintahan saat ini atau memilih arah baru yang lebih tegas dalam menghadapi konflik bersenjata.

Senator Ivan Cepeda, kandidat yang didukung koalisi pemerintahan Historic Pact, mengusung agenda keberlanjutan dengan meneruskan kebijakan Presiden Gustavo Petro yang akan segera mengakhiri masa jabatannya.

Cepeda berjanji untuk terus memerangi kemiskinan dan melanjutkan perundingan dengan kelompok gerilya National Liberation Army (ELN) guna mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Pada putaran pertama pemilihan presiden yang digelar 31 Mei lalu, Cepeda memperoleh 40,9 persen suara.

Sementara itu, lawannya, Abelardo de la Espriella, seorang pengacara, pengusaha, dan penyanyi yang maju dari Partai Homeland, meraih 43,7 persen suara.

Meski belum pernah memiliki pengalaman politik sebelumnya, de la Espriella tampil sebagai salah satu figur yang menarik perhatian publik. Ia dikenal dengan julukan “The Tiger” dan mengusung pendekatan yang jauh lebih keras terhadap kelompok bersenjata.

Jika terpilih, ia berjanji akan menghentikan seluruh perundingan dengan ELN dan membangun sepuluh penjara dengan tingkat keamanan maksimum.

Karena tidak ada kandidat yang berhasil meraih lebih dari 50 persen suara pada putaran pertama, sekitar 40 juta pemilih yang memenuhi syarat harus kembali memberikan suara dalam putaran penentuan.

Siapa pun yang memenangkan pemilu ini akan menghadapi tantangan besar dalam menangani konflik dengan ELN, baik melalui pendekatan dialog maupun kebijakan yang lebih represif.

Presiden baru juga harus berupaya membangun dukungan politik di Kongres untuk menjalankan program-program pemerintahannya.

Namun, ruang gerak pemerintahan mendatang diperkirakan tidak akan mudah karena Kolombia saat ini menghadapi defisit fiskal yang membatasi ketersediaan anggaran negara.

Dengarkan Reportase dari James Blears (Bahasa Inggris)
20 Jun 2026, 17:19