Paus Leo XIV menyambut novelis Amerika Jonathan Safran Foer dalam pertemuan di Vatikan. Paus Leo XIV menyambut novelis Amerika Jonathan Safran Foer dalam pertemuan di Vatikan. 

Jonathan Safran Foer: Sastra Bangkitkan Empati yang Dapat Mengubah Dunia

Berbicara kepada Vatican News setelah bertemu Paus Leo XIV dalam perayaan seratus tahun Penerbit Vatikan, novelis Amerika Jonathan Safran Foer merefleksikan sastra, kebenaran, perubahan iklim, kecerdasan buatan, dan mengapa empati tetap menjadi harapan terbesar umat manusia.

Oleh Francesca Merlo

"Anda mengira penderitaan dan patah hati Anda belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah dunia, tetapi kemudian Anda membaca. Dostoevsky dan Dickens-lah yang mengajarkan kepada saya bahwa hal-hal yang paling menyiksa saya justru merupakan hal-hal yang menghubungkan saya dengan semua orang yang hidup, yang pernah hidup."
— James Baldwin, untuk LIFE Magazine, Mei 1963.

Jonathan Safran Foer berdiri di bawah Baldakin Bernini di Basilika Santo Petrus, beberapa saat setelah bertemu Paus Leo XIV, sambil merefleksikan kedekatan yang hening antara seorang penulis dan pembacanya.

“Apa yang dilakukan sastra—dan James Baldwin menuliskannya dengan sangat indah—adalah mengingatkan kita bahwa hal-hal yang paling dalam kita rasakan tidak menjauhkan kita dari orang lain. Justru hal-hal itu menghubungkan kita dengan orang lain,” katanya kepada Vatican News.

Novelis dan esais asal Amerika Serikat itu baru saja bergabung dengan puluhan penulis dari seluruh dunia pada 24 Juni untuk merayakan seratus tahun Penerbit Vatikan. Berkumpul di Vatikan, mereka mendengarkan refleksi Paus Leo mengenai panggilan hidup para penulis.

Dalam pidatonya, Paus menggambarkan kegiatan menulis sebagai tindakan yang berakar pada kebenaran dan kemanusiaan, serta mendorong para penulis untuk menciptakan ruang di mana empati, dialog, dan harapan dapat berkembang. Ia mengingatkan bahwa “kebenaran bukanlah wilayah yang harus dipertahankan, melainkan kebaikan yang harus dibagikan.” (Magnifica Humanitas, 25).

Seni Menghubungkan Kita dengan Apa yang Paling Dalam Kita Rasakan

“Ketika saya menulis buku pertama saya,” kenang Foer—kisah tentang seorang penulis muda Yahudi-Amerika yang melakukan perjalanan ke Ukraina untuk menemukan perempuan yang menyelamatkan kakeknya dari Nazi—“saya berpikir: siapa yang mungkin menyukai buku ini?”

Ia membayangkan pembacanya adalah pria muda Yahudi yang memiliki pengalaman serupa dengan dirinya dan tokoh utama novel tersebut.

Namun ternyata banyak orang dari kelompok itu justru tidak menyukainya. Sebaliknya, banyak pembaca yang paling terhubung secara emosional dengan novel itu justru hampir tidak memiliki kesamaan apa pun dengannya.

“Beberapa tanggapan paling kuat yang saya terima datang dari orang-orang yang tinggal di belahan dunia lain, yang membaca buku itu dalam terjemahan, yang tidak memiliki agama yang sama dengan saya, tidak berasal dari generasi yang sama, dan bahkan tidak berbicara dalam bahasa yang sama dengan saya. Secara lahiriah tampaknya kami memiliki sangat sedikit cara untuk berkomunikasi secara langsung,” lanjutnya.

“Namun kemudian seni mengingatkan kita bahwa hal-hal yang paling dalam kita rasakan tidak peduli pada semua perbedaan itu.”

Hubungan Kita dengan Kebenaran

Mungkin justru kemampuan untuk melampaui batas-batas budaya, bahasa, dan politik itulah yang membuat sastra memiliki hubungan yang unik dengan kebenaran. Foer menyadari tanggung jawab yang dipikul oleh mereka yang menulis.

Perdebatan publik saat ini sering kali tampak berkisar pada upaya mempertahankan berbagai versi kebenaran. Namun, menurut Foer, tantangan masa kini tidak lagi sekadar persoalan perbedaan pendapat.

Berbicara tentang negara asalnya, Amerika Serikat, ia mengatakan:

“Kita telah sampai pada situasi yang bahkan lebih buruk. Bukan lagi soal kebenaran yang saling bersaing, melainkan ketidakmauan untuk menerima bahwa sesuatu seperti kebenaran itu memang ada. Tidak ada lagi realitas yang kita bagikan bersama.”

Ia mengakui keindahan dari kenyataan bahwa setiap orang memiliki keyakinan dan alasan-alasannya sendiri. Namun, ia memperingatkan bahwa kini kita telah sampai pada titik ketika “kita mempercayai sesuatu tanpa alasan dan tanpa bukti. Itu hanyalah perasaan kita, intuisi kita.”

Menurutnya, kondisi ini telah berlangsung kurang lebih selama era media sosial berkembang. Para pemimpin, katanya, memang tidak menciptakan realitas tersebut. Namun mereka bersalah karena melegitimasinya, membawanya ke ruang publik, dan membuatnya diterima secara luas.

Menurut pandangannya, para pemimpin politik Amerika Serikat telah “mempersenjatai gagasan bahwa tidak ada kebenaran yang layak dipercaya.”

Berbicara tentang Hal-Hal yang Paling Penting

Bagi Foer, persoalan ini melampaui dunia politik. Hal ini juga tercermin dalam respons umat manusia terhadap salah satu krisis yang selama ini banyak menjadi tema tulisannya.

“Ada alasan mengapa Anda dan saya berdiri di sini sambil berkeringat deras,” katanya. “Cuaca sangat panas untuk ukuran musim ini. Dan kondisi seperti itu terjadi di mana-mana.”

Panas yang menyengat itu menjadi pengingat yang tidak nyaman bahwa umat manusia sebenarnya sudah mengetahui apa yang sedang terjadi.

“Ini bukan misteri. Kita tahu dengan pasti mengapa hal itu terjadi. Kita tahu bahwa pilihan-pilihan kita sebagai individu, komunitas, dan negara telah menyebabkan perubahan iklim.”

Namun, terdapat kesenjangan yang jelas antara mengetahui kebenaran dan bagaimana kita bereaksi terhadapnya. Kita telah belajar bahwa pengetahuan semata tidak cukup untuk mengubah perilaku dan mendorong tindakan.

“Manusia memiliki kemampuan yang luar biasa untuk mengetahui sesuatu tanpa benar-benar merasakannya di dalam hati dengan cara yang dapat menggerakkan tindakan.”

Yang dibutuhkan, menurutnya, bukan sekadar informasi tambahan, melainkan imajinasi moral yang memungkinkan seseorang merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaannya sendiri.

Meskipun kita telah menyadari adanya masalah, “saya tidak berpikir solusi bagi masalah-masalah terbesar kita akan muncul secara alami,” kata Foer. “Solusi itu akan muncul karena kita menemukan cara untuk terus mengingatkan diri bahwa kita harus bertindak.”

Dan, menurutnya, di situlah salah satu tugas utama kepemimpinan.

“Saat ini tidak banyak pemimpin yang baik yang berbicara tentang berbagai persoalan besar kita dengan cara yang komunikatif dan menginspirasi,” ujarnya.

Lalu, kembali pada konteks yang membawanya ke Vatikan, ia menambahkan bahwa hal itulah yang “sungguh membedakan Paus Leo.”

Dapatkah Sastra Menginspirasi Tindakan?

Foer melanjutkan bahwa ensiklik terbaru Paus tentang kecerdasan buatan, Magnifica Humanitas, merupakan dokumen yang “cemerlang dan penting, tetapi juga sangat unik dengan cara yang mengkhawatirkan (...) karena berbicara mengenai persoalan ini dengan cara yang tidak dilakukan para pemimpin lain, padahal mereka seharusnya melakukannya.”

Foer melihat kecerdasan buatan sebagai contoh lain dari tantangan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan kesadaran.

“Jika satu-satunya respons terhadap AI adalah tindakan individu, maka itu tidak akan menjadi masalah yang mampu memperbaiki dirinya sendiri,” katanya.

“Jika persoalan ini dapat diselesaikan, itu akan terjadi karena pengetahuan berubah menjadi tindakan, dan perubahan itu terjadi karena kita terinspirasi.”

Namun, apakah sastra sendiri mampu menginspirasi tindakan seperti itu merupakan pertanyaan yang menurut Foer tidak mudah dijawab.

“Saya tidak tahu apakah sastra bisa,” akunya.

“Salah satu hal tentang menulis adalah bahwa Anda benar-benar menulis dalam kegelapan.”

Alih-alih berusaha meyakinkan pembaca tentang perubahan iklim atau politik, ia mengatakan bahwa dirinya hanya menulis tentang hal-hal yang paling penting baginya secara pribadi.

Dan justru di situlah sastra secara tak terduga memperlihatkan kekuatannya.

Seni yang Membuka Hati Manusia

Kembali pada kata-kata James Baldwin, Foer menggambarkan sastra sebagai sesuatu yang mampu menjangkau lapisan terdalam manusia, melampaui bahasa, kebangsaan, atau keyakinan.

“Mudah-mudahan sastra, yang memiliki kemampuan menyentuh manusia pada ruang paling dasar yang mendahului ras, agama, bahasa, dan kebangsaan Anda—barangkali itulah ruang yang harus disentuh agar manusia terbangun terhadap penderitaan yang ada di dunia.”

Baginya, ini bukan argumen untuk menulis novel tentang perubahan iklim atau imigrasi.

“Ini adalah argumen untuk menulis dengan cara yang membuat orang mampu merasakan empati.”

Karena, menurut keyakinannya, empati jarang terbatas pada satu isu tertentu saja.

“Orang-orang yang memiliki empati, yang terbuka terhadap dunia, cenderung memiliki empati yang luas,” katanya.

“Menurut saya, ada orang-orang yang terbuka dan ada orang-orang yang tertutup... Dan seni adalah alat yang luar biasa untuk membuka manusia.”

"Saya sering bertanya-tanya apa yang akan saya lakukan jika tidak ada buku di dunia ini."
— James Baldwin, Giovanni's Room

25 Jun 2026, 14:05