Cari

Presentasi Indeks Perdamaian Global di Kedutaan Besar Australia untuk Takhta Suci di Roma. Tampak Duta Besar Keith Pitt (kiri) dan Steve Killelea (kanan). Presentasi Indeks Perdamaian Global di Kedutaan Besar Australia untuk Takhta Suci di Roma. Tampak Duta Besar Keith Pitt (kiri) dan Steve Killelea (kanan). 

Indeks Perdamaian Global 2026: Kita Harus Berinvestasi untuk Perdamaian, Bukan Perang

Kedutaan Besar Australia untuk Takhta Suci menjadi tuan rumah dalam pemaparan Indeks Perdamaian Global 2026 bersama pendiri Institute for Economics and Peace (GPI, atau Lembaga Ekonomi dan Perdamaian), Steve Killelea, yang menjelaskan pentingnya memiliki datatentang tingkat perdamaian dunia dan perlunya berinvestasi pada perdamaian, bukan perang.

Oleh Kielce Gussie

Selama dua belas tahun terakhir, perdamaian di seluruh dunia terus mengalami kemunduran. Semakin banyak negara terlibat dalam konflik eksternal, jumlah serangan drone meningkat lebih dari 11.500 persen antara tahun 2018 hingga 2025, dan jumlah korban tewas akibat pertempuran domestik meningkat enam kali lipat sejak tahun 2007.

Data tersebut tersedia berkat adanya Indeks Perdamaian Global (Global Peace Index/GPI). Sebagai bagian dari Institute for Economics and Peace, pendiri sekaligus Ketua Eksekutif organisasi tersebut, Steve Killelea, menciptakan indeks ini untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan masyarakat, pemerintah, dan negara-negara guna secara konkret mengupayakan perdamaian di dunia.

Steve Killelea adalah pendiri dan ketua eksekutif Institute for Economics and Peace
Steve Killelea adalah pendiri dan ketua eksekutif Institute for Economics and Peace

“Sebagian orang bertanya-tanya mengapa hal ini penting. Namun jika Anda tidak dapat mengukur sesuatu, apakah Anda benar-benar dapat memahaminya?” tegas Killelea kepada Vatican News.

Bagaimana Anda Mengetahuinya?

Pertama kali diluncurkan pada tahun 2007, GPI menjadi salah satu penelitian terpenting di dunia dalam mengukur tingkat kedamaian global. Indeks ini menggabungkan tiga kategori utama untuk menghasilkan penilaian menyeluruh, yaitu: militerisasi, konflik yang sedang berlangsung, serta  keselamatan dan keamanan internal. 

Sebelum adanya GPI, belum pernah ada indeks yang terstandarisasi dan komprehensif yang menyusun peringkat negara-negara berdasarkan tingkat perdamaiannya. Tanpa pengukuran yang tepat, Killelea mengajukan pertanyaan mendasar: “Bagaimana Anda mengetahui apakah tindakan Anda membantu atau justru menghambat pencapaian tujuan? Anda sama sekali tidak mengetahuinya.”

Berinvestasi pada Sesuatu yang Lebih Besar

Dalam presentasi GPI 2026 di Roma pada 22 Juni, Duta Besar Australia untuk Takhta Suci, Keith Pitt, menekankan pentingnya karya yang telah dilakukan Killelea melalui GPI selama 19 tahun terakhir.

Duta Besar Australia untuk Takhta Suci, Keith Pitt, memperkenalkan Killelea dan GPI
Duta Besar Australia untuk Takhta Suci, Keith Pitt, memperkenalkan Killelea dan GPI

Data GPI menunjukkan peningkatan jumlah konflik di berbagai belahan dunia. Pendiri indeks tersebut juga menyoroti perubahan cara perang berakhir. Pada dekade 1970-an, sebanyak 23 persen konflik berakhir melalui perjanjian damai. Namun pada dekade 2010-an, angka tersebut turun menjadi hanya 4 persen.

Mengapa hal itu terjadi dan mengapa begitu banyak konflik muncul di dunia saat ini? Menurut Killelea, terdapat banyak “konflik kecil yang berkepanjangan” yang sewaktu-waktu dapat berkembang menjadi konflik besar. “Jika kita tidak dapat menghentikan konflik-konflik tersebut, maka secara logis jumlahnya akan terus bertambah,” jelasnya.

Salah satu senjata yang menjadi ciri khas peperangan masa kini adalah drone, yang telah mengubah cara konflik berlangsung jauh lebih cepat daripada kemampuan dunia untuk mengimbanginya. Agar tidak tertinggal, Killelea menekankan perlunya pemerintah “melihat secara jernih dampak konflik terhadap perekonomian mereka, terhadap warga negara mereka, dan juga terhadap posisi mereka di panggung global.”

Dengarkan cuplikan wawancara Steve Killelea (Bahasa Inggris)

Selain itu, ia menunjukkan bahwa hanya sekitar 0,1 hingga 1 persen dari dana yang dialokasikan untuk militer digunakan untuk membangun perdamaian. Kecerdasan buatan (AI) juga telah memangkas waktu yang dibutuhkan untuk menentukan sasaran dari satu hari menjadi hanya beberapa detik.

Masalah drone, menurutnya, juga merupakan persoalan etis. Drone memungkinkan tindakan membunuh dilakukan tanpa pengawasan manusia. Teknologi ini menghilangkan dimensi kemanusiaan dalam peperangan dan seolah membuat penghilangan nyawa orang lain menjadi lebih mudah hanya dengan menekan sebuah tombol.

Killelea memperingatkan bahwa “tanpa campur tangan manusia, Anda tidak akan mengetahui apakah AI telah menghasilkan halusinasi atau kesalahan identifikasi.” Akibatnya, orang-orang yang tidak bersalah dapat menjadi sasaran dan kehidupan mereka dapat hancur.

Killelea menekankan bahwa perdamaian hanya dapat dicapai jika orang berinvestasi untuk perdamaian.
Killelea menekankan bahwa perdamaian hanya dapat dicapai jika orang berinvestasi untuk perdamaian.

Ia juga mencatat bahwa pemerintah harus mulai mencari cara membangun aliansi demi menciptakan perdamaian. Kunci utama, menurut pendiri Institute for Economics and Peace tersebut, adalah “pemerintah menyadari bahwa Anda dapat berinvestasi untuk perang, tetapi hal itu tidak benar-benar menciptakan perdamaian.”

Perdamaian tercapai ketika orang-orang berinvestasi pada perdamaian. 

Dia menawarkan tiga Langkah konkrit untuk mencapai ini.  Pertama, lebih melibatkan diplomasi. Kedua, dalam menghadapi konflik lokal, penting  memahami dan mengatasi keluhan mereka dan mengatasinya. Ketiga, meningkatkan taraf hidup masyarakat.

“Jika masyarakat melihat kehidupan mereka semakin baik, mereka akan jauh lebih kecil kemungkinannya untuk berperang atau berusaha menggulingkan pemerintah,” tegas Killelea

Harapan di Cakrawala

Namun data tersebut tidak dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa tidak ada cahaya di ujung terowongan. Sebaliknya, Killelea menegaskan bahwa harapan tetap ada.

“Harapan bagi umat manusia adalah bahwa kita semua bergerak dalam siklus-siklus tertentu,” katanya. “Saya pikir kita dapat berharap bahwa banyak negara pada akhirnya akan sadar dan menyadari bahwa apa yang dulu mereka anggap membuat mereka kebal terhadap segala ancaman, ternyata tidak demikian.”

Ia juga menekankan bahwa dunia saat ini membutuhkan para pewarta perdamaian. Seruan-seruan berulang Paus Leo XIV mengenai perdamaian, dialog, dan penghentian kekerasan memiliki peran nyata dalam upaya mewujudkan perdamaian.

GPI meneliti dan mengukur faktor-faktor yang mendorong perdamaian di dunia
GPI meneliti dan mengukur faktor-faktor yang mendorong perdamaian di dunia

“Saya pikir saat ini kita membutuhkan beberapa nabi perdamaian. Tokoh-tokoh lama seperti Dalai Lama, Desmond Tutu, dan Nelson Mandela telah tiada. Saya pikir Paus Leo dapat mengambil peran tersebut. Karena itu saya sungguh mendorong beliau untuk benar-benar menjadi nabi perdamaian itu.”

24 Jun 2026, 13:29