Eskalasi Baru di Hormuz, Kuwait Menjadi Target Serangan drone
Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali meningkat setelah Kuwait menjadi target serangan drone. Amerika Serikat menyatakan telah melancarkan serangan terhadap situs militer Iran pada akhir pekan, sementara Teheran mengklaim membalas dengan menargetkan sebuah pangkalan militer Amerika.
Komando Pusat AS (U.S. Central Command) menyebut serangan tersebut sebagai “tindakan pertahanan diri” setelah aksi Iran, termasuk penembakan jatuh drone AS di atas perairan internasional.
Sebaliknya, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan telah menyerang pangkalan udara yang digunakan pasukan Amerika sebagai balasan atas serangan sebelumnya di Iran selatan.
Di sisi lain, Kuwait melaporkan sistem pertahanannya berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone bermusuhan selama saling serang tersebut.
Rangkaian serangan terbaru ini terjadi di tengah mandeknya perundingan AS–Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Kepala negosiator Iran menegaskan bahwa Teheran tidak akan menerima kesepakatan apa pun kecuali hak-haknya dijamin sepenuhnya.
Sementara itu, di Lebanon, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz memerintahkan militer untuk menyerang pinggiran selatan Beirut, setelah mereka menuding Hizbullah melanggar gencatan senjata melalui serangan roket dan drone ke kota-kota di utara Israel.
Media Israel melaporkan keputusan tersebut diambil setelah persetujuan Amerika Serikat untuk memperluas operasi militer Israel di Lebanon, termasuk kemungkinan serangan udara di ibu kota.
Di pihak lain, Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri menegaskan bahwa Hizbullah tetap berkomitmen pada gencatan senjata menyeluruh dan segera, serta menyerukan tekanan internasional agar Israel menghentikan operasi militernya.