Cari

Sebuah surat kabar menampilkan pemberitaan mengenai penandatanganan kesepakatan damai AS-Iran di sebuah kios koran di Islamabad. Sebuah surat kabar menampilkan pemberitaan mengenai penandatanganan kesepakatan damai AS-Iran di sebuah kios koran di Islamabad.   (AKHTAR SOOMRO)

AS dan Iran Capai Kesepakatan Akhiri Perang, Penandatanganan Dijadwalkan Jumat di Swiss

Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Pakistan, yang berperan sebagai mediator utama, menyatakan bahwa penandatanganan resmi perjanjian tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat mendatang di Swiss.

Oleh Nathan Morley

Kesepakatan ini dinilai sebagai langkah paling signifikan menuju perdamaian setelah berbulan-bulan upaya diplomasi yang berulang kali menemui jalan buntu.

Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa salah satu poin utama dalam kesepakatan tersebut adalah pembukaan kembali Strait of Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi perhatian utama Washington sejak konflik pecah. Sementara itu, pejabat tinggi Iran mengumumkan bahwa kesepakatan telah berhasil dicapai, dan pimpinan militer Iran menyebut hasil tersebut sebagai kemenangan bagi negara mereka.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa perjanjian tersebut mencakup penghentian permanen operasi militer di seluruh front, termasuk di Lebanon. Namun hingga kini, Israel belum mengeluarkan tanggapan resmi terhadap kesepakatan tersebut.

Sebaliknya, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) akan tetap mempertahankan kehadiran militernya di Lebanon tanpa batas waktu tertentu. Pernyataan itu mengindikasikan bahwa operasi militer Israel di wilayah tersebut kemungkinan masih akan berlanjut meskipun terdapat kerangka gencatan senjata yang lebih luas.

Konflik ini bermula pada 28 Februari ketika serangan Amerika Serikat dan Israel menghantam sejumlah target di Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan rudal ke Israel dan negara-negara Teluk yang bersekutu dengan Washington. Konflik tersebut dengan cepat meluas dan memicu kekhawatiran akan pecahnya perang regional yang lebih besar.

Bagi negara-negara Arab di kawasan Teluk, kabar tercapainya kesepakatan ini disambut dengan rasa lega. Selama konflik berlangsung, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi juga menjadi sasaran serangan rudal Iran. Para pemimpin kawasan telah mendorong penyelesaian diplomatik selama beberapa pekan terakhir.

Kementerian Luar Negeri Mesir menyebut kesepakatan tersebut sebagai perkembangan yang sangat penting karena berpotensi memulihkan keamanan dan stabilitas di Timur Tengah maupun kawasan internasional yang lebih luas.

Pasar keuangan Eropa merespons positif perkembangan tersebut. Indeks saham utama seperti DAX di Jerman dan CAC 40 di Prancis menguat sekitar 1,7 persen setelah investor melihat adanya peluang deeskalasi konflik. Harga minyak dunia juga mengalami penurunan karena pasar memperkirakan pembukaan kembali Selat Hormuz akan memperlancar distribusi energi global.

Meski demikian, sejumlah isu penting masih harus dibahas lebih lanjut, terutama terkait program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, dan berbagai persoalan keamanan kawasan. Kedua negara diperkirakan akan memasuki periode negosiasi teknis selama 60 hari setelah penandatanganan memorandum kesepahaman tersebut.

Dengarkan Reportase dari Nathan Morley (Bahasa Inggris)
15 Jun 2026, 15:25