Amerika Serikat dan Iran Teken Kesepakatan untuk Mengakhiri Konflik
Oleh Nathan Morley
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu menandatangani memorandum kesepahaman (MoU) dengan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Penandatanganan kesepakatan itu semula dijadwalkan berlangsung pada Jumat di Swiss. Namun, jadwal tersebut dimajukan untuk memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz lebih cepat.
Berdasarkan teks memorandum yang dipublikasikan, Amerika Serikat, Iran, dan para sekutunya sepakat untuk mengakhiri perang serta menghentikan seluruh operasi militer di semua front secara segera dan permanen, termasuk yang terkait dengan situasi di Lebanon.
Para pihak juga berjanji untuk tidak memulai permusuhan baru, menahan diri dari ancaman maupun penggunaan kekuatan, serta menjamin integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon.
Pengumuman kesepakatan tersebut langsung memengaruhi pasar energi global. Harga minyak dunia turun, dengan minyak mentah Brent melemah sekitar 1,5 persen menjadi 78 dolar AS per barel.
Konflik ini bermula pada 28 Februari ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lainnya di Iran. Sebagai balasan, Iran melancarkan gelombang serangan rudal dan pesawat nirawak yang menargetkan Israel serta pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Di Lebanon selatan, pasukan Israel kembali melancarkan serangan pada Rabu, meskipun Presiden Trump sebelumnya menyampaikan kritik baru terhadap tindakan militer Israel di wilayah itu.
Tingkat kekerasan di kawasan tersebut dilaporkan menurun sejak memorandum diumumkan. Namun demikian, sedikitnya lima orang dilaporkan tewas akibat tembakan pasukan Israel sejak kesepakatan itu dipublikasikan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, pada Kamis mengatakan bahwa dirinya menghentikan seluruh kontak dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas. Keputusan itu diambil setelah Kallas dilaporkan membandingkan Israel dengan rezim apartheid di Afrika Selatan pada masa lalu.