Kebun Paus di Taman Vatikan Kini 100 Persen Organik
Vatican News
Kebun sayur yang berada di samping Biara Mater Ecclesiae di Taman Vatikan kini sedang beralih sepenuhnya menjadi kebun organik.
Mengikuti pendekatan yang digariskan dalam ensiklik Paus Fransiskus tentang lingkungan hidup, Laudato si’, tujuan pengelolaan kebun ini bukanlah menghasilkan produksi sebanyak-banyaknya, melainkan menghormati siklus pertumbuhan alami setiap tanaman serta menjaga kesuburan tanah.
Paus Leo XIV pada November lalu menekankan pentingnya “merawat Ciptaan” ketika berbicara kepada para ahli agronomi dan kehutanan Italia.
Ia mengajak mereka memandang pekerjaan tersebut sebagai “bentuk nyata kasih terhadap Ibu Bumi dan generasi mendatang”, karena bumi “bukanlah milik kita, melainkan sebuah anugerah”. Mereka yang mengolah tanah “dengan penuh hormat dan kebijaksanaan” turut ambil bagian dalam karya kreatif Allah.
Bercocok tanam dengan menghormati tanah
Di masa lalu, pupuk kandang dari Vila Kepausan di Castel Gandolfo digunakan untuk kebun ini.
Kini, hanya pupuk pelet bersertifikat yang digunakan, yang dipilih sesuai dengan musim dan kebutuhan tanaman.
Praktik pertanian yang baik juga mengurangi kebutuhan akan produk perlindungan tanaman, karena jumlah dan aktivitas hama dijaga tetap di bawah ambang batas yang dapat menimbulkan kerusakan.
Setiap tindakan penanganan juga dicatat dalam “buku catatan lahan”, sebagaimana diwajibkan oleh peraturan untuk penggunaan bahan yang memerlukan sertifikasi. Sementara itu, bahan-bahan alami tidak memerlukan pencatatan tersebut.
Kesuburan tanah dipertahankan melalui teknik-teknik khusus, termasuk rotasi tanaman dengan menanam jenis kacang-kacangan, seperti buncis, yang secara alami mengikat nitrogen.
Tahun ini, pupuk berbahan dasar rumput laut juga sedang diuji coba pada tanaman tomat.
Bibit didatangkan dari luar dan sebelumnya telah diperlakukan dengan metode alami. Bibit yang dibeli lebih dipilih daripada memelihara persemaian sendiri, guna membatasi risiko penyebaran penyakit tanaman yang dapat merusak seluruh hasil panen. Namun, saat ini sedang dipelajari rencana untuk membangun persemaian di lokasi, sekaligus sebuah rumah kaca untuk tanaman bonsai.
Para biarawati bekerja bersama tukang kebun dan para pekerja muda
Lahan tersebut berada di bawah pengawasan Layanan Taman dan Lingkungan Hidup, yang dipimpin pakar kehutanan Stefano Giampaolo, dalam Direktorat Infrastruktur dan Layanan Gubernur Negara Kota Vatikan, yang dipimpin Direktur Salvatore Farina.
Setiap hari, tukang kebun berpengalaman Gilberto Bianchi merawat kebun tersebut yang terbentang di empat teras dengan luas lahan yang dapat ditanami kurang dari 400 meter persegi.
Selama beberapa waktu, ia dibantu oleh sekelompok pekerja muda. Kepada mereka, ia secara bertahap mewariskan pengalaman berharganya, agar pengetahuan yang terdiri dari berbagai tindakan kecil sehari-hari itu tidak hilang, tetapi tetap terpelihara—sebagaimana terjadi berabad-abad lalu ketika pengetahuan diwariskan dari satu biara ke biara lainnya.
Para biarawati yang membantu pekerjaan tersebut dari waktu ke waktu menentukan tanaman apa yang dibutuhkan, dengan mempertimbangkan musim dan apa yang dapat dihasilkan tanah pada waktu tertentu. Hingga saat ini, penyiraman masih dilakukan sepenuhnya secara manual.
Hanya menghasilkan tanaman sesuai musim
Kalender penanaman mengikuti pergantian musim dengan ketat: bawang putih segar, kemangi, berbagai bibit tanaman, cabai—termasuk varietas dari Peru yang terkenal karena rasa pedasnya—buah-buahan sitrus dan labu, yang matang hingga November.
Tahun ini, atas permintaan para biarawati, tanaman kiwi untuk pertama kalinya juga ditanam.
Menjelang akhir Agustus hingga awal September, penanaman untuk musim dingin dimulai, dengan kubis savoy, brokoli, bayam dan selada.
Bulan Mei merupakan bulan paling produktif bagi kebun ini.
Musim panas menjadi masa yang paling sulit karena panas. Pada musim ini, tomat, terong, paprika, buncis, zucchini dan mentimun—termasuk varietas dari Puglia—mulai mencapai akhir siklus pertumbuhannya.
Pohon-pohon jeruk di kebun ini berusia sekitar 150 tahun. Selama bertahun-tahun, berbagai varietas telah dicangkokkan pada pohon-pohon tersebut, termasuk beberapa varietas yang kini sudah tidak lagi ditemukan di pasaran.
Karena ditanam tanpa menggunakan bahan kimia, buahnya bahkan dapat dimakan bersama kulitnya. Para biarawati masih menggunakannya untuk membuat selai, manisan kulit jeruk dan biskuit. Sebagian diberikan kepada para tamu dan sebagian lainnya dijual.
Selama bertahun-tahun, hasil kebun kecil ini juga telah disalurkan kepada lembaga-lembaga amal, seperti Casa Dono di Maria, sebuah pelayanan yang kini kembali dihidupkan dengan semangat dan komitmen baru.
Kebun dengan sejarah 800 tahun
Sejarah kebun kecil ini bermula pada Abad Pertengahan.
Ketika Paus Nikolas III Orsini memindahkan kediaman kepausan dari Lateran ke Vatikan antara tahun 1277 dan 1280, ia juga memerintahkan pembangunan sebuah kebun buah dan sebuah viridarium—taman hijau—yang dikelilingi tembok-tembok baru.
Tempat tersebut merupakan lahan produktif yang membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga kepausan.
Delapan abad kemudian, fungsi tersebut tidak menghilang. Tradisi itu terus berlanjut, hampir tanpa perubahan, di samping biara yang digagas oleh Paus Yohanes Paulus II dan dibangun antara tahun 1992 dan 1994, sehingga komunitas para biarawati kontemplatif yang didedikasikan untuk berdoa bagi Paus senantiasa hadir di jantung Gereja.
Pada awalnya, para biarawati sendiri yang mengolah tanah tersebut.
“Bercocok tanam adalah doa yang dilakukan dengan tangan,” kata Abdis Benediktin Maria Sofia Cichetti, yang saat itu menjabat sebagai prior biara, kepada L’Osservatore Romano pada 26 Agustus 2009.
Paus Emeritus Benediktus XVI senang berjalan-jalan di tempat ini.