Uskup Agung Ronald Hicks Uskup Agung Ronald Hicks 

Uskup Agung Hicks dari New York: "Jangan kehilangan harapan, Yesus berada di dalam perahu bersama kita"

Dalam wawancara panjang bersama Vatican News di Roma setelah menerima pallium dari Paus Leo XIV, Uskup Agung Ronald Hicks dari New York merefleksikan pelayanannya di Keuskupan Agung New York. Ia mengamati semakin banyak kaum muda yang kembali menghidupi iman, karena mereka mencari makna sejati di tengah "kerapuhan dunia, yakni dunia yang terputus dari iman, tradisi moral, dan nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan."

Oleh Deborah Castellano Lubov

"Saya ingin memastikan bahwa kita dengan niat membantu bukan hanya kaum muda, tetapi semua orang dari berbagai usia, agar semakin mengenal, mengasihi, dan melayani Tuhan. Pada saat yang sama, kita harus terus menjadi Gereja yang tidak berpusat pada dirinya sendiri, melainkan Gereja yang bermisi dan melayani sesama. Itulah tipe gembala yang saya perjuangkan untuk menjadi."

Demikian disampaikan Uskup Agung Ronald Hicks ketika berbincang dengan Vatican News di Roma setelah menerima pallium dari Paus Leo XIV, seraya merefleksikan tugas perutusannya sebagai Uskup Agung New York.

Dalam wawancara tersebut, Uskup Agung Hicks berbicara mengenai berbagai hal, mulai dari apa yang paling mengejutkannya tentang Kota New York dan warganya, hingga apa yang telah mereka ajarkan kepadanya mengenai iman. Ia juga membahas tantangan dan peluang terbesar yang dihadapi Keuskupan Agung New York sebagai sebuah kota yang unik, serta membagikan kisah pribadi tentang bagaimana ia menemukan panggilannya, kehidupan doanya, dan bagaimana Gereja dengan pesan Injilnya mampu memberikan jawaban terhadap masyarakat yang semakin sekuler.

Uskup Agung Hicks, pada hari Senin Anda menerima pallium dari Paus Leo XIV di Basilika Santo Petrus. Apa makna momen itu bagi Anda secara pribadi, dan bagaimana hal itu membentuk misi yang kini Anda emban sebagai Uskup Agung New York?

Momen itu sungguh sangat berarti, terutama karena dipersatukan dengan Bapa Suci. Ketika pallium dikenakan di atas kepala saya dan para Uskup Agung Metropolitan lainnya, hal itu menegaskan bahwa kami hidup dalam kesatuan dengan Bapa Suci.

Beliau menyampaikan homili yang sangat indah mengenai pentingnya persatuan. Pada Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, beliau mengingatkan bahwa kedua rasul tersebut memiliki karakter yang sangat berbeda, namun dipersatukan oleh kasih mereka kepada Tuhan dan oleh kerinduan untuk melaksanakan misi-Nya.

Bapa Suci mendorong kami untuk meneladani kedua pemimpin agung Gereja itu serta tetap bersatu dengannya dalam menggembalakan Gereja.

Anda juga menerima pallium dari Paus pertama yang lahir di Amerika Serikat, bahkan berasal dari wilayah pinggiran Chicago yang dekat dengan tempat Anda dibesarkan. Apa yang Anda rasakan?

Rumah kami hanya berjarak sekitar 14 blok. Kami bahkan bisa bersepeda dari rumah satu ke rumah yang lain.

Saya merasakan begitu banyak emosi, terutama rasa syukur dan kekaguman. Perayaan Ekaristi itu sungguh kudus, agung, dan indah. Kami berkumpul di Basilika Santo Petrus mengelilingi Ekaristi bersama umat dari seluruh dunia.

Saya merasa sangat bersyukur menjadi bagian dari Gereja ini dan dipanggil untuk mengikuti Tuhan dengan cara yang istimewa. Saya juga bersyukur kepada semua orang yang mendampingi saya, bukan hanya mereka yang hadir secara fisik dalam Misa, tetapi juga semua orang yang telah berjanji mendoakan saya.

Semua itu memenuhi hati saya dengan sukacita. Rasanya seperti menikmati secercah surga. Saya bersyukur atas setiap momen tersebut.

Sejak tiba di New York, apa yang paling mengejutkan Anda, baik mengenai kota maupun penduduknya? Apa yang diajarkan warga New York kepada Anda tentang iman?

Hal yang paling mengejutkan saya adalah sambutan mereka yang begitu hangat.

Terus terang, saya sempat mempercayai stereotip bahwa banyak warga New York bersikap keras, kasar, dan selalu terburu-buru. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Saya menerima sambutan yang luar biasa, bukan hanya dari umat Katolik, tetapi juga dari masyarakat New York pada umumnya.

Saya bisa masuk ke sebuah toko pizza untuk membeli sepotong pizza, lalu orang di balik meja kasir mengenali saya dan bertanya, "Apakah Anda Uskup Agung yang baru?"

Saya menjawab, "Ya, saya yang baru."

Lalu ia berkata, "Selamat datang di New York. Selamat atas penugasan Anda. Kami senang Anda berada di sini."

Sambutan seperti itulah yang terus saya alami. Padahal saya belum melakukan sesuatu yang pantas memperoleh sambutan sebesar itu. Mereka menerimanya dengan tulus dan murah hati, dan saya sungguh bersyukur.

Apa yang  telah  saya pelajari?

Pertama, jangan memberi cap atau stereotip kepada seseorang sebelum benar-benar mengenalnya.

Kedua, New York merupakan gambaran kecil dari dunia. Seperti ungkapan yang sering kita pakai dalam Gereja, "semua orang ada di sini"—semua orang ada di sini.

Hal itu benar adanya di Keuskupan Agung New York. Setiap orang memiliki kisah hidup yang berbeda.

Yang saya sukai adalah betapa besar kecintaan mereka kepada New York, kepada Keuskupan Agung, kepada Gereja, dan kepada Yesus. Bersama-sama mereka ingin melakukan sesuatu yang baik, bahkan demi kebaikan bersama.

Setiap Uskup Agung menghadapi tantangan yang khas di Gereja lokalnya. New York dalam banyak hal merupakan kota yang tidak ada duanya. Menurut Anda, apa tantangan terbesar yang dihadapi, dan peluang apa yang paling menjanjikan?

Seperti halnya setiap keuskupan di seluruh dunia, kami menghadapi banyak tantangan. Saya tidak akan menguraikan satu per satu tantangan yang saat ini sedang kami tangani secara sungguh-sungguh. Namun, di balik semua tantangan itu, saya juga melihat begitu banyak peluang.

Saya melihat bahwa New York, sebagaimana banyak tempat lain di Amerika Serikat dan di berbagai belahan dunia, sedang mengalami kebangkitan kembali kehidupan iman, khususnya di kalangan kaum muda.

Karena New York menjadi pusat berkumpulnya banyak kaum muda, kami menyaksikan kenyataan ini secara nyata. Orang-orang muda berusia 20-an dan 30-an tahun mulai kembali ke Gereja. Mereka mencari komunitas, ingin melayani, tetapi belum mengetahui bagaimana melakukannya.

Mereka ingin menjadikan dunia tempat yang lebih baik, dan Gereja mengetahui bagaimana mewujudkan iman dalam tindakan nyata, melalui pelayanan dan karya sukarela. Gereja memberi mereka arah dan wadah untuk mewujudkan kerinduan tersebut.

Saya melihat semua ini sebagai peluang yang sungguh besar.

Namun, bersamaan dengan itu, saya ingin memastikan bahwa kita tetap memberi perhatian besar pada pembinaan iman, pendidikan, katekese, dan evangelisasi.

Saya ingin memastikan bahwa kita memanfaatkan momentum ini untuk secara sadar membantu bukan hanya kaum muda, melainkan semua orang, agar semakin mengenal, mengasihi, dan melayani Tuhan.

Pada saat yang sama, kita harus terus menjadi Gereja yang tidak berpusat pada dirinya sendiri, melainkan Gereja yang bermisi dan melayani sesama.

Itulah tipe gembala yang saya perjuangkan untuk menjadi.

Ketika mendengarkan Paus Leo XIV berbicara kepada kami, saya melihat bahwa itulah pula tipe gembala yang beliau harapkan dari kami. Saya merasa hati saya sungguh bersatu dengan hati beliau.

Jika boleh bertanya secara pribadi, bagaimana Anda menemukan panggilan imamat?

Ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar imam dapat menyebut satu orang yang pertama kali mengajak mereka mempertimbangkan panggilan menjadi imam atau masuk seminari.

Saya pun memiliki pengalaman yang sama.

Ketika duduk di kelas enam sekolah dasar, ada seorang imam yang baru ditahbiskan. Bagi kami, ia adalah sosok pahlawan.

Suatu hari ia berkata kepada saya, "Saya rasa kamu akan menjadi imam yang baik. Kamu sebaiknya mempertimbangkan masuk seminari menengah."

Saat itu, gagasan tersebut sama sekali belum pernah terlintas dalam pikiran saya. Itu bukan rencana hidup saya ketika masih duduk di kelas enam.

Namun karena ia melihat sesuatu dalam diri saya dan mengungkapkannya, benih panggilan itu pun mulai bertumbuh.

Sejak pengalaman itu, saya masuk seminari pada usia 14 tahun dan terus menjalani pembinaan hingga akhirnya ditahbiskan menjadi imam. Selama masa pembinaan maupun pelayanan sebagai imam, saya juga terlibat dalam berbagai karya misioner.

Semua itu terjadi berkat seseorang yang berani mengajak saya, orang-orang yang mendukung saya, mereka yang mendoakan saya, dan sistem pembinaan Gereja yang mendidik serta membentuk saya sebelum akhirnya mengutus saya untuk bermisi sebagai imam.

Melihat kembali seluruh perjalanan itu, saya menyadari bahwa semuanya tidak terjadi secara kebetulan. Panggilan harus ditumbuhkan, dipelihara, dan diterima dengan sungguh-sungguh.

Karena itu saya tidak memiliki apa pun selain rasa syukur kepada semua orang yang telah memungkinkan perjalanan panggilan saya, maupun panggilan begitu banyak imam lainnya.

Dalam kehidupan rohani Anda, adakah doa atau devosi tertentu yang menjadi pegangan?

Saya sangat mencintai Ekaristi dan perayaan Misa Kudus.

Sebagai imam diosesan, Ekaristi—perayaan Kurban Kudus—merupakan pusat seluruh kehidupan doa saya.

Namun saya juga harus terus mempersatukan hati saya dengan Hati Yesus agar mampu melaksanakan kehendak Bapa.

Saya ingin meneladani Bunda Maria yang memperlihatkan secara sempurna bagaimana melaksanakan kehendak Allah sepanjang hidupnya, dimulai dari "ya"-nya yang pertama hingga setiap "ya" berikutnya.

Untuk itu saya harus berakar dalam doa.Sebagai seorang uskup, saya memastikan tidak ada satu hari pun berlalu tanpa menyediakan waktu khusus untuk berdoa.

Doa tidak cukup hanya beberapa menit dengan mendaraskan Salam Maria dan Bapa Kami, lalu selesai.Doa membutuhkan keheningan.

Saya berdoa melalui Ibadat Harian, menghabiskan waktu di hadapan Sakramen Mahakudus dalam adorasi Ekaristi, dan pada saat-saat hening itu saya berusaha mendengarkan Roh Kudus, membuka hati kepada Yesus, mempersatukan diri dengan-Nya, serta memohon agar dapat melaksanakan kehendak Bapa.

Paus Leo, mengikuti para pendahulunya, khususnya Paus Benediktus XVI, telah berbicara secara terbuka tentang tantangan relativisme. Bagaimana gereja terlibat dengn budaya yang semakin secular, dan membantu orang orang menemukan arti melalui Kebenaran, khususnya di New York?

Saya kir akita kadang mempunyai kerendahan hagi yang palsu, dan karena itu kita menolak berbagi keyakinan di luar kehidupan doa kita atau atau apa yang kita lakukan dalam Misa, kemudian iman kita dalam cangkang dan  Ketika bertemu dengan keluarga, tetangga dan pergi kerja di mana kita sama sekali tidak terhubung dengan mereka.

Saya kira kita harus melampaui itu. Iman kita harus berintegrasi. Tidak mengajari orang pindah agama  atau memukul kepala mereka dengan iman kita, tetapi kita dipanggil untuk berevangelisasi dan membantu memperkenalkan Yesus Kristus dan penyelamatanNya melalui Dia ke orang orang lain. Karena itu kita perlu melihat kesempatan untuk berdoa, bahkan dengan jemaat dari gereja lain. Kita harus mulai menemukan kesempatan ini.

Saya percaya mengapa kita melihat meningkatnya kaum muda untuk terlibat dalam iman adalah karena mereka melihat rusaknya dunia, akan bagaimana dunia kalau tidak terkait dengan iman atau tradisi moral, atau ke nilai nilai yang ada pada anda dan menuntun anda ke dunia yang mengatakan lakukan saja apa yang mau anda lakukan .

‘Kegembiraan adalah adalah milikmu, yang saya punya untuk saya’. Orang orang muda kea rah ithu sekarang dan tidak menemukannya dalam Gereja.

Banyak orang Amerika cemas atau tidak pasti tentang masa depan. Sebagai seorang imam, pesan pengharapan apa yang aka anda sampaikan kepada mereka?

Jangan pernah  kehilangan harapan. Yesus selalu bersama kita dalam  perahu kita. Dalam Injil hari ini, kita diingatkan bahwa ada badai, gelombang dan Yesus sedang tertidur… dan itu tidak berarti bahwa Yesus  tidak perduli. Yesus adalah damai sempurna, yang Dia bagikan bahwa damai  ada bagi semua orang yang mengikuti Dia.

Itulah pesan saya bahwa dalam semua masalah dan kesulitan, dan di dalam semua penderitaan dan tantangan yang kita punya, jangan pernah kehilangan  pesan harapan bahwa Yesus ada bersama kita dalam satu perahu.Apa yang Dia lakukan adalah mengundang kita semua untuk mengikuti Dia dan hidup dalam iman itu.

Dengarkan wawancara kami bersama Mgr. Hick dari New York (Bahasa Inggris)
01 Jul 2026, 13:01