Dialog Global PBB tentang Tata Kelola Kecerdasan Buatan (AI) Dialog Global PBB tentang Tata Kelola Kecerdasan Buatan (AI)  (ANSA)

Takhta Suci: Tata kelola AI yang Kuat Diperlukan untuk Pastikan AI Layani Umat Manusia

Uskup Agung Ettore Balestrero, Pengamat Tetap Takhta Suci untuk PBB di Jenewa, menekankan pentingnya mengembangkan tata kelola yang baik atas kecerdasan buatan (AI) guna memajukan martabat manusia, melayani umat manusia, serta menjamin akuntabilitas dan tanggung jawab.

Oleh Isabella H. de Carvalho

Kecerdasan buatan memerlukan tata kelola yang kuat agar dapat melayani umat manusia dan menghormati martabat manusia, demikian dikatakan Uskup Agung Ettore Balestrero, Nunsius Apostolik dan Pengamat Tetap Takhta Suci untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa serta organisasi-organisasi internasional lainnya di Jenewa, pada 7 Juli 2026.

Pernyataannya disampaikan dalam rangka Dialog Global pertama PBB tentang Tata Kelola AI yang berlangsung pada 6–7 Juli di Jenewa.

Perubahan besar memerlukan respons politik yang sepadan

“Kebutuhan akan tata kelola yang kuat tidak berarti menciptakan batasan-batasan terhadap AI demi batasan itu sendiri,” kata Uskup Agung Balestrero.

“Sebaliknya, hal itu merupakan prasyarat untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi diarahkan secara bermakna menuju cakrawala yang lebih luas, demi pelayanan bagi seluruh umat manusia, dengan tetap menghormati martabat yang dianugerahkan Allah kepada setiap pribadi dan kebaikan bersama.”

Delegasi Pengamat Tetap Takhta Suci menyambut baik penyelenggaraan Dialog Global AI pertama ini karena, “dari hari ke hari semakin jelas bahwa kita sedang hidup dalam suatu transformasi besar yang menyentuh setiap aspek kehidupan,” dan bahwa “perubahan yang begitu mendalam memerlukan respons politik yang sebanding dengan besarnya perubahan tersebut.”

Uskup Agung Balestrero menegaskan bahwa tata kelola yang baik berarti menggunakan AI “dengan cara yang tidak melibatkan pelimpahan atau penyerahan tanggung jawab kepada algoritma.”

Ia menambahkan bahwa setiap keputusan penting yang dibuat oleh sistem otomatis harus tetap berada di bawah pengawasan manusia, dan bahwa kecepatan serta efisiensi tidak boleh lebih diutamakan daripada dampaknya terhadap kehidupan manusia.

“Sesungguhnya, karena kausalitas moral sepenuhnya hanya dimiliki oleh pribadi manusia dan bukan oleh entitas buatan, maka jika AI hendak digunakan untuk menegakkan martabat manusia dan sungguh melayani kebaikan bersama, tanggung jawab atas penggunaannya harus tetap berada di tangan para pengambil keputusan manusia, dengan akuntabilitas yang dipertahankan pada setiap tahap,” tegasnya.

Pentingnya akuntabilitas dan tanggung jawab bersama

Menggemakan ensiklik Paus Leo XIV Magnifica Humanitas tentang perlindungan pribadi manusia di era kecerdasan buatan, Uskup Agung Balestrero juga menyoroti pentingnya memastikan AI bersifat transparan dalam pengambilan keputusan otomatis, guna menjamin “rantai akuntabilitas yang dapat menelusuri tanggung jawab dari para pengembang hingga para pengguna pada setiap tahap siklus hidup AI.”

Pengamat Tetap Takhta Suci itu juga menekankan perlunya mengembangkan bentuk-bentuk kerja sama yang menghormati berbagai tingkat komunitas global dan membantu menciptakan kerangka kerja bersama, sehingga “menjamin tanggung jawab bersama demi kebaikan bersama.”

“Dalam hal ini, konsentrasi teknologi di tangan segelintir korporasi yang sangat kuat dapat memperbesar dampak negatifnya secara signifikan, terutama dalam konteks yang ditandai oleh kurangnya kerangka etika yang memadai dan lembaga-lembaga yang mampu menghadapi tantangan tersebut,” lanjutnya.

Uskup Agung Balestrero juga menegaskan kembali komitmen Takhta Suci “untuk terlibat secara aktif dalam percakapan mengenai kecerdasan buatan” serta kesiapan untuk ambil bagian dalam dialog yang konstruktif demi melindungi martabat manusia di era AI.

08 Jul 2026, 13:08