TOPSHOT-PALESTINIAN-ISRAEL-CONFLICT-AID

Takhta Suci: Penghalangan bantuan ke Gaza merupakan pelanggaran berat hukum humaniter internasional

Takhta Suci menegaskan kembali dukungan finansialnya kepada UNRWA di Perserikatan Bangsa-Bangsa, seraya menyerukan perlindungan bagi warga sipil dan pekerja kemanusiaan, penyaluran bantuan tanpa hambatan ke Gaza, serta dukungan internasional yang diperbarui bagi misi penting badan tersebut.

Vatican News

Takhta Suci kembali menegaskan dukungan finansialnya kepada Badan Pekerjaan dan Pemulihan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat. (UNRWA) dengan menyebut badan tersebut sebagai "tumpuan hidup yang sangat penting" bagi jutaan pengungsi Palestina. Takhta Suci juga mendesak komunitas internasional untuk memastikan agar karya UNRWA dapat terus berlangsung tanpa hambatan.

Dalam pidatonya di hadapan Komite Ad Hoc Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Pengumuman Kontribusi Sukarela kepada UNRWA, pada hari Selasa, Misi Pengamat Tetap Takhta Suci untuk PBB menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi kemanusiaan di wilayah Palestina yang diduduki, khususnya di Gaza, di mana warga sipil terus mengalami kekerasan, pengungsian, dan penderitaan yang berat.

"Selama lebih dari tujuh dekade, UNRWA telah menyediakan pendidikan, layanan kesehatan, bantuan pangan, dan pelayanan sosial," demikian disampaikan Takhta Suci, seraya menegaskan bahwa badan tersebut tidak hanya memberikan bantuan praktis, tetapi juga "kesempatan untuk hidup secara bermartabat."

Mengutuk serangan terhadap fasilitas dan personel UNRWA

Takhta Suci mengecam pembunuhan terhadap personel UNRWA serta serangan terhadap fasilitas milik badan tersebut, termasuk sekolah-sekolah dan bangunan lain yang menjadi tempat perlindungan bagi warga sipil. Takhta Suci juga menyerukan perlindungan bagi para pekerja kemanusiaan beserta infrastruktur kemanusiaan, serta menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan, terutama di Gaza, harus dapat disalurkan dengan aman dan tanpa hambatan.

"Perbuatan semacam itu memperparah penderitaan mereka yang telah hidup dalam kondisi yang sangat rentan dan merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional," tegas Takhta Suci.

Seruan tersebut disampaikan di tengah situasi kemanusiaan di seluruh Wilayah Palestina yang Diduduki yang terus memburuk. Meskipun gencatan senjata diumumkan pada akhir tahun 2025, kekerasan masih terus berlangsung di Gaza. Sementara itu, berbagai lembaga bantuan memperingatkan bahwa pembatasan akses, kekurangan dana, dan kerusakan infrastruktur sipil terus menghambat upaya penyaluran bantuan.

Lebih dari 70 persen penduduk Gaza kini bergantung pada pasokan air yang diangkut dengan truk, sementara kekurangan tempat tinggal, layanan kesehatan, dan sanitasi masih berada pada tingkat yang sangat memprihatinkan.


Di ambang titik kritis

Pada saat yang sama, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memperingatkan bahwa UNRWA sendiri kini berada di ambang "titik kritis" akibat kekurangan dana sekitar 100 juta dolar Amerika Serikat. Badan tersebut telah mengurangi berbagai layanannya dan menerapkan langkah-langkah penghematan, meskipun tetap melayani jutaan pengungsi Palestina di Gaza, Tepi Barat, Yordania, Lebanon, dan Suriah.

Dalam konteks tersebut, Takhta Suci mengumumkan pembaruan komitmen dukungan finansialnya kepada UNRWA. Kontribusi tersebut disebut sebagai "ungkapan nyata solidaritas kepada para pengungsi Palestina dan kepercayaan terhadap misi kemanusiaan badan tersebut."

Takhta Suci juga menegaskan bahwa UNRWA membutuhkan "dukungan yang memadai, dapat diprediksi, dan berkelanjutan" agar dapat menjalankan mandatnya secara efektif. Ditekankan pula bahwa karya badan tersebut harus senantiasa berlandaskan prinsip-prinsip kemanusiaan, netralitas, ketidakberpihakan, dan independensi, yang menjadi syarat utama untuk menjaga kredibilitas dan efektivitasnya.

Menutup pernyataannya, Takhta Suci kembali menegaskan pentingnya menjaga mandat UNRWA, seraya mengingatkan bahwa badan tersebut didirikan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1949. Oleh karena itu, setiap pembahasan mengenai masa depan UNRWA hendaknya dilakukan dalam kerangka multilateral tersebut, bukan melalui langkah-langkah sepihak.

01 Jul 2026, 16:09