Foto arsip Kardinal Blase Joseph Cupich Foto arsip Kardinal Blase Joseph Cupich  (2025 Getty Images)

Kardinal Cupich: Sinodalitas itu seperti menari

Dalam refleksinya untuk Vatican Media, Kardinal Blase Joseph Cupich menggunakan tarian tradisional Kroasia, kolo, sebagai gambaran perjalanan sinodal Gereja. Ia mengatakan Gereja dipanggil untuk bergerak dari penampilan individual menuju harmoni bersama dengan mendengarkan “melodi ilahi” yang menuntun kehidupan dan misinya.

Oleh Kardinal Blase Joseph Cupich

Perkenalan pertama saya dengan seni menari bukanlah ketika remaja menghadiri pesta dansa. Itu terjadi pada malam Rabu ketika saya bersama saudara-saudara kandung, para sepupu, dan anak-anak lain dari paroki berkumpul di aula gereja untuk belajar tarian rakyat Kroasia. Gaya tarian itu disebut kolo, sebuah kata yang berarti lingkaran, karena para penari saling bergandengan tangan atau berpegangan di pinggang untuk menari, sering kali dengan langkah-langkah sinkopasi, dalam formasi lingkaran atau rantai.

Kami diberi tahu bahwa di “tanah asal”, kolo merupakan sarana bersosialisasi, pusat kehidupan sosial desa, dan sering kali menjadi tempat utama bagi para pemuda dan pemudi untuk saling mengenal.

Harus saya akui, ketika pertama kali mendengar kata sinodalitas, istilah itu terasa asing di telinga saya. Seiring waktu, saya memperoleh pemahaman yang lebih baik ketika mendalami berbagai penjelasannya. Saya masih menganggap dokumen tahun 2018, Synodality in the Life and Mission of the Church, yang diterbitkan oleh Komisi Teologi Internasional, sangat membantu.

Namun suatu hari saya menyadari bahwa pengalaman saya menari kolo dan berbagai unsur yang terkandung di dalamnya menawarkan banyak hal untuk memahami sinodalitas. Seperti halnya tarian, sinodalitas juga menyediakan sarana untuk bersosialisasi, tetapi dalam kehidupan Gereja.

Pada intinya, sinodalitas, yang berasal dari kata Yunani synodos, berarti “berjalan bersama” atau “menempuh jalan yang sama”. Karena itu, sinodalitas mengundang seluruh komunitas untuk bertanggung jawab bergerak maju secara bersama-sama, dengan memperhatikan Roh Kudus dan satu sama lain.

Baik tarian maupun sinodalitas menuntut pergeseran dari penampilan individual menuju harmoni kolektif, mengubah sekelompok individu yang berbeda menjadi satu tubuh yang bergerak bersama.

Bagaimana irama tarian mencerminkan semangat sinodalitas?

Dalam tarian, gerakan tidak pernah dimulai dari ruang kosong; gerakan dimulai dari musik. Sebelum para penari dapat melangkah, mereka harus membangun keheningan yang mendalam dan penuh perhatian untuk menghayati irama, tempo, dan suasana musik tersebut.

Sinodalitas bekerja dengan cara yang persis sama. Langkah dasarnya bukanlah berbicara atau membuat kebijakan, melainkan mendengarkan secara mendalam—mendengarkan Roh Kudus, Kitab Suci, tradisi, dan saling mendengarkan dengan penuh perhatian, terutama mereka yang berada di pinggiran.

Sama seperti seorang penari yang mengabaikan musik akan terputus dari keseluruhan pertunjukan, anggota komunitas yang gagal mendengarkan akan berhenti bertindak secara sinodal. Mendengarkan irama bersama memastikan bahwa setiap orang bergerak mengikuti lagu yang sama.

Sebuah koreografi rumit seperti kolo memiliki peran-peran yang berbeda, meskipun semua orang bergerak pada saat yang sama. Namun, sekalipun seorang pemimpin memberikan arahan, kepemimpinan itu bukanlah soal dominasi atau mengendalikan hasil, melainkan menciptakan ruang aman bagi yang lain untuk bersinar dan bergerak dengan mantap.

Inilah definisi sejati dari tanggung jawab bersama dalam kerangka sinodal. Hirarki, kaum awam, komunitas religius, dan para teolog semuanya memiliki karisma dan peran yang berbeda. Sinodalitas tidak menghapus perbedaan-perbedaan itu; sebaliknya, seperti seorang koreografer ulung, sinodalitas merangkainya menjadi satu kesatuan.

Keindahan tarian bergantung pada kenyataan bahwa gerakan setiap penari diperlukan agar keseluruhan pertunjukan dapat berjalan dengan baik.

Kreativitas dan kemampuan beradaptasi

Menari juga melibatkan kreativitas dan kemampuan beradaptasi. Para penari harus menghadapi tarikan gravitasi dengan mengangkat kaki mereka, menyesuaikan diri dengan berat dan momentum pasangan mereka, serta beradaptasi ketika terjadi kesalahan langkah.

Sinodalitas menuntut kesediaan untuk melangkah ke arena tanpa hasil yang telah ditentukan secara kaku sebelumnya. Bahkan, pada hakikatnya sinodalitas merupakan perjalanan menuju wilayah yang belum dipetakan.

Sinodalitas merangkul ketegangan kreatif dari dialog, dengan menyadari bahwa Roh Kudus dapat mengganggu rutinitas yang telah kita rencanakan dengan rapi.

Ketika sebuah komunitas menghadapi ketegangan atau perbedaan pendapat, sinodalitas meminta mereka untuk tidak meninggalkan panggung, melainkan menggunakan gesekan itu untuk berputar, menyesuaikan diri, dan menemukan jalan baru bersama.

Dan sama seperti para penari harus menghindari menginjak kaki satu sama lain, mengubah dialog sinodal menjadi pertengkaran juga merupakan langkah yang keliru.

Menyadari ruang dan batas-batasnya

Selain itu, menari membutuhkan kesadaran ruang. Lantai dansa tidak pernah tak terbatas. Para penari perlu memperhatikan ukuran lantai agar tersedia ruang bagi semua orang.

Jika para penari mengabaikan batas-batas yang ada, mereka berisiko terjatuh ke sisi panggung, bertabrakan dengan orkestra, atau tersesat ke dalam kegelapan tempat gerakan kehilangan bentuk dan maknanya.

Demikian pula, jalan sinodal memperluas kemah. Jalan ini mengajak komunitas untuk melihat siapa yang belum hadir di lantai dansa dan secara aktif mengundang mereka masuk.

Jalan ini juga meminta mereka yang terbiasa berada di pusat perhatian untuk mundur selangkah, agar irama komunitas dapat mengakomodasi langkah dan kecepatan semua orang, bukan hanya mereka yang paling berpengalaman.

Namun, sebagaimana para penari masa kini memperhatikan dimensi lantai dansa demi mengakomodasi semua yang hadir, mereka juga menyadari bahwa tepi-tepinya, pilar-pilar strukturnya, dan batas arsitektural tertentu telah dirancang oleh orang-orang sebelum mereka.

Lantai itu dicor, diratakan, dan dipoles oleh generasi-generasi penari yang telah datang lebih dahulu.

Generasi kami yang belajar menari di aula paroki menyadari bahwa langkah-langkah kami telah dipetakan puluhan bahkan ratusan tahun sebelumnya dan diwariskan melalui rantai memori yang hidup.

Kesadaran ini tidak membatasi kreativitas kami. Justru itulah syarat yang memungkinkan tarian kami terjadi. Tugas kami adalah menghadirkan napas, energi, dan konteks budaya kami sendiri ke dalam pertunjukan tersebut.

Dimensi waktu dalam sinodalitas

Sinodalitas bekerja melintasi waktu dengan cara yang sama. Sinodalitas tidak hanya berdialog dengan mereka yang hidup pada masa kini, tetapi juga dengan mereka yang telah meninggal dan mereka yang belum lahir.

Karena itu, sebagaimana diamati oleh salah seorang rekan Kardinal saya, selain pendekatan sinodalitas yang sinkronis—yang memperhatikan kontribusi generasi saat ini—diperlukan pula pendekatan diakronis yang melintasi waktu, agar “tirani masa kini” tidak merusak sinodalitas yang autentik.

Pendekatan diakronis memastikan bahwa suara para kudus, para Bapa Gereja, dan para Ibu Gereja turut memiliki suara dalam proses discernment saat ini, sehingga komunitas lokal tidak hanyut ke dalam tren budaya sesaat yang memecah kesatuan historis.

Batas-batas ajaran Gereja yang bersifat diakronis, alih-alih membungkam Roh Kudus, justru menyalurkan kreativitas ilahi.

Ketika komunitas sinodal masa kini menghormati dimensi lantai yang telah dipersiapkan dan digunakan oleh generasi sebelumnya, mereka berhenti membuang energi untuk merobohkan dinding teater. Sebaliknya, mereka menemukan kebebasan yang luar biasa dalam batas-batas itu dan menemukan cara-cara baru, kreatif, dan pastoral untuk mengungkapkan kebenaran yang abadi kepada dunia modern.

Dimensi sinkronis dan diakronis harus dijaga dalam ketegangan yang sehat.

Godaan umum dalam percakapan masa kini adalah memandang sinodalitas sebagai upaya menulis ulang aturan dari nol—seolah-olah kelompok saat ini dapat memperluas lantai sesuka hati atau bahkan melompat keluar darinya.

Langkah sinodal yang sejati selalu diambil di atas lantai itu, dengan menyadari bahwa discernment modern tidak terjadi dalam ruang hampa.

Batas-batas yang ditetapkan oleh Kitab Suci, dogma, dan konsili-konsili historis bukanlah penjara yang membatasi; semuanya merupakan parameter stabil yang memberikan konteks, keamanan, dan legitimasi bagi gerakan kita saat ini.

Pendekatan sinkronis bertanya: “Bagaimana kita menari bersama mereka yang berada di ruangan ini hari ini?” Ini penting demi inklusivitas.

Namun pendekatan diakronis menambahkan pertanyaan: “Bagaimana tarian kita menghormati koreografer awal, dan bagaimana kita mewariskan koreografi itu dengan setia kepada generasi berikutnya?”

Keindahan kreatif sinodalitas

Dengan memadukan dimensi sinkronis dan diakronis, sinodalitas mencapai keindahan kreatifnya yang utuh.

Gereja dipanggil untuk sangat peka terhadap para penari yang berada di lantai hari ini—sukacita mereka, luka-luka mereka, dan irama khas mereka. Namun Gereja juga harus tetap memperhatikan lantai historis yang menopangnya.

Ketika kita menghormati dimensi lantai dansa itu, perjalanan sinodal tidak lagi menjadi improvisasi yang panik dan terisolasi dari masa kini.

Sebaliknya, perjalanan itu menjadi bagian dari sebuah pertunjukan besar yang tak terputus, sebuah balet abadi di mana langkah-langkah masa lalu membimbing gerakan masa kini, membawa seluruh tubuh dengan aman melintasi panggung menuju keabadian.

Memandang sinodalitas melalui lensa tarian menyelamatkan kata dan konsep yang mungkin terdengar asing ini dari dunia birokrasi yang kering, komite-komite, dan tumpukan dokumen.

Pandangan ini membingkai ulang perjalanan bersama sebagai sesuatu yang dinamis, penuh sukacita, dan sungguh berakar dalam pengalaman manusia.

Sinodalitas adalah Gereja yang sedang belajar menari.

Sinodalitas adalah praktik berkelanjutan untuk mendengarkan melodi ilahi, menghormati langkah unik setiap peserta, dan bergerak maju bersama sebagai kesaksian yang indah dan terkoordinasi bagi dunia.

Sinodalitas mengingatkan kita bahwa tujuannya bukan mencapai akhir lagu secepat mungkin, melainkan memuji Sang Pencipta melalui rahmat, persatuan, dan kasih yang tampak dalam setiap langkah sepanjang perjalanan.

Cerminan misteri Tritunggal

Namun lebih dari itu. Sinodalitas yang dipandang sebagai tarian juga membuka penghargaan yang lebih mendalam tentang bagaimana Gereja dipanggil untuk mencerminkan misteri Tritunggal.

Para Bapa Gereja awal berbicara tentang perichoresis, yang secara harfiah berarti “saling menari mengelilingi”, ketika menjelaskan misteri Tritunggal.

Melalui gambaran ini, mereka ingin menjelaskan keberadaan yang saling tinggal satu di dalam yang lain dari tiga Pribadi Ilahi Tritunggal.

Karena itu, Gereja akan semakin efektif mencerminkan misteri Tritunggal sejauh ia semakin merangkul tarian sinodalitas.

08 Jul 2026, 15:00