Kardinal Parolin Serukan Dimulainya Kembali Perundingan dengan Iran, Perdamaian di Ukraina Masih Sulit Terwujud
Oleh Edoardo Giribaldi
"Sayangnya, menurut saya kita justru sedang bergerak ke arah yang berlawanan. Yang terjadi adalah eskalasi, sementara prospek perdamaian masih belum terlihat."
Demikian disampaikan Kardinal Sekretaris Negara Vatikan, Pietro Parolin, saat menjawab pertanyaan para jurnalis di sela-sela peluncuran buku karya Antonio Preziosi berjudul Easter of Peace: From John XXIII to Leo XIV Towards the Jubilee of 2033, yang berlangsung pada Rabu sore, 22 Juli, di Palazzo Borromeo, kantor Kedutaan Besar Italia untuk Takhta Suci.
Menanggapi perkembangan terbaru perang di Ukraina, Kardinal Parolin mengungkapkan bahwa menurut Uskup Agung Paul Richard Gallagher, Sekretaris untuk Hubungan dengan Negara-Negara dan Organisasi Internasional, yang baru saja kembali dari negara yang dilanda perang tersebut, "malam antara Minggu dan Senin menjadi salah satu malam dengan serangan paling dahsyat."
Harapan agar Perundingan dengan Iran Kembali Dilanjutkan
Berbicara mengenai Iran, Kardinal Sekretaris Negara mengatakan bahwa Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) kini sudah tidak lagi berlaku dan menyampaikan keprihatinannya atas perkembangan situasi yang terjadi.
"Saya tidak tahu bagaimana semuanya akan berakhir. Saya rasa sangat sedikit orang yang mengetahuinya—bahkan mungkin tidak seorang pun," ujarnya, sambil mengingat harapan bahwa perjanjian yang pernah ditandatangani itu akan terbukti efektif.
Ia berharap perundingan dapat segera dimulai kembali guna mencapai sebuah kesepakatan yang bersifat permanen, "demi kebaikan negara tersebut dan juga demi kebaikan dunia," sebab "situasi seperti ini membahayakan perdamaian."
"Tidak untuk Tembok, Ya untuk Jembatan"
Menanggapi laporan mengenai pembangunan tembok oleh militer Israel di Jalur Gaza, Kardinal Parolin kembali menegaskan sikap Takhta Suci.
"Kita dapat merangkumnya dalam sebuah slogan: tidak untuk tembok, ya untuk jembatan," katanya, seraya menjelaskan bahwa prinsip tersebut juga mencerminkan penilaian Vatikan terhadap langkah tersebut.
"Kekerasan Tidak Pernah Membawa Hasil"
Kardinal Parolin juga menanggapi aksi kekerasan yang terjadi di Kota Bologna, Italia, setelah meninggalnya Abderrahim Fakir, yang dijatuhkan ke tanah oleh aparat kepolisian. Ia mengungkapkan rasa dukanya atas peristiwa tersebut.
"Saya hanya berharap kebenaran dapat diungkap," ujarnya, seraya menekankan bahwa penyelidikan yang diperlukan harus dilakukan "dalam suasana yang tenang, dan tentu saja tanpa kekerasan."
"Kekerasan tidak pernah membawa hasil," tambahnya.
Peran Gereja dalam Mendorong Perdamaian
Pada kesempatan itu Kardinal Parolin kembali menegaskan komitmen Gereja untuk terus memajukan dialog dan perdamaian. Pernyataan tersebut juga disampaikan di tengah kerasnya perdebatan publik di Italia setelah pengusaha perhiasan Mario Roggero dijatuhi hukuman karena menewaskan dua perampok dan melukai seorang lainnya setelah aksi perampokan di tokonya pada tahun 2021.
"Gereja terus menyampaikan kata-kata yang dapat menjadi pelayanan bagi banyak orang," katanya, sambil mengingat Perumpamaan tentang Penabur dan mengungkapkan harapannya agar kata-kata tersebut "menghasilkan buah."
"Gereja tidak pernah lelah mengulangi pesan ini," tuturnya sebagai penutup. "Apa pun hasil yang dapat dicapai, kita harus terus menegaskan nilai-nilai tersebut karena sangat penting bagi terciptanya kehidupan bersama yang damai dan membangun."
Refleksi tentang Misi Perdamaian Gereja
Kardinal Parolin juga menjadi salah satu pembicara dalam peluncuran buku Antonio Preziosi, Easter of Peace: From John XXIII to Leo XIV Towards the Jubilee of 2033. Dalam kesempatan itu ia merefleksikan komitmen Gereja yang terus berlanjut dalam memperjuangkan perdamaian sepanjang masa kepausan setelah Konsili Vatikan II.
Ia menggambarkan adanya sebuah "estafet" yang menghubungkan para Penerus Santo Petrus, di mana setiap Paus menyumbangkan "kepingan baru" bagi "mozaik" harmoni internasional melalui kata-kata maupun tindakan nyata yang mendukung dialog, rekonsiliasi, dan perdamaian.
Mengingat kembali berbagai seruan mulai dari ensiklik Pacem in Terris Santo Yohanes XXIII, seruan Santo Paulus VI "Jangan ada lagi perang!", kecaman Paus Fransiskus terhadap "Perang Dunia Ketiga yang berlangsung sepotong-sepotong," hingga penegasan Paus Leo XIV bahwa "perang tidak pernah layak bagi kemanusiaan," Kardinal Parolin mengatakan bahwa Gereja harus terus mengupayakan apa yang ia sebut sebagai "Paskah Perdamaian."
Ia juga menyoroti dimensi ekumenis dalam buku karya Preziosi tersebut, seraya mengungkapkan harapannya agar perjalanan menuju Yubileum Luar Biasa 2033 dapat semakin mendorong persatuan umat Kristiani sekaligus memperkuat upaya mengatasi perpecahan melalui dialog, diplomasi, dan rekonsiliasi.