5 Karya Instalasi Conciliazione Pan Daijing Ajak Pengunjung Lampaui Kegelapan
Oleh Eugenio Murrali dan Francesca Merlo
Seberkas cahaya yang menerobos kegelapan. Sebuah karya penciptaan yang sekaligus menyembunyikan dan menyingkapkan, mengundang siapa pun yang menjumpainya untuk mencari lebih dalam.
Diciptakan oleh seniman Tiongkok Pan Daijing, bab kedua dari seri Reading, Again yang diselenggarakan Dikasteri untuk Kebudayaan dan Pendidikan—sekali lagi dikurasi oleh Donatien Grau untuk Conciliazione 5, ruang pameran di Roma—bukanlah karya yang langsung menampilkan dirinya begitu saja. Sebaliknya, karya ini perlahan-lahan terbuka melalui partisipasi aktif para pengunjung.
Saat memperkenalkan sang seniman dan karyanya pada malam 2 Juli di Aula Santo Pius X, Kardinal José Tolentino de Mendonça, Prefek Dikasteri tersebut, mengatakan bahwa instalasi Daijing “mengajak masing-masing dari kita untuk tetap hadir dan membiarkan diri disentuh” oleh emosi kita.
Menurut Kardinal, karya itu menawarkan cara yang “sangat orisinal” untuk mendekati aktivitas membaca—bukan sebagai proses cepat menguraikan tanda-tanda, melainkan sebagai pengalaman manusia yang mendalam: sebuah tindakan yang melibatkan telinga sebelum mata, tubuh sebelum intelek, dan penantian sebelum pemahaman.
Bukan sekadar memahami, katanya, melainkan menghuni dan belajar tinggal di dalam pengalaman itu.
Mengutip Paus Leo XIV, ia menambahkan: “Kita memiliki tugas mendesak untuk tetap sungguh manusiawi, dengan penuh kasih menjaga kemanusiaan agung yang telah dipercayakan kepada kita.”
Menemukan keheningan
Ruang pameran yang kecil namun berharga itu, yang terbuka langsung ke jalan dan selalu terlihat oleh para pejalan kaki, lebih dari sekadar galeri. Tempat itu menjadi sebuah buku tersendiri, yang mengundang para pengunjung untuk membenamkan bukan hanya mata mereka, tetapi juga pikiran dan jiwa mereka.
“Saya pikir ini adalah sebuah upaya—atau mungkin sebuah undangan—untuk tetap memiliki rasa ingin tahu terhadap diri kita sendiri,” kata Daijing.
Karyanya mengajak orang melintasi sebuah ambang batas.
“Ini berbicara tentang membaca, refleksi, ambang batas, tentang melihat tempat-tempat yang biasanya tidak dapat kita akses,” jelasnya. “Bukan karena kita tidak mampu, tetapi mungkin karena dunia telah menjadi terlalu bising.”
Bagi Daijing, sangat penting untuk “menemukan keheningan di dalam diri kita.”
Namun, tegasnya, “keheningan tidak berarti diam. Keheningan juga berarti gerak dan pertumbuhan.”
Di dalam ruang itu, “kita dapat bersikap jujur—atau setidaknya berusaha jujur—terhadap perasaan dan impian kita.”
Praktik artistiknya merupakan upaya berkelanjutan untuk berinteraksi dengan berbagai lapisan realitas melalui pengalaman yang terus berkembang.
“Itulah juga alasan saya membuat karya seni,” katanya. “Melalui proses mencipta, saya memperoleh akses menuju pemahaman, kesadaran, dan pengenalan yang lebih mendalam terhadap diri saya sendiri.”
Alegori gua
“Indah sekaligus menantang,” kata Kardinal Tolentino de Mendonça, “bahwa Pan telah mengubah galeri Conciliazione 5 menjadi sebuah gua—tempat arketipal di mana persepsi diuji.”
Kardinal itu mengingatkan kembali gua Plato sebagai alegori pengetahuan: sebuah perjalanan keluar dari keterkungkungan menuju realitas yang lebih dalam dan lebih benar.
Ia kemudian merujuk kepada Santo Agustinus yang dalam Buku X Confessiones menggambarkan gua sebagai memori.
Alih-alih menjadi tempat ketidaktahuan, gua menjadi arsip jiwa—gudang hidup yang dibawa setiap orang di dalam dirinya sebagai sumber daya sekaligus kemungkinan.
Merenungkan lebih jauh karya Daijing, Kardinal mengatakan bahwa “bahasa artistik Pan Daijing tidak pernah sekadar menyampaikan informasi. Bahasa itu menjadi ruang di mana kegelapan sendiri berubah menjadi sarana pengetahuan.”