Cari

Empty maternity wards and men mobilized for war: Ukraine’s population is shrinking fast

Takhta Suci: Komunitas Internasional Perlu Tingkatkan Upaya Lindungi Anak-anak di Tengah Perang

Misi Pemantau Tetap Takhta Suci untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan sebuah pernyataan yang menyerukan kepada negara-negara dan komunitas internasional agar meningkatkan upaya melindungi anak-anak serta kelompok rentan yang terdampak konflik dan peperangan.

Oleh Isabella H. de Carvalho

Di tengah konflik yang masih melanda banyak negara di berbagai belahan dunia, komunitas internasional perlu meningkatkan upayanya untuk melindungi anak-anak dan korban perang lainnya yang rentan. Hal itu ditegaskan Misi Pemantau Tetap Takhta Suci untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sebuah pernyataan yang disampaikan pada Debat Terbuka Dewan Keamanan PBB mengenai Anak-anak dan Konflik Bersenjata di New York, 25 Juni.

"Komunitas internasional tidak boleh gagal menjalankan tanggung jawabnya untuk melindungi kehidupan, martabat, dan masa depan anak-anak yang terdampak konflik bersenjata," demikian ditegaskan dalam pernyataan tersebut.

Pernyataan itu menambahkan bahwa, "Respons terhadap penderitaan mereka akan menjadi ukuran komitmen terhadap hukum internasional sekaligus penghormatan terhadap martabat setiap pribadi manusia yang dianugerahkan Allah."

Anak-anak menanggung beban terbesar akibat konflik

Misi Pemantau Tetap Takhta Suci mencatat bahwa "anak-anak terus menanggung porsi penderitaan yang tidak seimbang akibat konflik bersenjata." Banyak dari mereka tewas atau terluka di tempat-tempat yang seharusnya aman, seperti rumah, sekolah, rumah sakit, maupun tempat ibadah.

"Yang lainnya harus hidup dengan dampak kekerasan jauh setelah pertempuran berakhir, mengalami trauma, disabilitas, dan kehilangan," lanjut pernyataan tersebut, seraya menyoroti meningkatnya pelanggaran berat terhadap anak-anak dalam konflik bersenjata yang telah terdokumentasi dan seharusnya mendorong tindakan nyata.

"Takhta Suci tetap memberikan perhatian khusus terhadap berlanjutnya perekrutan, penyiksaan, dan penculikan anak-anak," demikian ditegaskan dalam pernyataan itu.

"Pelanggaran-pelanggaran berat tersebut merampas masa kanak-kanak mereka, memisahkan mereka dari keluarga dan komunitasnya, serta membuat mereka rentan terhadap kekerasan dan eksploitasi yang meninggalkan dampak jangka panjang. Hal yang sama memprihatinkannya adalah dampak pengungsian, perpisahan keluarga, serta terganggunya pendidikan dan layanan kesehatan, karena semua itu merampas kondisi yang diperlukan bagi kesejahteraan dan perkembangan manusia seutuhnya bagi tak terhitung banyaknya anak."

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa situasi-situasi tersebut merupakan penghinaan terhadap martabat setiap anak yang dianugerahkan Allah dan tidak boleh dipandang sekadar sebagai dampak sampingan (collateral damage) dari peperangan.

Tanggung jawab negara

Misi Pemantau Tetap Takhta Suci juga menyampaikan keprihatinannya terhadap semakin luasnya penggunaan teknologi baru, seperti "sistem tanpa awak dan sistem yang didukung kecerdasan buatan (AI)," dalam operasi militer. Menurut Takhta Suci, perkembangan ini juga berkaitan erat dengan perlindungan anak-anak.

Mengutip ensiklik pertama Paus Leo XIV, Magnifica humanitas, pernyataan tersebut menegaskan bahwa "meskipun teknologi dapat membantu manusia dalam proses pengambilan keputusan, teknologi tidak pernah dapat menggantikan penilaian moral, tanggung jawab, dan akuntabilitas yang harus menyertai setiap keputusan yang menyangkut kehidupan manusia."

"Karena itu, Takhta Suci mendesak semua pihak yang terlibat dalam konflik agar sepenuhnya mematuhi hukum humaniter internasional dan menjunjung tinggi hukum hak asasi manusia internasional, sehingga perlindungan khusus yang diberikan kepada anak-anak dihormati dalam segala situasi," tegas pernyataan tersebut.

Takhta Suci juga menekankan tanggung jawab setiap negara untuk melindungi warga sipil dari dampak permusuhan serta memperkuat mekanisme pertanggungjawaban atas berbagai pelanggaran terhadap anak-anak.

Sebagai penutup, Takhta Suci mendorong seluruh negara yang belum melakukannya untuk mendukung Deklarasi Politik tentang Penguatan Perlindungan Warga Sipil dari Konsekuensi Kemanusiaan akibat Penggunaan Senjata Peledak di Kawasan Berpenduduk, sebuah komitmen internasional yang diadopsi pada tahun 2022.

26 Jun 2026, 15:31